BAB 4

BAB 4: GRAVITASI KEBIASAAN

ALASAN UNTUK BERUBAH

BAB 4: GRAVITASI KEBIASAAN

๐Ÿ—“ 07 Sep 2025 ๐Ÿ‘ 799 Views
BAB 4: GRAVITASI KEBIASAAN

Memasuki minggu ketiga, realita mulai memukul balik dengan brutal.

Euforia awal telah menguap, menyisakan residu kelelahan yang nyata. Bangun jam lima pagi tidak lagi terasa heroik; itu terasa menyiksa. Otot-otot kakinya yang dipaksa lari setiap hari mulai protes dengan rasa nyeri yang konstan. Membaca buku pelajaran yang membosankan mulai terasa seperti menelan serbuk gergaji kering.

Pagi itu, hujan turun deras di luar. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti lagu pengantar tidur paling merdu di dunia. Suhu kamar Arden turun beberapa derajat, membuatnya semakin nyaman bergelung di balik selimut tebal.

Alarm berbunyi.

Arden membuka satu mata. Gelap. Dingin. Basah di luar.

"Hujan..." bisiknya.

Otaknya, yang selama dua minggu ini dipaksa diam, kini mulai bernegosiasi dengan licik. Ngapain lari kalau hujan? Nanti sakit. Kalau sakit malah nggak bisa sekolah. Mending istirahat sehari ini aja. Demi kesehatan.

Argumen itu terdengar sangat masuk akal. Sangat logis.

"Cuma hari ini," putusnya. Ia mematikan alarm dan kembali tidur.

Itu adalah retakan pertama di bendungan tekadnya.

Hari itu di sekolah, Arden merasa sedikit bersalah, tapi juga lega karena bisa tidur lebih lama. Namun, efek dominonya segera terasa. Karena tidak lari pagi, badannya terasa kurang segar. Di kelas, rasa kantuk menyerang lebih hebat dari biasanya.

Saat jam istirahat, Bimo datang membawa kabar gembira (atau bencana). "Den, nanti sore tournament antar kelas game baru itu lho. Tim kita kurang satu orang. Si Doni sakit. Lo gantiin ya? Please, cuma lo yang jago tanker."

Arden ragu. Di jadwal barunya, sore hari adalah waktu untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan PR. "Gue harus belajar, Bim."

"Yaelah, Den. Sekali doang! Ini semi-final! Lagian lo udah rajin dua minggu ini, masa sehari aja nggak boleh refreshing? Otak lo butuh hiburan, bro. Jangan kaku amat kayak kanebo kering."

Kata-kata Bimo menusuk tepat di titik lemahnya. Benar juga, pikir Arden. Aku sudah bekerja keras. Aku butuh reward.

"Oke. Sekali ini aja," kata Arden.

Sore itu, Arden kembali ke warnet. Aroma rokok, suara teriakan pemain, dan bunyi klik mouse yang frenetik menyambutnya seperti kawan lama yang hilang. Saat ia memegang keyboard, ada rasa nyaman yang luar biasa. Ini dunianya. Di sini dia adalah raja, bukan siswa bodoh yang berjuang memahami rumus kimia.

Mereka menang turnamen itu. Adrenalin kemenangan membuat Arden lupa waktu. Ia pulang jam delapan malam, lelah tapi puas.

"PR..." ingatnya saat melihat tas sekolah di kamar.

Ia membuka buku Matematika. Angka-angka menari di depannya, mengejeknya. Otaknya sudah lelah dipakai bermain game. Besok pagi aja di sekolah, pikirnya gampang. Toh aku udah pinteran dikit.

Besoknya, ia bangun kesiangan lagi. PR matematika tidak selesai. Ia menyontek punya teman di menit-menit terakhir. Rasa bersalah mulai menumpuk, tapi anehnya, semakin besar rasa bersalah itu, semakin malas ia memperbaikinya. Ia merasa sudah 'kotor' lagi, jadi untuk apa repot-repot membersihkan diri?

Dalam hitungan hari, rutinitas Arden runtuh total.

Lari pagi? Hilang.
Belajar malam? Diganti push rank.
Tugas? Kembali menumpuk.

Teman-temannya menyadari itu.

"Den, lo kok balik lagi kayak dulu?" celetuk Rio, salah satu teman sekelas yang sempat memujinya minggu lalu. Nadanya bukan bertanya, tapi mencemooh. "Gue kira tobatnya beneran. Ternyata cuma hangat-hangat tahi ayam."

Wajah Arden memerah padam. Ia ingin membantah, tapi tidak ada kata yang keluar. Fakta menamparnya telak di wajah.

"Emang dasarnya pemalas ya pemalas aja," bisik seseorang di belakangnya. Arden tidak menoleh, tapi ia tahu suara itu. Dan sakitnya bukan main.

Yang paling menyakitkan adalah saat ia berpapasan dengan Rania di koridor. Gadis itu melihatnya sedang dimarahi guru piket karena terlambat. Tatapan Rania kali ini bukan kasihan, melainkan... kecewa? Tidak, mungkin Arden hanya berimajinasi. Rania bahkan tidak pernah berharap apa-apa padanya. Tapi bagi Arden, rasanya ia baru saja menjatuhkan mahkota yang bahkan belum sempat ia pakai.

Ia gagal.

Ia mencoba berubah, dan ia gagal. Itu lebih menyakitkan daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Karena sekarang ia tahu rasanya berharap, dan ia sendiri yang menghancurkan harapan itu.

Arden duduk di bangkunya, menatap kosong ke papan tulis. Ia merasa kecil, tidak berdaya, dan terperangkap dalam siklus kegagalan yang tak berujung.

"Mungkin memang takdir gue kayak gini," batinnya pahit.

Tapi jauh di lubuk hatinya, ada suara kecil yang berteriak tidak terima. Suara yang ingin lari, ingin pergi jauh dari tatapan-tatapan meremehkan itu.

Sore itu, bel pulang berbunyi. Arden tidak langsung pulang. Ia tidak sanggup menghadapi kamarnya yang kini kembali berantakan. Ia tidak sanggup mendengar omelan ibunya yang pasti menyadari perubahan sikapnya.

Kakinya melangkah tanpa tujuan, membawanya menjauh dari sekolah, menjauh dari rumah, menuju satu-satunya tempat di kota itu di mana orang-orang datang dan pergi tanpa saling menghakimi.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 1

G

Rahmi Pudjiastuti

3 months ago

"yang nyata Bangun jam..." -> Nangis brutal jam segini.