BEKU DI ISLANDIA, BONYOK DI MARKAS MAFIA
BAB 1: Nasib Setipis Tisu Dibagi Tujuh
BAB 1: Nasib Setipis Tisu Dibagi Tujuh
Nama gue Vino. Lengkapnya Vino Alexander Ginting, tapi tolong jangan bayangkan gue sekeren atlet bulu tangkis atau seliper aktor layar lebar. Muka gue lebih condong ke arah "stiker WhatsApp yang gagal loading". Hari ini, gue berdiri di tengah alun-alun kota Reykjavik, Islandia. Kenapa gue di sini? Panjang ceritanya. Intinya, gue tertipu iklan "Kerja Luar Negeri Gaji Euro" yang ternyata malah menempatkan gue sebagai Badut Ulang Tahun di negara yang suhunya bikin gigi gue bunyi trek-tek-tek kayak mesin jahit rusak.
Masalahnya bukan cuma dingin. Masalah utamanya adalah: Gue. Phobia. Balon.
Iya, silakan ketawa. Seorang badut yang takut balon itu ibarat drakula yang alergi darah atau koruptor yang mendadak jujur. Mustahil, tapi nyata. Setiap kali gue dengar suara karet balon digosok-gosok, bulu kuduk gue berdiri lebih tegak daripada tiang bendera pas upacara 17 Agustusan.
"Vino! Come on! Tiup itu balonnya! Anak-anak sudah menunggu!" teriak bos gue, Mr. Bjorn, pria Islandia yang badannya sebesar lemari dua pintu dan aromanya seperti ikan asin yang difermentasi tiga tahun.
"Aduh, Sir, saya rasa paru-paru saya lagi mogok kerja. Kayaknya mereka butuh cuti melahirkan," sahut gue sambil memegang kostum badut gue yang warnanya kuning mencolok—persis pisang yang menderita penyakit kuning.
Gue menatap tumpukan balon di depan gue dengan tatapan ngeri. Bagi orang normal, itu cuma karet bulat warna-warni. Bagi gue, itu adalah bom atom yang siap meledakkan jantung gue kapan saja. Gue mencoba meniup satu balon merah. Baru setengah jalan, suara cit-cit dari karetnya bikin nyali gue ciut.
"Ayo, Vino! Jangan payah! Kamu ini dari Indonesia, katanya orangnya kuat-kuat!" seru Omen, sohib gue yang ikut terdampar di sini.
Omen ini Sidekick gue yang paling ajaib. Dia pinter teori, saking pinternya dia tahu jenis-jenis awan tapi nggak tahu cara nyalain kompor gas tanpa bikin alisnya gosong. Dia pake kacamata tebel yang saking tebelnya bisa dipake buat bakar sate kalau ada matahari.
"Men, lu nggak ngerti. Balon ini... mereka menatap gue dengan penuh dendam," bisik gue gemetar.
"Itu cuma imajinasi lu yang ketinggian, Vin! Udah, buruan! Kalau nggak selesai, kita nggak makan malem ini. Gue udah bosen makan es batu pake kecap!"
Gue menghela napas. Oke, demi sesuap nasi dan seteguk air keran Islandia, gue harus berani. Gue ambil balon kuning, gue tiup sekuat tenaga...
DUARRRR!
Balonnya pecah tepat di depan hidung gue. Pandangan gue langsung gelap. Jantung gue kayak mau copot dari kabelnya. Refleks, gue loncat ke belakang, kaki gue kesrimpet sepatu badut yang ukurannya sebesar kapal induk, dan... GUBRAK! Gue terjatuh indah dengan posisi kepala duluan masuk ke dalam tempat sampah besi.
"Wah, atraksi yang bagus, Vin! Anak-anak tepuk tangan tuh!" seru Omen tanpa dosa.
Gue cuma bisa merintih dari dalam tong sampah. Sabar, Vin... sabar. Orang sabar pantatnya lebar, pikir gue nelangsa.