BAB 1: TOPENG PORSELEN DI BAWAH MATAHARI PAGI
Dunia tidak pernah tahu bahwa di balik senyum yang terukir rapi di wajah Nayna, terdapat retakan-retakan halus yang siap pecah kapan saja. Pagi itu, matahari Kota Padang bersinar dengan teriknya, seolah mengejek siapa pun yang berani menyimpan mendung di dalam dada. Nayna menatap pantulan dirinya di cermin kusam yang tergantung miring di dinding kamarnya—sebuah kamar sempit yang ia bagi bersama tumpukan buku pelajaran dan harapan-harapan yang sering kali terasa terlalu berat untuk bahu remajanya.
"Kau baik-baik saja, Nay. Kau kuat," bisiknya pada bayangan itu.
Suaranya terdengar parau, sisa dari tangis yang ia redam di bawah bantal semalam. Nayna adalah seorang penipu ulung, dan panggung sandiwaranya adalah dunia nyata. Di sekolah, ia dikenal sebagai gadis ceria, si pembawa tawa yang suaranya paling lantang saat jam istirahat. Namun, tidak ada yang tahu bahwa tawa itu hanyalah mekanisme pertahanan. Sebuah benteng rapuh yang ia bangun bata demi bata untuk menutupi fakta bahwa fondasi jiwanya sedang runtuh.
Di luar kamar, suara batuk ayahnya terdengar bersahut-sahutan dengan suara denting piring yang dicuci ibunya. Suara-suara itu adalah simfoni pagi di rumah mereka. Sebuah rumah kontrakan kecil yang dindingnya menyimpan terlalu banyak keluhan tentang tagihan listrik, uang sekolah, dan harga beras yang terus melambung.
Nayna menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan aroma minyak telon dan kelembapan dinding rumah yang khas. Ia merapikan seragam putih birunya. Rok rempel biru tua itu sudah mulai memudar warnanya karena terlalu sering dicuci dan dijemur di bawah matahari khatulistiwa yang ganas, namun ia menyetrikanya dengan sangat hati-hati. Kerapian adalah satu-satunya kemewahan yang bisa ia miliki secara gratis.
"Nay, sudah siap?" suara ibunya terdengar dari dapur, lembut namun menyiratkan kelelahan yang abadi.
"Sudah, Bu!" jawab Nayna. Ia segera memoleskan senyum andalannya. Senyum 'Anak Pertama' yang harus terlihat tegar, yang harus menjadi contoh, yang tidak boleh mengeluh.
Saat ia melangkah keluar kamar, ia melihat Sheva, adik laki-lakinya, sedang duduk di ruang tengah sambil menyantap sarapan nasi goreng dengan lahap. Piring Nayna masih kosong di meja. Ia tahu, nasi semalam hanya cukup untuk satu porsi besar sarapan, dan seperti biasa, prioritas di rumah ini mengalir ke arah yang lebih muda.
"Makanlah sedikit, Nay. Ibu sisakan dua sendok di wajan," kata Ibunya sambil menyeka keringat di dahi. Wanita itu tampak lebih tua dari usianya, gurat-gurat kekhawatiran terukir jelas di wajahnya.
Nayna menggeleng pelan, meski perutnya berbunyi lirih. "Nggak usah, Bu. Nayna nanti jajan di sekolah saja. Sheva butuh tenaga, dia kan ada olahraga hari ini."
Itu adalah kebohongan pertama hari ini. Nayna tidak punya uang jajan. Sisa uang di sakunya hanya cukup untuk ongkos angkot pulang pergi. Jika ia lapar, ia akan meminum air putih dari botol minumnya sampai kembung.
Ia mencium punggung tangan ibunya, lalu tangan ayahnya yang duduk merokok di teras. Ayahnya hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh, matanya terpaku pada jalanan, entah memikirkan apa. Mungkin utang, mungkin pekerjaan serabutan yang semakin sulit didapat. Namun, ketidakacuhan itu tetap saja menusuk. Seolah keberadaan Nayna hanyalah ornamen statis di rumah itu—ada, tapi tidak perlu diperhatikan secara khusus.
