Social Unlock
Untuk melanjutkan, berikan Like, Rating, atau Komentar di bab sebelumnya.
🔙 Kembali ke Bab SebelumnyaBAB 4: KUNJUNGAN TENGAH MALAM
Elara tidak bisa tidur. Bayangan Pak Salim dengan jari menunjuk di pabrik tua itu terus menghantuinya. Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang dua kali. Di luar, kabut malam begitu tebal hingga menempel di kaca jendela seperti kapas basah.
Dia menyerah pada insomnia. Dia bangkit, mengenakan sweter tebal, dan menyalakan lampu meja kerjanya. Di atas meja itu, tergeletak sebuah benda yang dia temukan secara diam-diam di lokasi kejadian, tepat sebelum Damar mengusirnya. Itu adalah sebuah kancing manset (cufflink) emas. Kuno, berat, dan berukir inisial 'V.H.'. Benda itu tergeletak di dekat tangan kiri Pak Salim, hampir tertimbun debu.
Benda itu jelas tidak pada tempatnya. Pak Salim adalah orang yang sederhana, dia tidak pernah memakai kemeja yang membutuhkan manset, apalagi yang terbuat dari emas. Dan inisial itu—V.H.—tidak cocok dengan nama siapa pun di desa ini. Ini adalah peninggalan kolonial, mungkin milik salah satu 'Tuan Besar' Belanda yang dulu menguasai perkebunan ini.
Elara sedang menimang-nimang kancing emas itu di bawah cahaya lampu ketika dia mendengarnya. Suara ketukan di pintu depannya. Pelan, ragu-ragu, tapi jelas.
Jantungnya melonjak ke tenggorokan. Siapa yang bertamu jam dua pagi di desa yang penduduknya sudah tidur sejak jam sembilan malam?
Dia mengambil tongkat baseball yang dia simpan di balik pintu sejak pindah dari Jakarta—kebiasaan paranoid lama. Dia mengintip melalui lubang kunci. Tidak ada apa-apa selain kabut putih yang berputar-putar.
Ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih mendesak.
"Siapa?" seru Elara, suaranya berusaha terdengar berani.
"Elara, ini aku. Buka pintunya. Cepat." Itu suara Damar. Terdengar tegang dan rendah.
Elara menurunkan tongkatnya dan membuka kunci pintu dengan cepat. Damar berdiri di sana, tidak mengenakan seragam polisinya, melainkan jaket kulit hitam yang basah oleh embun. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat. Dia tidak menunggu dipersilakan, langsung masuk dan menutup pintu dengan cepat di belakangnya, seolah takut ada yang ikut masuk bersamanya dari dalam kabut.
"Apa yang kamu lakukan di sini jam segini? Kalau warga lihat Pak Polisi masuk rumah janda kembang tengah malam, bisa geger satu desa," kata Elara sinis, mencoba menutupi kegugupannya.
Damar tidak tersenyum. Dia menatap tajam ke mata Elara. "Lupakan basa-basi, El. Aku tahu kamu mengambil sesuatu dari TKP kemarin."
Elara membeku. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Jangan bohong padaku. Aku melihatmu membungkuk di dekat tubuh korban sebelum aku sempat menarikmu. Serahkan padaku. Sekarang." Damar mengulurkan tangannya. Otoritas dalam suaranya tidak bisa dibantah.
Elara menimbang-nimbang pilihannya. Melawan Damar adalah ide buruk. Bekerja sama dengannya mungkin satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban. Dengan enggan, dia berjalan ke meja kerjanya dan mengambil kancing manset emas itu, lalu menjatuhkannya ke telapak tangan Damar yang terbuka.
Damar mengamati benda itu di bawah cahaya lampu. Ekspresinya berubah dari marah menjadi sesuatu yang lain... ketakutan? "Sial," umpatnya pelan. "Jadi dugaanku benar."
"Dugaan apa? Itu milik siapa, Damar?" desak Elara.
Damar menatapnya, kali ini dengan sorot mata yang memperingatkan. "Ini bukan urusanmu, Elara. Ini jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari sekadar kasus pembunuhan biasa. Lupakan kamu pernah melihat benda ini. Lupakan Pak Salim. Kembalilah jual bukumu dan hiduplah dengan tenang."
"Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu," tantang Elara.
"Kalau begitu kau akan mati konyol di sini, sama seperti narasumbermu di Jakarta," kata Damar dingin, sebelum berbalik dan menghilang kembali ke dalam kabut malam, meninggalkan Elara dengan lebih banyak pertanyaan dan rasa dingin yang menusuk tulang.