Social Unlock
Untuk melanjutkan, berikan Like, Rating, atau Komentar di bab sebelumnya.
🔙 Kembali ke Bab SebelumnyaBAB 2: RUANG PENGERINGAN
Berita kematian di desa kecil menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Ketika Elara tiba di lokasi—sebuah bangunan kolonial Belanda yang sudah setengah hancur di pinggir desa—kerumunan sudah terbentuk. Pabrik teh itu adalah monumen masa lalu Bukit Damar, sebuah kerangka besi dan batu bata merah yang ditumbuhi tanaman merambat liar.
Elara harus berjuang menembus kerumunan warga yang berbisik-bisik dengan nada panik bercampur takut. Aroma dupa sudah mulai dibakar oleh seseorang di sudut, bercampur dengan bau tanah basah dan karat besi.
"Minggir, tolong minggir," suara bariton yang tegas membelah kerumunan. Itu Damar, Kepala Polisi Sektor setempat. Ironisnya, dia dinamai sama dengan bukit tempat mereka tinggal. Dia juga mantan kekasih Elara di masa SMA, sebuah sejarah yang mereka berdua berusaha keras untuk pura-pura lupakan.
Damar melihat Elara. Matanya yang lelah sedikit melebar karena terkejut, lalu dengan cepat berubah menjadi topeng profesional. "Elara. Ini bukan tempat untuk warga sipil."
"Aku jurnalis, Damar. Atau setidaknya pernah," jawab Elara, suaranya lebih tenang dari yang dia rasakan. Jantungnya berdegup kencang. Pemandangan garis polisi kuning itu memicu kilas balik ke Jakarta, ke gang-gang gelap dan bau kematian.
"Mantan jurnalis. Sekarang kamu pemilik toko buku. Pulanglah," kata Damar tegas, memberi isyarat pada anak buahnya untuk memperluas perimeter.
Tapi Elara tidak bergerak. Dia melihat dari celah bahu polisi muda yang menjaganya. Di dalam ruang pengeringan yang luas dan remang-remang, di atas lantai beton yang retak, terbaring Pak Salim. Dia mengenakan pakaian pangsi hitam andalannya. Seperti kata Bi Narti, matanya terbuka, menatap langit-langit seng yang bocor. Tidak ada darah yang terlihat dari jarak ini. Posisinya aneh; tangan kanannya terentang ke samping, jari telunjuknya menunjuk ke arah dinding bata yang kosong, seolah memberikan petunjuk terakhir sebelum nyawanya melayang.
Yang membuat bulu kuduk Elara berdiri bukanlah mayat itu sendiri, melainkan suasananya. Pabrik itu sunyi, terlepas dari kerumunan di luar. Seolah-olah bangunan itu sendiri telah menyaksikan sesuatu yang tak terkatakan dan kini menyimpan rahasianya rapat-rapat di antara dinding-dindingnya yang berjamur. Kematian Pak Salim bukan kematian wajar karena usia. Elara tahu bau kejahatan, dan tempat ini berbau sangat menyengat.