JEJARING SUNYI: RAHASIA KEHIDUPAN POHON YANG TAK TERUCAP
Bab 6 : Pohon dalam Memori Peradaban Manusia
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 6 : Pohon dalam Memori Peradaban Manusia
Mari kita tinggalkan sejenak mikroskop dan beralih ke teleskop sejarah. Hubungan manusia dengan pohon ternyata jauh lebih spiritual dan mendalam daripada sekadar hubungan penebang dan kayu. Sejak zaman prasejarah, manusia selalu menempatkan pohon di pusat kosmologi mereka. Pohon bukan hanya dianggap sebagai sumber buah atau kayu bakar, tetapi sebagai Axis Mundiβporos dunia yang menghubungkan tiga alam.
Dalam mitologi Nordik, kita mengenal Yggdrasil, pohon abu raksasa yang menopang sembilan dunia. Akarnya menembus dunia bawah (kematian), batangnya adalah dunia manusia (Midgard), dan cabangnya menyentuh surga (Asgard). Konsep serupa juga ada di Nusantara. Teman-teman pasti pernah melihat "Gunungan" dalam pertunjukan wayang kulit, bukan? Gunungan itu melambangkan "Pohon Hayat" atau Pohon Kehidupan yang menjadi pembuka dan penutup siklus cerita, simbol dari alam semesta itu sendiri.
Mengapa pohon begitu dihormati? Karena pohon melampaui rentang hidup manusia. Sebuah pohon beringin (Ficus benjamina) di alun-alun kota bisa menjadi saksi bisu dari lima hingga enam generasi manusia. Kakek buyut kita mungkin pernah berteduh di bawahnya, dan cicit kita nanti mungkin akan bermain di akarnya. Sifatnya yang "abadi" dibandingkan manusia membuat pohon sering dianggap sebagai tempat tinggal roh leluhur atau penjaga desa.
Di sisi lain, pohon juga memiliki peran politis yang unik. Di banyak budaya, perjanjian damai atau kesepakatan hukum dilakukan di bawah pohon besar. Di Inggris kuno, pengadilan sering digelar di bawah pohon Elm atau Oak karena dianggap sebagai tempat netral yang disaksikan oleh Tuhan. Di Indonesia, pohon beringin sering ditanam di pusat kekuasaan (keraton atau alun-alun) sebagai simbol pengayoman; seorang pemimpin harus bisa melindungi rakyatnya seperti beringin yang rimbun menaungi siapa saja dari terik matahari tanpa pandang bulu.
Sayangnya, "kebutaan tanaman" (plant blindness) di era modern membuat kita kehilangan rasa hormat ini. Kita melihat pohon hanya sebagai objek dekorasi kota atau komoditas ekonomi. Padahal, secara budaya, menebang pohon tua sama artinya dengan menghapus satu bab dari buku sejarah komunitas tersebut.
MELURUSKAN KEKELIRUAN
* Anggapan Umum: Menanam pohon di kuburan adalah tradisi mistis semata agar hantu tidak keluar.
* Fakta Sebenarnya: Secara biologis dan ekologis, menanam pohon (seperti Kamboja atau Semboja) di pemakaman memiliki fungsi sanitasi yang cerdas. Akar pohon menyerap cairan organik dari dekomposisi di dalam tanah, dan aroma wangi bunganya membantu menyamarkan bau yang tidak sedap. Leluhur kita memahami fungsi ekologis ini dan membungkusnya dalam narasi tradisi agar dipatuhi.
TAHUKAH KAMU?
> Pohon Bodhi (Ficus religiosa) tempat Siddhartha Gautama mendapatkan pencerahan diperkirakan adalah pohon tertua yang didokumentasikan penanamannya oleh manusia (lewat stek dari pohon asli), yang kini tumbuh di Sri Lanka dengan nama Jaya Sri Maha Bodhi, ditanam pada tahun 288 SM.
Refleksi
Kita sering merasa menjadi penguasa bumi, padahal kita hanyalah tamu yang numpang lewat di hadapan pepohonan yang telah berdiri ribuan tahun. Menghormati pohon adalah cara kita menghormati waktu dan sejarah itu sendiri.