BAB 6

BAB 5: ES SERUT RASA MAFIA

MISTERI PAKET BEDAK BAYI DAN BURONAN WAJAH KENTANG

BAB 5: ES SERUT RASA MAFIA

🗓 03 Sep 2025 👁 373 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 5: ES SERUT RASA MAFIA

BYUUUUR!

Pernah nggak kalian minum air es, terus airnya tumpah ke baju? Dingin kan? Nah, kalikan rasa dingin itu dengan seribu, tambah sejumput rasa sakit kayak ditusuk jarum pentul sekujur badan, plus sensasi paru-paru kayak dipompa pake nitrogen cair.

Itulah yang gue rasakan saat tubuh gue menghantam permukaan sungai es di dasar jurang.

Dinginnya... Naudzubillah Min Dzalik.

Rasanya kayak dipeluk sama Dementor yang habis makan es krim McFlurry.

"BLUP... BLUP... TUNGGUIN... GUE... BLUP!" Gue timbul tenggelam. Arus sungai ini deras banget, kayak arus mudik di tol Cipali H-2 lebaran.

Di sebelah gue, Dado berteriak histeris, tapi nggak ada suaranya karena bibirnya kaku. Dia cuma melambai-lambaikan tangan kayak orang lagi senam kesegaran jasmani yang salah gerakan.

"Kibul! Do! Pegangan!" teriak gue susah payah.

Di depan gue, ada benda besar mengapung. Warnanya hitam. Gue pikir itu batang kayu atau ban bekas truk tronton. Dengan sisa tenaga, gue berenang gaya anjing kejepit pintu menuju benda itu. Gue peluk erat-erat buat pelampung.

Ternyata itu Boris. Si Bos Mafia.

Dia pingsan. Wajah sangarnya sekarang kelihatan damai, kayak bayi gorila yang lagi bobok siang. Masalahnya, badan dia berat banget! Bukannya ngapung, gue malah ikut keseret ke bawah.

"Wadidaw! Lepasin nggak ya? Lepasin nggak ya?" batin gue bergejolak. Kalau dilepas, dia mati kedinginan. Kalau nggak dilepas, gue yang mati keberatan dosa—eh, keberatan badan dia.

Tapi dasar Bimon hati Hello Kitty, gue nggak tega. Gue seret kerah baju Boris sambil menendang-nendang air.

"Bul! Do! Ke pinggir! Ada goa di sana!"

Kami terbawa arus masuk ke sebuah celah besar di dinding tebing. Di dalamnya ternyata ada daratan berpasir hitam (pasir vulkanik, kata guru Geografi gue dulu, kalau beliau nggak bohong).

Dengan napas ngos-ngosan kayak kuda delman habis narik penumpang obesitas, kami bertiga plus satu mafia pingsan merangkak naik ke daratan.

Kami terkapar. Basah kuyup. Menggigil hebat.

Trrrr.... trrrrr.... trrrrr....

Itu suara gigi kami bertiga adu mekanik.

"Mon..." panggil Dado, suaranya bergetar hebat. "Gue... gue nggak bisa ngerasain kaki gue. Jangan-jangan kaki gue udah copot dan hanyut ke laut Atlantik?"

Gue menengok ke kaki Dado. "Masih ada, Do. Cuma sepatu kiri lu ilang. Sekarang lu resmi jadi Cinderella versi gembel."

Kibul duduk sambil memeras air dari jaketnya. Anehnya, dia kelihatan paling santai. "Seger ya, Mon. Kayak mandi pagi di Puncak, tapi airnya pake es batu kristal."

"Seger pala lu peyang!" bentak gue. "Kita ini lagi di ambang kematian akibat hipotermia! Kita butuh api! Kita butuh kehangatan! Kita butuh pelukan kasih sayang!"

Tiba-tiba, Boris terbatuk. UHUK!

Air muncrat dari mulutnya kayak air mancur bunderan HI. Dia sadar.

