BAB 1

Bab 1 : Tragedi Subuh di Puncak Bunga Plum

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 1 : Tragedi Subuh di Puncak Bunga Plum

🗓 05 Jun 2025 👁 720 Views

Bab 1 : Tragedi Subuh di Puncak Bunga Plum

Udara pagi di Puncak Gunung Hua itu dinginnya nggak ketulungan. Kalau kata penyair ibukota sih, "Sejuk menusuk tulang, menyegarkan jiwa raga." Tapi kalau kata gue, Han Jin-woo, murid luar angkatan ke-tiga belas yang nasibnya paling apes, dinginnya ini lebih mirip kulkas dua pintu yang pintunya lupa ditutup semalaman. Bikin beku otak, bikin males gerak.

"Bangun, woi! Matahari udah mau nongol! Jangan sampai Tetua Baek memenggal jatah sarapan kalian!"

Teriakan itu membahana, merusak mimpi indah gue yang lagi asik-asiknya makan bakpao daging bareng Suster Ye-in di kedai bawah gunung. Gue membuka mata dengan berat hati. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kakak Seperguruan Ma, ketua asrama yang suaranya setara toa masjid komplek tapi galaknya ngalahin ibu kos nagih tunggakan.

Gue menguap lebar, nyaris nelen lalat yang kebetulan lewat. "Santai dikit napa, Kak Ma. Matahari juga butuh pemanasan sebelum terbit," gumam gue sambil mengucek mata, berusaha mengumpulkan nyawa yang masih tercecer di alam mimpi.

Di sekeliling gue, murid-murid lain udah pada sibuk. Ada yang lagi ngiket sabuk—yang menurut gue terlalu kencang sampai mukanya merah kayak kepiting rebus—ada juga yang lagi memoles pedang kayu seakan-akan itu pacar barunya. Beda banget sama gue. Rambut gue masih acak-acakan artistik—gaya 'bangun tidur terus kena angin topan'—dan seragam murid luar warna hijau lumut ini kerahnya gue biarin terbuka dikit. Biar ada sirkulasi udara, Sob.

Gue meraba saku di balik jubah, mencari benda keramat gue: akar manis. Dapet. Langsung gue gigit ujungnya. Rasa manis-pahit yang familiar langsung bikin gue sadar sepenuhnya. Ini dia, sarapan para juara... atau sarapan para murid bokek yang jatah makannya sering diserobot senior.

"Han Jin-woo! Masih bengong aja lo! Latihan kuda-kuda dasar dimulai lima menit lagi!"

"Iya, iya, sabar..." Gue bangkit dengan malas, menyampirkan pedang kayu di punggung. Pedang ini udah buluk banget, banyak baret-baret saksi bisu betapa seringnya gue jadiin dia ganjalan pintu atau tongkat buat ngambil mangga tetangga.

Kami berbondong-bondong lari ke Lapangan Latihan Utama. Pemandangannya sih epik abis. Kabut tipis menyelimuti pilar-pilar batu, pohon plum yang lagi nggak berbunga (iyalah, lagi musim gugur, ngarep apa lo?), dan ratusan murid berbaris rapi. Suasana khidmat banget, berasa masuk film kolosal budget gede.

Tapi khidmat itu cuma bertahan sampai gue sadar kalau gue telat masuk barisan. Barisan murid luar ada di paling belakang, dekat kandang kuda. Bau kotoran kuda kecampur bau keringat pagi hari itu aromaterapi yang... ah sudahlah.

Di depan sana, di atas panggung batu yang tinggi, berdiri Tetua Baek. Orang tua itu jenggotnya putih panjang sampai dada, mukanya kaku kayak tembok beton yang belum diaci. Dia adalah Tetua Disiplin. Hobi utamanya: marah-marah dan ngasih hukuman bersihin toilet umum sekte.

"Ilmu Pedang Bunga Plum bukan sekadar tarian!" Tetua Baek berorasi, suaranya menggelegar pakai tenaga dalam, bikin kuping gue berdengung. "Ia adalah aliran air! Ia adalah hembusan angin! Kalian harus menjadi satu dengan pedang!"

Gue ngebatin, Gimana mau jadi satu sama pedang, Kek. Pedangnya aja kayu jati belanda, kena rayap dikit juga patah.

Tiba-tiba, mata elang Tetua Baek menyapu lapangan dan—sialnya—berhenti tepat di arah gue. Atau lebih tepatnya, di arah murid yang berdiri tegap sempurna di barisan paling depan murid utama. Namgung Ryong.

Si pangeran kampus Gunung Hua.

Namgung Ryong ini tipe cowok yang bikin semua cowok lain minder dan semua cewek histeris. Wajah ganteng, kulit putih bersih (padahal tiap hari latihan di bawah matahari, curiga dia pake sunblock impor), berasal dari Keluarga Namgung yang tajir melintir, dan—yang paling nyebelin—dia jago banget pedang.

"Lihat Namgung Ryong!" seru Tetua Baek. "Kuda-kudanya kokoh seperti Gunung Tai! Tatapannya tajam seperti pedang pusaka! Contoh dia!"

Namgung Ryong cuma ngangguk dikit, sok cool. Rambutnya yang diikat rapi berkibar pelan kena angin, dramatis banget. Gue yakin ada kru film yang nyalain kipas angin di depannya.

Gue mendengus, memutar bola mata. "Yaelah, kalau bapak gue juragan pedang juga gue bakal kokoh, Kek. Lha ini bapak gue cuma tukang tahu gejrot di desa bawah," bisik gue ke teman di sebelah, Si Gendut Oh.

Si Gendut Oh cuma nyengir takut-takut. "Sstt, Jin-woo. Jangan berisik. Ntar kita disuruh lari keliling gunung lagi."

"Tenang, Oh. Masalah itu kayak jerawat. Kalau dipencet emang sakit, tapi kalau didiemin lama-lama ilang sendiri," jawab gue asal bijak.

Tapi, hukum alam berkata lain. Saat Tetua Baek menyuruh kami melakukan gerakan 'Bunga Plum Mekar di Musim Semi', gue—yang lagi asik ngeliatin burung gagak lewat—telat bereaksi.

Semua orang menghunus pedang ke atas dengan anggun.

Gue? Gue malah keserimpet tali sepatu sendiri (iya, gue pake sepatu bot butut yang talinya kepanjangan) dan sukses nyusruk ke depan. Pedang kayu gue melayang indah, berputar di udara, lalu...

TAK!

Mendarat mulus tepat di jidat Si Gendut Oh.

Hening. Satu lapangan hening.

Tetua Baek menatap gue dari kejauhan. Aura membunuhnya kerasa sampai ke kandang kuda.

"Murid Han..." suaranya rendah tapi serem banget.

Gue nyengir kuda, mengangkat dua jari membentuk tanda 'peace', sambil akar manis masih menggantung di mulut.

"Pagi, Tetua. Cuma ngetes reflek Saudara Oh. Ternyata reflek jidatnya bagus."

Matilah gue.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G