Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 12: MEMBAYAR PARKIR DENGAN WAKTU
Di pusat perbelanjaan 'Mall Megah Penuh Bohong', sistem parkir mereka unik. Anda tidak membayar dengan uang, tetapi dengan menit hidup Anda yang tersisa. Anda cukup menempelkan kartu identitas elektronik (KIE) Anda, dan sistem akan memotong 10 menit dari sisa usia hidup Anda untuk setiap jam parkir.
Arif, seorang mahasiswa yang sedang berhemat, tahu betul cara bermain di sistem ini. Dia memarkir motornya di basement dan melihat jam digital di display parkir: Usia Tersisa: 60 Tahun, 12 Bulan, 4 Hari, 5 Jam.
Arif hanya perlu membeli charger ponsel selama 30 menit. Ia tahu jika ia hanya di dalam 30 menit, sistem parkir hanya akan membulatkan pemotongan ke nol menit karena dianggap 'toleransi kemanusiaan'. Tapi jika ia lebih dari 30 menit, pemotongan akan langsung dihitung 1 jam (10 menit usia).
Arif berlari kencang. Dia menemukan toko ponsel, mengambil charger, dan berlari ke kasir. Dia melihat jam tangan. Waktu sudah menunjukkan 29 menit 45 detik.
Tiba-tiba, di depannya ada seorang bapak-bapak tua yang sedang berdebat sengit dengan kasir. Bapak itu ingin membayar charger tersebut dengan koin kuno yang sudah tidak berlaku.
"Pak, tolong cepat! Saya sudah mau habis waktu!" bisik Arif panik.
Bapak itu menoleh. "Oh, anak muda. Santai saja. Saya ini sudah 90 tahun. Sisa hidup saya di KIE tinggal 3 jam. Sepuluh menit parkir itu cuma seperseribu dari sisa umur saya. Kamu yang masih muda, rugi besar kalau telat."
Arif merasa darahnya mendidih. Dia melihat jamnya: 30 menit 02 detik. Terlambat.
Dia buru-buru menyambar chargernya dan berlari menuju exit parkir. Dia menempelkan KIE-nya di mesin.
Lampu berkedip. Ada bunyi 'ding' pelan, dan suara robotik yang lembut berkata, "Terima kasih, pembayaran parkir satu jam berhasil. 10 menit telah dipotong dari sisa usia Anda."
Arif melihat display. Sisa usianya berkurang 10 menit. Rasanya sangat mahal. Ia rugi 10 menit usia yang seharusnya ia habiskan untuk tidur atau minum kopi, hanya gara-gara bapak-bapak yang iseng. Arif menyumpah dalam hati: di kota ini, waktu benar-benar uang, dan orang tua seringkali lebih kaya waktu daripada anak muda.