Mata Boris terbuka. Merah menyala. Dia langsung duduk tegak, menatap kami bertiga dengan tatapan membunuh. Tangannya meraba pinggang, mencari pistol. Tapi pistolnya udah raib ditelan sungai.

"Kalian..." geramnya. Suaranya serak-serak basah (beneran basah). "Kalian menceburkanku ke sungai es? Di mana The Device?!"

Gue, Dado, dan Kibul mundur serempak sampai punggung kami nempel dinding goa yang dingin.

"Anu, Om Boris... The Device itu..." Gue ngasih kode mata ke Kibul.

"Udah jadi bubur, Om," sahut Kibul polos.

Boris meraung marah. Dia mau berdiri buat nyekek gue, tapi kakinya kepeleset lumut. GUBRAK! Dia jatuh telungkup mencium pasir hitam.

"Sialan!" umpat Boris. "Kakiku kram!"

Gue memberanikan diri. "Denger ya, Om Boris yang terhormat. Kita ini senasib sepenanggungan sekarang. Di luar sana badai salju, di sini dinginnya minta ampun. Kalau Om bunuh kita, siapa yang bakal mijitin kaki Om yang kram? Pikir pake logika dong!"

Boris diam. Dia menatap kami, lalu menatap kakinya yang kaku. Dia mendengus kasar.

"Baiklah. Gencatan senjata. Sampai aku bisa berjalan lagi. Setelah itu..." Dia bikin gerakan menggorok leher pake jempol. Serem banget, kayak iklan layanan masyarakat tentang bahaya begal.

"Deal!" seru gue cepat. "Sekarang, tugas pertama: Cari cara biar kita nggak jadi es loli."

Di dalam goa itu gelap, tapi ada pendaran cahaya biru dari langit-langit. Indah sih, kalau aja gue nggak lagi sibuk menahan pipis karena kedinginan. Gue merogoh saku celana. Ada korek api gas yang gue temuin di jalan tadi pagi.

Gue coba nyalain. Ctek. Ctek.

Nyala! Api kecil menari-nari. Alhamdulillah, masih ada harapan hidup.

"Kumpulkan sampah!" perintah gue. "Apapun yang bisa dibakar! Ranting, lumut kering, atau... dompetnya Dado!"

"Eh, kok dompet gue?!" protes Dado.

"Isinya struk utang semua kan? Bakar aja, itung-itung melupakan masa lalu!"

Kami pun membuat api unggun kecil di tengah goa, dikelilingi tiga cowok Indonesia yang nasibnya apes dan satu mafia Rusia yang natap api dengan wajah dendam kesumat.

Selamat datang di Camping Ceria Bencana Alam.

===BATAS BAB===

BAB 6: GOA KRISTAL DAN PENEMUAN KONYOL

Api unggun menyala redup, bahan bakarnya cuma ranting-ranting hanyut dan syal bulu palsu Dado yang ternyata mudah terbakar (dan baunya kayak plastik kebakar campur terasi).

Kami duduk melingkar. Badan gue mulai anget dikit, tapi baju masih basah. Rasanya lengket dan nggak nyaman, kayak pake baju renang seharian tapi nggak nyebur kolam.

Boris duduk di seberang gue, menatap gue tajam.

"Kau..." tunjuknya. "Kau bukan Chameleon."

Gue nyengir kuda. "Baru sadar, Bos? Dari tadi gue teriak-teriak gue Bimon, kurir paket yang kejebak situasi. Muka gue emang pasaran, tapi hati gue limited edition."

"Lalu kenapa wajahmu ada di database Interpol?" tanya Boris bingung.

"Mungkin Interpol salah input data? Atau pelukis sketsanya lagi mabok lem?" sahut Dado sambil menggosok-gosok tangannya.

