CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 20 : Lara Croft Versi Low Budget
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 20 : Lara Croft Versi Low Budget
Menelusuri gua bawah tanah sambil gendong cowok seberat karung beras itu bukan hobi gue. Apalagi cowoknya cerewet.
"Hati-hati, ada batu runcing di kiri."
"Jalanmu terlalu goyang. Stabilkan kuda-kudamu."
"Kau bau bawang. Kapan terakhir mandi?"
"Bisa diem nggak sih?!" semprot gue. "Lo tuh penumpang gratisan! Di aplikasi ojol, penumpang cerewet itu dapet bintang satu!"
Ryong mendengus di kuping gue. "Kalau bukan karena cederaku, aku sudah lari sepuluh kali lebih cepat darimu."
"Iya, iya, serah lo."
Kami berjalan—atau lebih tepatnya tertatih-tatih—menyusuri lorong gua yang makin lama makin sempit dan berliku. Pedang di tangan gue jadi satu-satunya sumber cahaya.
Tiba-tiba, lorong itu buntu.
Di depan kami ada pintu batu raksasa dengan ukiran wajah iblis yang lagi melet. Di mulut iblis itu ada lubang kecil seukuran koin.
Dan di samping pintu, ada tulisan kuno yang dipahat kasar.
Ryong menyipitkan mata. "Turunkan aku. Aku bisa membaca huruf kuno."
Gue turunin dia di depan pintu. Dia meraba tulisan itu.
"'Gerbang Kebenaran Mutlak'," baca Ryong, nadanya sok akademis. "'Hanya mereka yang jujur pada diri sendiri yang boleh lewat. Masukkan jari ke mulut Iblis. Jika kau berbohong, jari putus. Jika jujur, pintu terbuka'."
Gue nelen ludah. "Serem amat kuncinya. Yaudah, lo aja yang masukin jari. Lo kan Tuan Muda yang 'Lurus dan Berwibawa'."
Ryong terdiam. Dia kelihatan ragu.
"Kenapa? Takut?" ledek gue.
"Bukan takut!" elak Ryong. "Hanya saja... konsep 'jujur' itu relatif. Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan jari tangan kanan yang kutubuhkan untuk memegang pedang."
"Halah, bilang aja lo banyak dosa," cibir gue.
Gue perhatiin pintu itu. Gue perhatiin mulut iblisnya. Gue perhatiin lubang koinnya.
Otak street-smart (baca: otak licik) gue bekerja.
"Minggir," kata gue.
Gue ngerogoh saku celana. Gue ngeluarin sisa akar manis yang udah kering. Gue patahin jadi seukuran jari.
Terus gue masukin akar manis itu ke lubang mulut iblis.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Ryong. "Kau mau menipu mekanisme kuno?!"
"Sstt. Liat aja."
Gue teriak ke arah pintu: "SAYA ADALAH ORANG PALING GANTENG DI DUNIA PERSILATAN!"
KREK!
Mulut batu itu menutup dengan kencang.
CRASS! Akar manis itu putus/hancur.
"Tuh kan, bohong," kata gue santai. "Mesinnya berfungsi."
Ryong melongo. "Kau... kau baru saja membuktikan kalau kau jelek?"
"Bodo amat. Yang penting jari gue aman."
Gue masukin lagi potongan akar manis kedua. Kali ini gue teriak:
"SAYA MALES LATIHAN DAN LEBIH SUKA TIDUR DARIPADA JADI PENDEKAR!"
Hening.
Mulut batu itu nggak ngunyah.
Sesaat kemudian... GRUMMM...
Pintu batu raksasa itu bergeser terbuka perlahan.
Ryong : "..."
Gue : "Nah, kebuka kan? Kuncinya adalah kejujuran yang memalukan."
Ryong geleng-geleng kepala, natap gue kayak gue makhluk dari planet lain. "Kau... kau benar-benar aib bagi dunia persilatan. Tapi... kau jenius."
"Makasih. Pujian diterima. Ayo jalan."
Kami masuk ke ruangan di balik pintu. Dan pemandangan di sana bikin kami berdua terpaku.
Bukan harta karun. Bukan senjata sakti.
Tapi sebuah aula bawah tanah yang megah, dengan danau kecil di tengahnya. Di tengah danau itu ada pulau buatan.
Dan di pulau itu, gue ngeliat dua sosok yang sangat familiar.
Tetua Wi duduk bersila.
Suster Ye-in duduk di sebelahnya.
Mereka berdua... sedang dipijat.
Iya, dipijat.
Oleh sekumpulan Kodok Raksasa seukuran manusia yang berdiri dengan dua kaki.
"Kekiri dikit, Dok... ah, iya di situ, enak banget..." terdengar suara Tetua Wi menggema.
Gue dan Ryong saling pandang.
"Gue halusinasi nggak sih?" tanya gue.
"Kalau kau halusinasi, berarti aku juga gila," jawab Ryong.