CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 32 : Drama Cinta Segitiga (Manusia vs 'Anjing')
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 32 : Drama Cinta Segitiga (Manusia vs 'Anjing')
Sore harinya, efek 'biskuit' itu mulai bikin gue nggak bisa diem. Kaki gue gatel pengen lari, tangan gue gatel pengen nyakar sofa. Gue mondar-mandir di ruangan kayak setrikaan.
Mei Li duduk di kursi goyang, ngerajut syal dari benang es. Dia senyum-senyum liat gue yang aktif.
Tiba-tiba, Tetua Wi (yang ikatannya udah agak longgar karena esnya dia lelehin diem-diem pake tenaga dalem) berdehem keras.
"Ehem! Mei-Mei sayang!"
Mei Li berhenti ngerajut, mukanya langsung judes. "Apa, Tua Bangka? Mau minta dibekuin permanen?"
"Jangan galak-galak dong," Tetua Wi masang tampang sok ganteng (yang gagal total). "Kamu lebih sayang sama 'anjing' palsu itu daripada sama aku? Inget nggak dulu kita pernah janji sehidup semati di bawah sinar bulan purnama?"
"Itu sebelum kau kabur membawa tabungan kita buat beli arak!" semprot Mei Li. Dia ngelempar jarum rajutnya.
TANG! Jarum itu nancep satu senti di sebelah kuping Tetua Wi.
"Itu investasi, Mei! Investasi kenangan!" bela Tetua Wi. "Lagian, liat tuh si Bo-Bo KW Super. Dia cuma bocah ingusan. Dia nggak bisa jagain kamu kayak aku!"
Tetua Wi berhasil ngelepas ikatan tangannya. Dia lari mendekati Mei Li, berniat meluk kakinya (modus orang tua emang beda).
"MINGGIR!" Mei Li ngibasin tangan. Angin badai melempar Tetua Wi nubruk tembok.
Momen kekacauan ini gue manfaatin.
Gue lari (merangkak sih) ke arah Ryong.
"Ryong! Pedang! Liat pedangnya sekarang!" bisik gue cepet.
"Kau bau anjing," komentar Ryong sinis, tapi dia nurut. Dia geser badannya biar Pedang Baja Biru yang tergantung di pinggangnya kena cahaya perapian biru di ruangan itu.
Cahaya biru pedang + cahaya api biru.
Reaksinya instan.
Bayangan pedang di lantai berubah. Bukan lagi peta gunung, tapi... denah bangunan.
Denah gubuk ini.
Ada titik merah berkedip tepat di bawah kursi goyang Mei Li.
"Di situ!" bisik gue. "Pintu masuk makamnya ada di bawah pantat Nenek Lampir!"
"Guk! (Ketemu!)" Gue ngasih kode ke Ryong.
Ryong ngangguk paham. "Oke, sekarang gimana cara kita geser Nenek Sihir level dewa itu dari kursinya tanpa kita mati?"
Sebelum gue sempet mikir strategi (misal: lempar tulang atau pura-pura pipis), tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat dari luar.
BOOOM!
Atap gubuk bergetar. Debu es rontok.
Mei Li langsung berdiri, matanya menyala merah.
"Siapa lagi yang berani ngerusak properti gue?!"
Gue ngintip lewat jendela.
Di luar, di tengah badai salju, berdiri puluhan orang berbaju hitam. Dan di depan mereka, berdiri sosok yang nggak asing lagi.
Tetua Iblis Racun.
Tapi kali ini dia nggak sendirian. Dia bawa... meriam.
Iya, meriam kuno segede gaban yang moncongnya ngeluarin asep ijo.
"Nenek Mei Li!" teriak Tetua Iblis Racun pake pengeras suara tenaga dalam. "Serahkan Peta dan Bocah itu! Atau kuratakan lembah ini jadi lapangan parkir!"