Boris menggeleng, seolah nggak percaya dia baru aja hampir mati gara-gara ngejar tiga curut yang IQ-nya kalau digabungin masih di bawah standar kelulusan SD.

"Hei, liat deh!" seru Kibul tiba-tiba. Dia berdiri di pojok goa, menunjuk ke dinding es.

"Apaan lagi, Bul? Jangan bilang lu nemu fosil dinosaurus lagi main catur," ledek gue.

"Bukan, Mon. Liat tuh, ada yang kling-kling di dalem es!"

Gue dan Dado mendekat. Boris ikutan ngesot karena penasaran.

Benar saja. Di dalam lapisan es tebal dinding goa, ada sebuah benda yang membeku. Benda itu berkilauan kena pantulan cahaya api unggun. Bentuknya kotak, emas, dan terlihat sangat berharga.

"Harta karun Viking!" mata Dado langsung hijau, atau minimal kuning kecoklatan mata duitan. "Kita kaya, Mon! Kita bisa beli tiket pulang! Kita bisa beli pabrik cilok!"

"Minggir!" Boris mendorong Dado. Matanya berbinar. "Itu pasti Emas Aztec yang hilang! Atau Harta Karun Templar! Nilainya milyaran!"

Jiwa serakah kami berempat bangkit. Lupa dingin, lupa lapar, lupa kalau Boris mau bunuh kami. Kami bersatu padu memecahkan es itu.

Gue pake batu. Dado pake sisa sepatu. Boris pake kepalan tangan besinya. Kibul... Kibul pake doa dan semangat.

DOK! DOK! DOK!

"Dikit lagi! Keliatan ukirannya!" teriak Boris semangat. "Ayo dorong lebih kuat!"

PRAAAK!

Lapisan es itu pecah. Benda emas itu jatuh ke lantai pasir.

Kami berempat berebut ngambil.

"Punya gue!"

"Minggir lu!"

"Gue yang liat duluan!"

Akhirnya, gue yang berhasil megang. Benda itu berat, dingin, dan berkilauan. Gue angkat tinggi-tinggi biar kena cahaya api.

Kami semua menahan napas. Menunggu kemilau kejayaan.

Gue amati baik-baik. Ada tulisan ukiran di sisinya.

Gue baca pelan-pelan.

"SELAMAT MENIKMATI BISKUIT KALENG KHONG GUAN. EDISI SPESIAL LEBARAN 1998."

Hening.

Sunyi.

Senyap.

Hanya suara tetesan air tik... tik... tik...

"Kaleng biskuit?" bisik Dado, suaranya parau penuh kekecewaan.

"Kaleng biskuit..." ulang gue lemas.

Boris merebut kaleng itu dari tangan gue. Dia membukanya paksa dengan tangan gemetar.

"Mungkin isinya berlian... mungkin isinya peta harta karun..." gumamnya penuh harap.

Tutup kaleng terbuka. Ctek.

Isinya...

Rengginang.

Beneran rengginang. Udah bulukan, warnanya ijo lumut, beku membatu.

"GUBRAAAK!"

Kami bertiga jatuh terlentang saking syoknya.

Gimana ceritanya ada kaleng Khong Guan isi rengginang beku di dalem goa es terpencil di Islandia?! Apakah emak-emak Indonesia pernah piknik ke sini tahun 98 terus ketinggalan bekal?!

Boris menatap rengginang itu dengan tatapan nanar. "Apa ini? Senjata biologis?"

"Bukan, Bos," jawab Kibul santai. "Itu camilan legend. Kalau digigit bisa bikin gigi rontok. Cobain deh."

Boris melempar kaleng itu ke dinding dengan frustrasi. "ARGHHH! AKU DIKELILINGI ORANG IDIOT DAN SAMPAH!"

Gue cuma bisa ketawa miris. Tertawa di atas penderitaan. Emang bener kata pepatah, "Jangan menilai buku dari sampulnya, dan jangan menilai kaleng Khong Guan dari luarnya." Isinya nggak pernah biskuit, Bro. Selalu zonk.

