MISTERI PAKET BEDAK BAYI DAN BURONAN WAJAH KENTANG
BAB 2: WAJAH ITU MIRIP LUKISAN ANAK TK
BAB 2: WAJAH ITU MIRIP LUKISAN ANAK TK
Gang Belakang Toko Ikan Busuk ternyata benar-benar bau ikan busuk. Baunya tajam menusuk hidung, campuran antara amis ikan, kaos kaki yang nggak dicuci setahun, dan aroma keputusasaan. Tempatnya gelap, lembap, dan dikelilingi tembok bata yang penuh graffiti nggak jelas.
Di ujung gang, ada sebuah pintu besi karatan. Gue mengetuk pelan. Tok. Tok. Tok.
Nggak ada jawaban.
Gue ketuk lagi, lebih keras. DOK! DOK! DOK! "Punteeeen! Go-Food!"
Pintu terbuka dengan suara kriiiiet yang bikin ngilu gigi. Muncul sesosok pria bule raksasa. Tingginya mungkin dua meter, brewokan lebat sampai matanya nyaris nggak kelihatan, dan dia pakai singlet doang di tengah suhu minus lima derajat. Badannya penuh tato gambar My Little Pony. Serius. Ada Twilight Sparkle di bicep kanannya. Sangar tapi unyu.
"Siapa?" suaranya berat, kayak suara subwoofer masjid pas lagi tes mic.
"Ehh... anu, Mister. We are... uh... applicant? Yang mau kerja kurir?" jawab gue dengan bahasa Inggris pas-pasan hasil belajar dari subtitle film bajakan.
Pria itu menatap kami bertiga dari atas ke bawah. Tatapannya meremehkan. Ya wajar sih, kami kelihatan kayak rombongan sirkus yang bangkrut.
"Masuk," perintahnya singkat.
Kami didorong masuk ke dalam ruangan yang remang-remang. Di dalamnya banyak monitor komputer yang menyala menampilkan kode-kode rumit (atau mungkin cuma screensaver Matrix biar kelihatan keren). Di pojok ruangan, duduk seorang pria kurus kering, pakai hoodie hitam, sibuk mengetik cepat.
"Bos, ada tiga curut mau lamar kerja," lapor si Raksasa My Little Pony.
Pria di depan komputer berbalik. Wajahnya pucat, matanya ada lingkaran hitam tebal kayak panda kurang tidur. Ini pasti si 'Dark Web Master'.
"Kalian bisa bawa paket tanpa banyak tanya?" tanyanya langsung to the point.
"Bisa, Bos! Kami ini profesional. Teman saya ini," gue nunjuk Kibul, "saking nggak banyak tanyanya, kadang ditanya nama sendiri aja lupa."
Si Bos mengangguk puas. Dia mengambil sebuah kotak kardus seukuran kotak sepatu yang dibungkus lakban hitam berlapis-lapis. Di atasnya ada tulisan: FRAGILE: JANGAN DIBANTING, JANGAN DIKOCOK, JANGAN DIJILAT.
"Antar ini ke Pelabuhan Lama. Cari kapal bernama 'The Sinking Titanic'. Temui orang bernama Boris. Bilang, 'Paket Bedak Bayi sudah sampai'. Mengerti?"
"Siap, Bos! Bedak bayi kan? Gampang!" sahut gue girang. 50.000 Krona sudah di depan mata.
Dado menyenggol lengan gue. "Mon, lu yakin itu bedak bayi? Kok berat banget? Dan... kok ada suara tik-tok-tik-tok dari dalemnya?" bisik Dado panik.
"Itu... jam dinding! Bonus pembelian bedak bayi. Udah, jangan bawel," bisik gue balik, sambil menyambar paket itu.
Kami keluar dari markas itu dengan perasaan campur aduk. Gue senang, Dado cemas, Kibul... yah, Kibul baru sadar kalau bau ikan busuk tadi bau ikan. "Ih, bau ikan ya?" gumamnya saat kami sudah jalan 200 meter. Telat, Bul. Telat banget.
Baru saja kami mau menyeberang jalan besar, tiba-tiba sebuah mobil polisi Islandia lewat pelan. Sirinenya mati, tapi lampu rotatormu menyala biru. Gue reflek nunduk.
"Santai, Mon. Kita bukan kriminal," kata Dado, berusaha menenangkan dirinya sendiri padahal kakinya gemetar kayak lagi main mesin jahit.
Mobil polisi itu berhenti tepat di depan kami. Seorang polisi wanita turun. Cantik sih, tapi mukanya galak kayak ibu kost nagih tunggakan tiga bulan. Di tangannya ada selembar kertas. Poster Buronan.
"Permisi," kata polisi itu dalam bahasa Inggris. "Apa kalian melihat orang ini?"
Dia menyodorkan sketsa wajah buronan itu ke muka gue.
Gue, Dado, dan Kibul menatap sketsa itu.
Jantung gue berhenti berdetak sesaat.
Sketsa itu... jelek banget. Serius. Itu kayak gambar anak TK yang baru belajar megang krayon. Bentuk kepalanya lonjong kayak kentang, matanya satu gede satu kecil, hidungnya cuma titik dua, dan rambutnya jabrik kayak sapu ijuk mekar. Di bawahnya tertulis:
WANTED: THE CHAMELEON
INTERNATIONAL FUGITIVE
EXTREMELY DANGEROUS
Gue mau ketawa saking jeleknya gambar itu. Tapi tawa gue tertahan di tenggorokan saat gue sadar satu hal.
Si Polisi wanita itu menatap sketsa, lalu menatap gue.
Menatap sketsa lagi.
Menatap gue lagi.
"Buset..." bisik gue.
Secara ajaib, meskipun gambarnya kayak kentang busuk, guratan garis takdir di sketsa itu MIRIP BANGET SAMA GUE! Terutama di bagian rambut jabrik dan... tahi lalat di dagu yang digambar pakai spidol tebal.
"Hah? Itu Bimon!" seru Kibul polos sambil menunjuk sketsa itu. "Wah, Bimon masuk koran! Hebat lu, Mon!"
GUBRAK!
Mampus gue. Mulut Kibul emang nggak ada filter, nggak ada rem, nggak ada otak.
Mata polisi itu membelalak. Tangannya langsung bergerak ke arah pistol di pinggangnya. "Hands up! Don't move!"
"Lariiiiii!" teriak gue sambil melempar paket ke Dado (biar kalau ditembak, Dado yang kena duluan—becanda deng, biar gue bisa lari lebih kencang).
"Kenapa gue yang bawa bom iniii!" jerit Dado histeris.
Kami bertiga lari terbirit-birit membelah trotoar beku Reykjavik, dikejar polisi cantik tapi galak, sementara Kibul lari paling belakang sambil teriak, "Mon! Tanda tangannya minta nanti aja! Jangan lari!"
Ya Tuhan, kenapa hidup gue kayak sinetron azab versi internasional begini?!