Social Unlock
Untuk melanjutkan, berikan Like, Rating, atau Komentar di bab sebelumnya.
๐ Kembali ke Bab SebelumnyaBAB 3: BISIKAN DI WARUNG KOPI
Dua hari setelah penemuan jenazah, suasana Bukit Damar berubah dari terkejut menjadi paranoid. Kematian Pak Salim dinyatakan sebagai "serangan jantung mendadak" oleh dokter puskesmas yang sudah tua dan gemetaran. Tidak ada otopsi menyeluruh karena keluarga menolak; adat setempat mengharuskan jenazah segera dimakamkan. Damar, dengan frustrasi yang jelas terlihat, terpaksa menutup kasus itu secara resmi.
Tapi Elara tahu itu bohong. Semua orang tahu itu bohong.
Dia duduk di 'Warung Mang Ujang', pusat informasi tidak resmi desa itu. Tempat itu penuh asap rokok kretek dan uap mie instan. Para lelaki desa, yang biasanya membicarakan harga pupuk atau hasil panen teh, kini berbicara dengan nada rendah dan lirih.
"Tidak mungkin cuma jantung," bisik Pak RT kepada Mang Ujang sambil mengaduk kopinya dengan gelisah. "Kalian lihat posisinya? Itu bukan posisi orang jatuh sakit. Itu posisi orang yang ketakutan."
"Sst, jangan keras-keras," tegur Mang Ujang, matanya melirik ke arah Elara di pojok. "Ada orang kota."
Elara pura-pura fokus pada bukunya, tapi telinganya menangkap setiap kata.
"Aku dengar," lanjut seorang petani muda dengan suara bergetar, "Malam sebelum kejadian, ada cahaya aneh di sekitar pabrik. Warna biru muda, kedap-kedip. Seperti 'Lampor'."
Lampor. Legenda lokal tentang keranda terbang pembawa petaka. Elara menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Ini masalah di desa terpencil; ketika logika gagal memberikan jawaban, mitos akan segera mengisi kekosongan itu.
"Bukan Lampor," sela suara lain, seorang pria tua bungkuk yang duduk di dekat jendela. Itu Mbah Suro, juru kunci makam desa. Semua orang terdiam. Mbah Suro jarang bicara, tapi ketika dia bicara, semua orang mendengarkan.
"Pak Salim itu penjaga rahasia," kata Mbah Suro, suaranya serak seperti gesekan batu kali. "Dia menyimpan kunci-kunci masa lalu desa ini yang seharusnya tidak pernah dibuka. Mungkin... mungkin dia mencoba membuka salah satunya, dan penjaganya marah."
"Penjaga apa, Mbah?" tanya Pak RT takut-takut.
Mbah Suro tidak menjawab. Dia hanya menyesap teh tawarnya, matanya menerawang jauh ke arah bukit yang tertutup kabut. Elara merasakan dorongan yang kuat untuk mendekati pria tua itu dan mengguncangnya sampai dia memuntahkan semua yang dia tahu. Insting jurnalisnya, yang dia coba kubur di bawah tumpukan novel di toko bukunya, kini meraung minta dilepaskan. Ada sesuatu yang busuk di bawah permukaan tanah Bukit Damar yang subur, dan kematian Pak Salim baru saja mencangkul lapisan pertamanya.