"Udah, udah," kata gue sambil bangkit. "Mending kita jalan. Apinya udah mau mati. Kalau kita diem di sini terus, kita bakal berakhir jadi rengginang beku juga kayak di kaleng itu."

Kami memutuskan untuk menelusuri goa itu lebih dalam, berharap ada jalan keluar di ujung sana. Boris berjalan pincang di belakang, menggerutu pakai bahasa Rusia yang kedengarannya kayak mantra santet.

Jalanan di dalam goa makin sempit dan licin. Stalaktit tajam menggantung di atas kepala kayak pedang Damocles yang siap jatuh kapan aja.

"Awas kepala," peringatkan gue.

DUK!

"Aduh!" Dado kejedot.

"Telat ngasih taunya, Mon!" protes Dado sambil megangin jidatnya yang langsung benjol segede bakpao.

"Sstt! Diam!" tiba-tiba Boris berhenti. Dia menempelkan kupingnya ke dinding goa.

"Kenapa, Om? Ada suara dangdutan?" tanya Kibul.

"Ada suara angin," bisik Boris tegang. "Dan suara... napas."

"Napas?" bulu kuduk gue meremang. "Napas siapa? Naga? Beruang kutub?"

"Lebih besar," kata Boris. "Suaranya berat. Hhhhrrrrggghhhh...."

Kami saling pandang. Di ujung lorong yang gelap, terlihat sepasang mata menyala kuning. Besar. Tinggi.

Dan bayangannya... besar banget. Berbulu lebat.

"Itu... Yeti!" jerit Dado tertahan.

Gue menelan ludah. "Oke, Penonton. Kayaknya genre novel ini berubah dari Komedi Petualangan jadi Horor Thriller. Siapkan popok kalian."

===BATAS BAB===

BAB 7: YETI ATAU YANTO?

Makhluk itu berdiri di ujung lorong, menghalangi satu-satunya jalan keluar. Tingginya sekitar dua setengah meter, badannya lebar kayak lemari jati tiga pintu, dan seluruh tubuhnya tertutup bulu gimbal yang kusam.

Baunya? Masha Allah. Baunya kayak campuran kambing basah, keju basi, dan ketek orang yang lari maraton Jakarta-Surabaya tanpa deodoran.

"Itu pasti Yeti!" bisik Dado, kakinya gemetar bikin suara tak-tak-tak di lantai es. "Monster salju legendaris! Kita bakal dimakan, Mon! Tulang kita bakal dijadiin tusuk gigi!"

Boris, meskipun jahat, ternyata punya nyali gede (atau cuma gengsi). Dia mengambil bongkahan es tajam. "Aku akan menghadapinya. Kalian, para pengecut, jadi umpan."

"Dih, enak aja! Lu aja sana yang jadi main course, kita jadi dessert belakangan!" tolak gue.

Makhluk itu melangkah maju. BUM! BUM! Getarannya kerasa sampai ke gigi geraham gue.

Dia mengangkat tangannya yang besar, memegang sebuah tongkat raksasa.

"RAAAWWRRRRR!" Makhluk itu meraung. Suaranya menggema di seluruh goa, bikin stalaktit di atas kami rontok satu-satu.

"Lariii!" teriak gue. Tapi lari ke mana? Di belakang jalan buntu, di depan ada monster.

"Tunggu," kata Kibul tiba-tiba. Dia maju selangkah.

"Bul! Jangan cari mati! Lu mau ngajak salaman?!" Gue mau narik Kibul, tapi telat.

Kibul menyipitkan mata, menatap makhluk itu. "Itu bukan Yeti, Mon."

"Mata lu siwer! Jelas-jelas itu monster!"

"Bukan. Liat deh kakinya," tunjuk Kibul.

Gue melihat ke bawah. Makhluk itu... pake sepatu boots karet warna kuning? Mereknya "Crocodile"?

