BAB 1

Bab 1 : Bangun Tidur Kulihat Hutang, Tidak Lupa Mengasah Gigi

Grand Capitalist of Mount Hua: Legenda Rentenir Berwajah Iblis

Bab 1 : Bangun Tidur Kulihat Hutang, Tidak Lupa Mengasah Gigi

๐Ÿ—“ 05 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 440 Views

Bab 1 : Bangun Tidur Kulihat Hutang, Tidak Lupa Mengasah Gigi

Udara pagi di Puncak Matahari Terbenam, salah satu cabang Sekte Mount Hua, terasa segar. Sayangnya, kesegaran itu ternoda oleh bau kemiskinan yang menyengat dan suara kayu lapuk yang berderit menyedihkan.

Kim Seok-jin membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat bukanlah langit-langit kamar apartemen sempitnya di Seoul, melainkan sarang laba-laba di atap kayu yang bolong.

"Ah... kepalaku."

Ingatan membanjir masuk. Dia bukan lagi Kim Seok-jin, insinyur sipil jenius yang mati konyol karena serangan jantung saat mengejar kontraktor yang kabur membawa uang proyek. Dia sekarang adalah Jin Seok-jin, murid kelas tiga dari Sekte Mount Hua yang terkenal sebagai sampah masyarakat, penjudi akut, dan aib bagi leluhur.

Tapi itu bukan masalah utamanya. Masalah utamanya adalah angka merah menyala yang melayang di depan retina matanya seperti neon box toko kelontong 24 jam.

[SISTEM KAPITALIS GILA TELAH DIAKTIFKAN]

[Nama: Jin Seok-jin]

[Status: Bangkrut Total]

[Hutang Sekte: 50.000 Nyang Emas (Jatuh tempo: HARI INI)]

[Kreditur: Guild Darah Besi (Iron Blood Guild)]

[Skill Pasif:

1. Mata Rentenir (Lv.1): Bisa melihat nilai jual organ tubuh dan aset bangunan secara instan.

2. Konstruksi Brutal (Lv.1): Stamina tidak terbatas saat mengawasi kuli bangunan.]

"Lima puluh ribu nyang?"

Seok-jin bangkit duduk. Matanya berkedut. Lima puluh ribu nyang emas. Jika dikonversi ke mata uang modern, itu cukup untuk membeli pulau pribadi beserta penduduknya. Dan ini jatuh tempo hari ini?

Pintu kamarnya didobrak. Seorang kakek tua dengan jubah lusuh yang penuh tambalan masuk sambil menangis tersedu-sedu. Itu adalah Tetua Park Do-hyun, pemimpin cabang Puncak Matahari Terbenam yang menyedihkan ini.

"Seok-jin-ah! Aigoo! Kita tamat! Orang-orang dari Guild Darah Besi sudah ada di kaki gunung! Mereka akan memotong ginjal kita! Atau lebih buruk, mereka akan menjual kita ke rumah bordil!"

Park Do-hyun menangis sambil memeluk kaki Seok-jin. Ingus kakek tua itu menempel di celana. Menjijikkan.

Namun, alih-alih panik, sudut bibir Seok-jin perlahan terangkat. Bukan senyum ramah. Itu adalah senyuman yang membuat otot wajahnya tertarik ke arah yang tidak wajar. Matanya melengkung seperti bulan sabit, tapi pupilnya memancarkan aura predator yang baru saja menemukan mangsa gemuk.

Itu adalah 'Wajah Bajingan'. Ekspresi yang biasa dia gunakan saat menemukan celah hukum dalam kontrak konstruksi.

"Tetua Park," suara Seok-jin terdengar tenang, namun ada getaran gila di dalamnya.

"Y-ya?" Tetua Park mendongak, dan seketika itu juga dia tersentak mundur. Dia bersumpah melihat bayangan iblis bertanduk di belakang muridnya. Wajah Seok-jin saat ini lebih menakutkan daripada penagih hutang manapun.

"Apakah Sekte Mount Hua punya persediaan ramuan herbal?"

"A-ada... tapi hanya ramuan 'Pencuci Perut Naga' yang kadaluarsa dan gula merah sisa tahun lalu..."

Senyum Seok-jin makin lebar. Gigi putihnya berkilau mengerikan di tengah gubuk reyot itu.

"Sempurna. Rebus semuanya. Buat teh yang sangat manis. Kita akan menyambut tamu agung kita dengan keramahan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup."

"T-tapi mereka datang untuk menagih hutang!"

"Salah," Seok-jin berdiri, merapikan jubahnya yang bolong. "Mereka datang untuk menjadi tenaga kerja gratis. Nyawa itu murah, Tetua. Tapi biaya tukang bangunan di zaman ini sangat mahal. Sayang sekali jika kita menyia-nyiakan otot-otot besar mereka."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G