BAB 1: KEPULANGAN YANG DINGIN
Kabut di Bukit Damar bukanlah jenis kabut tipis yang romantis seperti di film-film. Ini adalah kabut yang memiliki bobot, sebuah selimut basah dan dingin yang turun dari puncak Gunung Gede setiap pukul empat sore dan baru benar-benar terangkat menjelang pukul sembilan pagi. Bagi Elara, kabut ini dulunya adalah teman bermain masa kecil, tempat bersembunyi dari panggilan ibunya untuk mandi sore. Namun sekarang, setelah sepuluh tahun di Jakarta dan kembali dengan jiwa yang babak belur, kabut ini terasa seperti dinding isolasi.
Sudah enam bulan sejak Elara menempati kembali rumah tua neneknya di ujung desa. Rumah panggung kayu ulin yang kokoh, berbau lilin lebah dan kenangan apek. Dia meninggalkan karirnya sebagai jurnalis investigasi papan atas setelah kasus "Perdagangan Organ Kramat Jati"โkasus yang melambungkan namanya sekaligus menghancurkan mentalnya ketika narasumber utamanya ditemukan tewas di sebuah selokan. Dia kembali ke Bukit Damar bukan untuk mencari inspirasi, melainkan untuk bersembunyi dan melupakan cara bertanya "mengapa".
Pagi itu, seperti pagi lainnya, Elara duduk di beranda dengan secangkir kopi robusta lokal yang pekat. Uap kopi beradu dengan udara dingin. Pandangannya hanya menembus lima meter ke depan; selebihnya adalah putih susu. Suara-suara di desa ini selalu teredam, seolah-olah dunia sedang menahan napas. Dia mendengar lonceng sapi dari kejauhan, derit roda sepeda penjual bubur, dan sayup-sayup suara azan subuh yang baru berakhir.
Ketenangan yang rapuh itu retak oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa menaiki jalan setapak berbatu menuju rumahnya. Itu Bi Narti, tetangga sebelah yang biasanya tenang dan selalu membawakannya pisang goreng. Wajah Bi Narti pucat pasi, kontras dengan kebaya bunga-bunganya yang cerah. Napasnya memburu, membentuk awan-awan kecil di udara dingin.
"Neng Elara... Neng..." suaranya gemetar.
Elara meletakkan cangkirnya. Insting lamanya, yang dia kira sudah mati, berdenyut pelan di belakang lehernya. "Ada apa, Bi? Tarik napas dulu."
Bi Narti mencengkeram pagar beranda dengan tangan yang dingin. "Itu... di pabrik teh lama. Dekat jembatan gantung. Pak Salim, Neng. Pak Salim..."
"Pak Salim kenapa?" Pak Salim adalah sesepuh desa, penjaga adat yang dihormati semua orang, pria berusia 80 tahun yang masih kuat berjalan kaki mengelilingi kebun teh setiap hari.
"Ditemukan. Sama anak-anak yang mau mancing," Bi Narti menelan ludah susah payah. "Sudah kaku, Neng. Di ruang pengeringan. Matanya... matanya terbuka lebar melihat ke atas."