Sejak kapan Yeti belanja di pasar Inpres?

Tiba-tiba makhluk itu bersin. HATCHIII!

Bulu-bulu di kepalanya tersingkap. Dan di balik bulu tebal itu, terlihat wajah seorang kakek-kakek tua dengan jenggot putih panjang yang nyambung sama rambut gimbalnya. Kulitnya keriput, matanya biru terang.

"Heh? Manusia?" Gue melongo.

Si Kakek itu mengusap hidungnya dengan lengan baju yang terbuat dari kulit domba. Dia menatap kami dengan bingung.

"Hae ya? Kvað er í gangi hér?" (Halo? Apa yang terjadi di sini?) ucapnya dalam bahasa asing yang terdengar kumur-kumur.

"Dia ngomong apaan, Mon?" tanya Dado. "Bahasa Yeti?"

"Itu Bahasa Islandia, bego," sahut Boris, menurunkan bongkahan esnya. "Dia bukan Yeti. Dia cuma penduduk lokal yang... eccentric."

Gue memberanikan diri menyapa. "Ehem. Excuse me, Mbah. We are... lost tourist. Not food. Please don't eat us."

Si Kakek menatap gue, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Eat you? No, no! You look like... skinny chicken! No meat!" Dia bisa bahasa Inggris patah-patah!

"Alhamdulillah, kita dikatain ayam kurus," gumam gue lega.

"Nama saya Bjorn," kata Kakek itu sambil menepuk dadanya. "Saya penjaga domba. Kenapa kalian di goa saya? Ini tempat saya simpan keju fermentasi!"

Pantesan baunya busuk! Ternyata bukan bau monster, tapi bau keju yang difermentasi pake metode let-it-rot-until-it-moves.

"Kami jatuh dari tebing, Mbah Bjorn," jelas gue. "Kami butuh bantuan. Kami kedinginan, lapar, dan dikejar nasib buruk."

Bjorn mengangguk-angguk. Dia menatap Boris. "Dan pria besar ini? Dia terlihat seperti beruang yang sakit perut."

"Dia... teman kami. Agak gila dikit, tapi jinak kok," bohong gue. Boris melotot, tapi gue injek kakinya.

"Baiklah. Kalian boleh ikut ke gubuk saya," kata Bjorn. "Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini. Kalian harus bantu saya."

"Bantu apa aja, Mbah! Nyangkul? Masak? Mijit?" tawar Dado antusias.

"Bantu saya... tangkap Lucifer," kata Bjorn dengan nada serius. Wajahnya berubah kelam.

"Lucifer? Iblis?" Gue merinding lagi.

"Bukan. Lucifer itu domba kesayangan saya. Domba jantan. Dia kabur lagi. Dia... special. Cepat sekali. Pintar sekali. Dan jahat sekali."

Kami bertiga dan satu mafia saling pandang.

Nangkep domba? Seberapa susah sih nangkep domba? Kami pernah dikejar anjing herder, dikejar bencong di lampu merah, dikejar deadline. Masa sama domba aja kalah?

"Gampang, Mbah!" kata gue sombong. "Serahkan pada Tim Bimon!"

Bjorn tersenyum misterius. Senyum yang menyiratkan: Kalian belum tau aja lu bakal ngadepin apa.

Kami keluar dari goa mengikuti Bjorn. Di luar badai salju sudah reda, menyisakan hamparan padang es putih yang luas. Di kejauhan, terlihat sebuah titik putih yang bergerak lincah.

"Itu dia," tunjuk Bjorn. "Lucifer."

Domba itu berhenti. Dia menoleh ke arah kami. Matanya merah (efek pantulan cahaya sih, tapi tetep serem). Dia mengembik.

MBEEEEEEK!

Suaranya berat, kayak suara motor Harley Davidson yang lagi dipanansin.

