BAB 1

BAB 1: SELASA TANPA GRAVITASI

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 1: SELASA TANPA GRAVITASI

🗓 09 Dec 2025 👁 1,097 Views

BAB 1: SELASA TANPA GRAVITASI

Sudah menjadi pengetahuan umum di Kompleks Melati Indah bahwa setiap hari Selasa, antara pukul 09.00 pagi hingga 11.30 siang, gravitasi di area Blok C hingga F memutuskan untuk mengambil cuti pendek. Tidak ada yang tahu kenapa, dan sejujurnya, tidak ada yang terlalu peduli untuk mencari tahu. Profesor Firman di Blok D pernah mencoba menelitinya, tapi dia berhenti setelah menyadari bahwa melayang-layang membuat jas lab-nya kusut.

Bagi Pak Budi, pensiunan PNS di Blok E, ini adalah gangguan logistik yang menyebalkan. Pagi ini, seperti Selasa pagi lainnya, dia kehabisan telur tepat pukul sepuluh. Dia menghela napas panjang, menatap kalender dapur yang melayang perlahan di dekat plafon. "Kenapa harus habis sekarang, sih?" gerutunya pada kucingnya, si Belang, yang saat itu sedang tidur melingkar dengan nyaman di udara, sekitar setengah meter di atas sofa.

Pak Budi mengenakan helm sepeda (bukan untuk keselamatan, tapi agar rambutnya tidak berantakan saat menabrak plafon) dan mengambil tas belanja. Dia mendorong dirinya dari kusen pintu dapur, meluncur perlahan melintasi ruang tamu seperti seorang astronaut yang kelebihan berat badan dan kurang motivasi. Keluar rumah adalah tantangan tersendiri. Dia harus menarik dirinya di sepanjang pagar teras, hati-hati agar tidak hanyut terlalu tinggi dan tersangkut di kabel listrik.

Di jalanan kompleks, pemandangannya sudah biasa. Bu Tejo, tetangga yang terkenal cerewet, sedang "berenang" gaya dada di ketinggian dua meter sambil membawa keranjang cucian basah. Dia menyapa Pak Budi dengan nada sedikit kesal, "Pak Budi! Tolong tangkap jemuran saya yang itu, tadi lepas kena angin!" Pak Budi melihat sehelai celana panjang melayang melewatinya. Dengan enggan, dia melakukan manuver berputar yang kikuk, menangkap celana itu, dan melemparkannya kembali ke arah Bu Tejo.

Perjalanan ke warung Pak RT—yang untungnya berada di zona gravitasi normal di Blok A—memakan waktu dua kali lebih lama. Masalah utamanya bukanlah ketiadaan bobot, melainkan rasa malu. Pak Budi merasa teknik "berenang di udara"-nya sangat tidak elegan dibandingkan dengan anak-anak kompleks yang meluncur dengan lincah seolah-olah mereka terlahir di stasiun luar angkasa. Sesampainya di warung, dia mendarat dengan bunyi 'gedebuk' pelan saat gravitasi kembali menyapanya. Dia membeli telur, mengeluh sebentar pada Pak RT tentang betapa susahnya membawa telur saat melayang, lalu bersiap untuk perjalanan pulang yang melelahkan. Ini baru hari Selasa, pikirnya, dan dia sudah kelelahan melawan hukum fisika hanya untuk sarapan.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G