MISTERI PAKET BEDAK BAYI DAN BURONAN WAJAH KENTANG
BAB 1: SURAT LAMARAN KERJA DI TIANG LISTRIK
BAB 1: SURAT LAMARAN KERJA DI TIANG LISTRIK
Islandia itu indah. Katanya.
Kalau kalian lihat di Instagram selebgram yang hobinya pamer paha di pinggir kolam renang air panas, Islandia itu surga. Ada Aurora Borealis yang menari-nari kayak lampu disko di hajatan kelurahan, ada gunung es yang megah, dan udaranya segar.
Tapi buat gue, Bimon, dan dua curut peliharaan gue—maksudnya, sahabat sejati gue—Dado dan Kibul, Islandia adalah neraka beku yang harga air mineralnya bisa buat bayar cicilan motor di Jakarta.
"Mon, gue nggak kuat..." rintih Dado. Giginya gemeretuk hebat, suaranya kayak mesin ketik manual yang lagi dipaksa ngetik skripsi H-1 sidang. Kacamata tebalnya udah nggak tembus pandang lagi, ketutup lapisan es setebal kaca helm astronot. "I... ini dinginnya nggak sopan banget. Tulang rusuk gue rasanya kayak lagi digebukin sama kulkas dua pintu."
Gue cuma bisa menatap nanar ke jalanan Reykjavik yang sepi. Angin berhembus kencang, menampar pipi gue dengan kejam. Rasanya kayak ditampar bolak-balik sama selendang sutra yang sudah direndam nitrogen cair.
"Tahan, Do. Kita harus cari kerjaan hari ini," sahut gue sambil merapatkan jaket. Jaket gue ini menyedihkan. Ini bukan jaket musim dingin. Ini jaket varsity angkatan SMA gue yang sablonan di punggungnya tulisannya "IPA 3: PINTAR TAPI LIAR", yang sekarang udah pudar jadi "IPA: PINT... LI... ARgh". Gue pake rangkap lima sama kaos partai dan kemeja flanel bekas.
Di sebelah Dado, ada Kibul. Si manusia dengan prosesor Pentium 1 ini diam saja. Matanya kosong menatap butiran salju yang turun.
"Bul, lu nggak kedinginan?" tanya gue.
Hening. Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Angin lewat membawa suara wusss.
"Hah? Apa, Mon?" jawab Kibul sepuluh detik kemudian. "Dingin? Enggak kok. Gue lagi bayangin lagi di pantai Ancol makan jagung bakar. Sugesti, Mon. Kekuatan pikiran."
Gue menepuk jidat. "Bagus. Pertahankan imajinasi lu sebelum otak lu beku beneran jadi es loli."
Kami bertiga terdampar di sini gara-gara Kibul. Iya, si Kibul ini suatu hari datang dengan wajah berseri-seri membawa tiket liburan "Gratis" ke Eropa Utara hasil undian tutup botol kecap. Kita girang bukan main. Udah pamitan sama Pak RT, udah bikin syukuran nasi kuning, udah update status "Bye-bye Indonesia, Hello Europe!".
Ternyata tiketnya cuma one way. Dan bukan ke Paris atau London, tapi ke Reykjavik. Dan parahnya lagi, panitianya kabur membawa uang saku yang sudah kami kumpulkan hasil jual motor Dado. Jadilah kami gembel elit internasional. Gembel, tapi di Eropa. Keren dikit, tapi tetep aja laper.
Perut gue bunyi. Suaranya keras banget, kayak suara ban tronton pecah di jalan tol. Kruyuuuuk!
"Mon, perut lu demo minta kenaikan upah minimum ya?" sindir Dado.
"Diem lu, Do. Lu yang 'Profesor' katanya pinter, masa nggak bisa nemu solusi? Masak batu kek, atau berburu pinguin?"
"Pinguin itu di Kutub Selatan, Bimon! Di sini adanya Puffin! Lagian ini kota, bukan hutan rimba! Kita butuh duit! Krona! Euro! Atau apalah mata uang sini!" Dado nyolot, tapi habis itu batuk-batuk karena keselek angin dingin.
Kami berjalan tertatih-tatih menyusuri trotoar yang licinnya ngalahin lantai masjid abis dipel. Di depan sebuah tiang listrik yang penuh tempelan stiker band indie lokal yang namanya susah dieja (serius, hurufnya kebanyakan konsonan, bacanya gimana coba? Sigurjknfltrt?), mata gue menangkap secarik kertas lusuh.
Warnanya merah menyala. Ada tulisan pakai spidol hitam tebal.
DIBUTUHKAN SEGERA!
KURIR PAKET KHUSUS
SYARAT: PUNYA KAKI, BISA NAPAS, TIDAK BANYAK TANYA.
GAJI: 50.000 KRONA PER PENGANTARAN (CASH KERAS!)
HUBUNGI: DARKWEBMASTER di Gang Belakang Toko Ikan Busuk.
Mata gue terbelalak. 50.000 Krona! Kalau dirupiahin itu... bentar, otak gue loading konversi kurs. Pokoknya jutaan! Bisa buat makan kenyang seminggu plus beli tiket pesawat—paling enggak tiket pesawat buat satu orang. Sisanya bisa nyusup di bagasi.
"Gays! Liat ini!" Gue menunjuk kertas itu dengan semangat 45.
Dado menyipitkan mata, membersihkan kacamatanya dengan ujung syal Kibul. "Kurir Paket Khusus? Dark Web Master? Mon, ini mencurigakan banget. Dark Web itu kan jaringan internet tersembunyi tempat transaksi ilegal! Jual beli senjata, narkoba, organ tubuh..."
"Ah, elah! Lu kebanyakan nonton film hacker, Do!" potong gue cepat. "Dark Web itu artinya 'Jaring Gelap'. Mungkin dia jualan jaring laba-laba warna item buat dekorasi Halloween. Atau jaring nelayan yang belum dicuci. Positif thinking napa!"
"Tapi Mon..."
"Lu mau makan nggak? Lu mau pulang nggak? Atau lu mau jadi patung es di sini buat kenang-kenangan turis Jepang?" ancam gue.
Dado kicep. Perutnya yang juga keroncongan seakan setuju sama gue.
"Bul, gimana menurut lu?" tanya gue ke Kibul.
Kibul masih menatap langit. "Awan itu... bentuknya kayak donat gula halus ya, Mon?"
"Oke, suara terbanyak setuju. Kibul abstain karena lagi laper halusinasi," putus gue sepihak.
Gue merobek kertas itu. "Ayo, kita ke Gang Belakang Toko Ikan Busuk. Nama tempatnya aja udah estetik banget. Pasti yang punya orang seni."
Tanpa kami sadari, keputusan untuk mengambil kertas itu adalah awal dari bencana yang bakal bikin kami berharap lebih baik dimakan beruang kutub daripada harus lari-larian di atas es. Tapi ya sudahlah, namanya juga usaha. Penulis juga butuh konflik biar naskahnya laku, kan? (Halo Pembaca, jangan tutup dulu, adegan serunya baru mau mulai nih. Janji deh, nggak bakal garing kayak kerupuk masuk angin).
Kami bertiga melangkah pasti menuju alamat itu. Angin bertiup makin kencang, seolah-olah alam semesta mau bilang: "Jangan ke sana, Bego! Putar balik!"
Tapi dasar manusia Indonesia, kalau ada tulisan "Jalan Buntu" atau "Awas Anjing Galak", justru makin penasaran. Apalagi ini ada iming-iming duit. Gaspol rem blong!