"Oke," kata gue sambil meregangkan otot. "Operasi Penyelamatan Domba dimulai. Do, lu flank kiri. Kibul, lu flank kanan. Boris, lu... lu jadi kiper di tengah. Gue bakal sergap dari belakang."

"Jangan perintah aku!" bentak Boris. Tapi dia tetep ngambil posisi.

Kami nggak sadar, ini bakal jadi olahraga kardio paling mematikan dalam hidup kami.

===BATAS BAB===

BAB 8: OPERASI PENYELAMATAN DOMBA

Strategi sudah disusun. Formasi 1-2-1 ala timnas tarkam sudah diterapkan. Kami bergerak mengendap-endap mendekati Lucifer si Domba Neraka.

Domba itu lagi asik makan lumut di atas batu es. Dia kelihatan tenang, tak berdosa, fluffy banget kayak awan kumulonimbus.

"Satu... dua... TIGA! SERGAP!" teriak gue.

Kami berempat lari serentak dari segala arah.

"Hyaaaa!" Dado loncat mau nangkep.

"Rasakan pelukanku!" Kibul merentangkan tangan.

"Mati kau domba!" Boris siap menerkam.

Tapi si Lucifer ternyata punya reflek kayak atlet ninja warrior.

Zrrrt!

Dia melompat ke samping dengan gerakan side-step yang mulus banget.

GUBRAK!

Kepala Dado beradu sama perut Boris.

JEDUG!

Kepala gue beradu sama pantat Kibul.

Kami bertumpuk jadi satu gundukan manusia bodoh di atas salju.

MBEEEEEEEK! (Terjemahan: Mampus lu semua!)

Lucifer berlari menjauh sambil melakukan gerakan yang gue curiga itu taunting alias ngejek. Dia lari sambil nendang-nendang kaki belakangnya ke udara.

"Kurang ajar! Domba itu ngejek kita!" teriak Boris, memegangi perutnya yang abis diseruduk kepala Dado. "Aku akan membakarnya jadi sate klatak!"

"Kejar!" perintah gue.

Kejar-kejaran pun terjadi. Bayangkan adegan film Fast and Furious, tapi ganti mobil sport dengan domba gila dan empat orang yang lari kepeleset-peleset di atas es.

Lucifer lari kencang banget. Dia loncat dari satu bongkahan es ke bongkahan lain dengan lincah. Kami di belakangnya jatuh bangun.

"Aduh! Tulang ekor gue!" jerit Dado saat dia jatoh duduk untuk kelima kalinya.

"Semangat, Do! Anggap aja lagi ngejar dosen pembimbing!" semangati gue.

Lintasan lari kami makin lama makin aneh. Dari padang datar, Lucifer membawa kami naik ke bukit es yang curam.

"Mbah Bjorn mana sih? Kok dia nggak bantuin?" tanya Kibul sambil ngos-ngosan.

Gue nengok ke belakang. Mbah Bjorn duduk santai di atas batu di kejauhan, nonton sambil makan biskuit (bukan biskuit rengginang tadi ya). Dia melambai ceria. "Run, Forrest, Run!" teriaknya. Sialan si Mbah.

Kami sampai di puncak bukit. Lucifer berhenti di bibir jurang yang curam. Di bawah sana, ada hamparan landai yang panjang banget, kayak perosotan raksasa alami.

Kami mengepungnya. Napas kami senin-kamis. Uap putih keluar dari mulut kayak cerobong pabrik.

"Habis lu sekarang," desis Boris. Dia mencabut sebatang kayu besar yang dia pungut di jalan.

Lucifer menatap kami satu peratu. Lalu dia melakukan hal yang tak terduga.

Dia duduk.

Terus dia meluncur ke bawah jurang itu dengan pantatnya.

WUUUSSS!

Dia main perosotan!

"Gila! Domba itu main seluncuran!" teriak Kibul kagum.

