BAB 2

Bab 2 : Teh Perdamaian Rasa Bencana Alam

Grand Capitalist of Mount Hua: Legenda Rentenir Berwajah Iblis

Bab 2 : Teh Perdamaian Rasa Bencana Alam

๐Ÿ—“ 19 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 438 Views

Bab 2 : Teh Perdamaian Rasa Bencana Alam

Halaman depan Puncak Matahari Terbenam dipenuhi oleh dua lusin pria kekar bersenjata golok besar. Mereka mengenakan seragam merah darah dengan lambang 'Iron Blood Guild'. Pemimpin mereka, Ma Kwang-soo, adalah raksasa setinggi dua meter dengan bekas luka melintang di wajahnya yang membuat anak kecil menangis hanya dengan melihatnya.

"KELUAR KAU TIKUS-TIKUS MOUNT HUA! BAYAR ATAU MATI!" Ma Kwang-soo meraung. Suaranya merontokkan genteng di gerbang utama.

Pintu aula utama terbuka perlahan. Jin Seok-jin melangkah keluar dengan senyum yang sangat... sopan. Terlalu sopan. Di belakangnya, Tetua Park Do-hyun gemetar sambil membawa nampan berisi teko besar.

"Aiyaya, Tuan Ma Kwang-soo yang terhormat! Selamat datang di gubuk kami yang sederhana," sapa Seok-jin sambil membungkuk, tapi matanya sibuk memindai tubuh Ma Kwang-soo.

[Analisis Mata Rentenir:

Target: Ma Kwang-soo

Kualitas Otot: Grade A (Sangat cocok untuk mengangkat batu kali)

Ketahanan Stamina: Tinggi (Bisa kerja lembur 18 jam tanpa mati)

Kelemahan: Usus sensitif.]

"Jangan banyak omong, bocah! Mana uangnya?!" Ma Kwang-soo menghentakkan goloknya ke tanah, membelah batu paving.

"Ah, soal uang, tentu saja ada. Tapi perjalanan mendaki gunung pasti melelahkan, bukan? Sebagai tuan rumah yang beradab, tidak etis jika kami tidak menyuguhkan teh khas Mount Hua terlebih dahulu. Ini adalah 'Teh Sari Bunga Plum'."

Seok-jin menuangkan cairan berwarna coklat pekat yang mengepul. Aromanya sangat manis, menutupi bau herbal busuk yang menyengat.

Ma Kwang-soo curiga, tapi harga dirinya sebagai pendekar membuatnya tidak mau terlihat takut pada secangkir teh. "Hmph! Kau pikir racun murahan bisa membunuhku?" Dia menyambar cawan itu dan menenggaknya sekali teguk. Anak buahnya pun mengikuti.

"Manis sekali," komentar salah satu anak buahnya.

"Tentu saja," Seok-jin tersenyum, kali ini matanya menyipit licik. "Itu melambangkan manisnya kerjasama kita."

Lima menit berlalu. Pembicaraan tentang bunga dan cicilan hutang berlanjut.

Sepuluh menit berlalu. Wajah Ma Kwang-soo mulai pucat. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya.

"Kenapa... perutku..." Ma Kwang-soo memegang perutnya. Suara gemuruh seperti naga yang sedang marah terdengar dari dalam ususnya.

"Ah, itu efek detoksifikasi," kata Seok-jin santai, sambil mengipasi dirinya sendiri. "Racun dalam tubuhmu sedang dikeluarkan. Itu tanda kau sehat."

"BOCAH SETAN! INI BUKAN DETOKS! INI..."

BRUUUTTT!

Suara ledakan gas metana memotong kalimat Ma Kwang-soo. Suasana hening seketika. Burung-burung berhenti berkicau.

Wajah Ma Kwang-soo memerah padam, lalu berubah menjadi ungu. Dia, seorang pendekar kelas satu, baru saja kentut basah di depan musuh.

"Kau..." Ma Kwang-soo gemetar, menahan bendungan yang siap jebol di gerbang belakangnya.

"Toilet ada di sebelah kiri, lurus terus, belok kanan di dekat kandang babi," tunjuk Seok-jin dengan ramah. "Tapi, saran saya, jangan lari. Guncangan bisa memicu longsor."

"SERANG! BUNUH DIA DULU BARU KE TOILET!" Teriak Ma Kwang-soo.

Tapi tidak ada yang bergerak. Dua lusin anak buahnya sudah berlutut di tanah, memegangi pantat mereka dengan wajah putus asa. Martabat pendekar mereka hancur lebur oleh ramuan kadaluarsa yang dicampur gula aren.

"Sepertinya negosiasi kita harus ditunda," Seok-jin berkata datar. "Silakan nikmati fasilitas sanitasi kami. Meski, yah... toiletnya cuma satu dan pintunya agak macet."

Detik berikutnya adalah kekacauan. Para pendekar garang itu berlarian seperti itik yang dikejar musang, saling sikut hanya untuk memperebutkan satu lubang kakus.

Seok-jin menatap pemandangan itu sambil mengeluarkan buku catatan kecil.

"Tetua Park, catat ini. Biaya penggunaan toilet VIP: 500 nyang per orang. Biaya polusi udara: 1000 nyang. Biaya trauma psikologis bagi kita yang mendengar suara itu: 5000 nyang."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G