"Jangan biarkan lolos!" teriak gue. "Kita harus seluncuran juga!"

"Apa?! Nggak mau, Mon! Tinggi banget!" tolak Dado.

Tanpa ba-bi-bu, gue dorong Dado. "Demi 50.000 Krona!"

"AAAAAAaaaa....!" Dado meluncur ke bawah.

Gue dorong Kibul. "Demi pengalaman hidup!"

"Asyiiiiik!" Kibul meluncur.

Gue liat Boris. Boris liat gue.

"Jangan berani-berani menyentuhku," ancam Boris.

"Oke, lu jalan kaki aja," kata gue, lalu gue loncat meluncur.

Boris, karena nggak mau ditinggal sendirian di gunung, akhirnya terpaksa loncat juga sambil memaki-maki.

Kami meluncur dengan kecepatan tinggi di atas es. Rasanya seru campur ngeri. Angin menampar muka sampai pipi gue rasanya kendor.

"Wuhuuuu! Ini lebih seru dari Dufan!" teriak gue.

Tapi keseruan itu sirna saat gue liat di ujung landasan seluncuran itu bukan lapangan rumput empuk, melainkan sebuah pagar kawat berduri tinggi dengan tulisan besar:

WARNING! RESTRICTED AREA!

MILITARY BASE - SECTOR 7

TRESPASSERS WILL BE SHOT

"REM! REM! RAAAMEEEMMM!" teriak gue panik. Gue coba ngerem pake tumit, tapi malah bikin gue muter-muter kayak baling-baling bambu.

Lucifer si domba setan itu dengan santainya melompat melewati celah kecil di bawah pagar.

Sedangkan kami? Badan kami segede gaban mana muat?!

"Awas Pagar!" teriak Dado.

BRAAAK!

Kami berempat menabrak pagar kawat itu dengan kecepatan penuh. Pagarnya roboh karena emang udah karatan (untung aja). Kami terus meluncur masuk ke dalam area terlarang itu.

Kami berhenti tepat di tengah-tengah lapangan luas yang penuh dengan... tank baja dan pesawat tempur canggih.

Hening.

Debu salju beterbangan.

Tiba-tiba, lampu sorot menyala dari segala arah. Menyorot kami berempat yang lagi tumpang tindih kayak sarden kalengan.

Suara sirine meraung-raung. NGUING! NGUING! NGUING!

Puluhan tentara bersenjata lengkap lari keluar dari barak, mengepung kami. Senapan laras panjang mengarah ke hidung kami.

Seorang komandan tentara maju. Mukanya garang, kumisnya baplang.

"Siapa kalian?! Mata-mata?!" bentaknya.

Gue mengangkat tangan perlahan. Badan gue sakit semua.

"Kami... kami cuma penggembala domba, Pak," jawab gue memelas.

"Domba?" Komandan itu mengkerutkan kening.

Di belakang kaki komandan itu, Lucifer si domba muncul. Dia mengembik manis sambil menggesek-gesekkan kepalanya ke kaki si Komandan.

"Mbeek..."

"Lucifer?" Komandan itu kaget. "Kamu sudah pulang? Dan kamu bawa... mainan baru?"

Kami berempat melongo.

Ternyata... itu domba peliharaan si Komandan?! Terus Mbah Bjorn tadi siapa? Penipu?!

"Tangkap mereka!" perintah Komandan. "Masukkan ke Sel Pembeku!"

"Wadidaw! Masuk kulkas lagi kita, Gays!" teriak gue pasrah saat tentara-tentara itu menyeret kami.

Nasib, nasib. Niat hati mau jadi kaya, malah jadi tahanan militer gara-gara domba durhaka. Penulis, tolong dong alurnya jangan sadis-sadis amat!

(Penulis: Sabar ya Mon, biar seru. Lagian siapa suruh percaya sama kakek-kakek yang tinggal di goa bau keju?)

===BATAS BAB===

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G