"Hati-hati, Kak," gumam Sheva dengan mulut penuh nasi.
"Ya, belajar yang rajin," jawab Nayna, mengacak rambut adiknya. Ia menyayangi Sheva, sungguh. Namun, ada kalanya rasa iri itu merayap seperti ular berbisa di hatinya. Sheva, anak laki-laki, harapan penerus nama keluarga, yang selalu mendapatkan porsi nasi lebih banyak, perhatian lebih besar, dan tuntutan yang lebih ringan.
Nayna melangkah keluar pagar. Langit begitu biru, awan berarak putih bersih. Kontras sekali dengan badai yang mulai bergemuruh di dalam dadanya. Ia adalah anak kelas sembilan sekarang. Ujian di depan mata, ekspektasi keluarga di pundak kanan, dan rasa tidak percaya diri di pundak kiri.
Langkah kakinya menapaki aspal yang mulai memanas. Di setiap langkah, ia memasang kembali topeng porselennya. Ia harus ceria. Ia harus tertawa. Karena jika ia berhenti tertawa, ia takut ia akan mulai menjerit dan tidak bisa berhenti.
Perjalanan menuju sekolah adalah transisi mental baginya. Dari Nayna si anak sulung yang miskin dan prihatin, menjadi Nayna si teman yang asyik. Namun hari ini, rasanya topeng itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah lem perekatnya mulai meleleh di bawah terik matahari, mengancam akan memperlihatkan wajah aslinya yang lelah pada dunia.
... apakah hari ini adalah hari di mana semuanya retak?
Dunia tidak pernah tahu bahwa di balik senyum yang terukir rapi di wajah Nayna, terdapat retakan-retakan halus yang siap pecah kapan saja. Pagi itu, matahari Kota Padang bersinar dengan teriknya, seolah mengejek siapa pun yang berani menyimpan mendung di dalam dada. Nayna menatap pantulan dirinya di cermin kusam yang tergantung miring di dinding kamarnya—sebuah kamar sempit yang ia bagi bersama tumpukan buku pelajaran dan harapan-harapan yang sering kali terasa terlalu berat untuk bahu remajanya.
"Kau baik-baik saja, Nay. Kau kuat," bisiknya pada bayangan itu.
Suaranya terdengar parau, sisa dari tangis yang ia redam di bawah bantal semalam. Nayna adalah seorang penipu ulung, dan panggung sandiwaranya adalah dunia nyata. Di sekolah, ia dikenal sebagai gadis ceria, si pembawa tawa yang suaranya paling lantang saat jam istirahat. Namun, tidak ada yang tahu bahwa tawa itu hanyalah mekanisme pertahanan. Sebuah benteng rapuh yang ia bangun bata demi bata untuk menutupi fakta bahwa fondasi jiwanya sedang runtuh.
Di luar kamar, suara batuk ayahnya terdengar bersahut-sahutan dengan suara denting piring yang dicuci ibunya. Suara-suara itu adalah simfoni pagi di rumah mereka. Sebuah rumah kontrakan kecil yang dindingnya menyimpan terlalu banyak keluhan tentang tagihan listrik, uang sekolah, dan harga beras yang terus melambung.
Nayna menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan aroma minyak telon dan kelembapan dinding rumah yang khas. Ia merapikan seragam putih birunya. Rok rempel biru tua itu sudah mulai memudar warnanya karena terlalu sering dicuci dan dijemur di bawah matahari khatulistiwa yang ganas, namun ia menyetrikanya dengan sangat hati-hati. Kerapian adalah satu-satunya kemewahan yang bisa ia miliki secara gratis.
"Nay, sudah siap?" suara ibunya terdengar dari dapur, lembut namun menyiratkan kelelahan yang abadi.
"Sudah, Bu!" jawab Nayna. Ia segera memoleskan senyum andalannya. Senyum 'Anak Pertama' yang harus terlihat tegar, yang harus menjadi contoh, yang tidak boleh mengeluh.
Saat ia melangkah keluar kamar, ia melihat Sheva, adik laki-lakinya, sedang duduk di ruang tengah sambil menyantap sarapan nasi goreng dengan lahap. Piring Nayna masih kosong di meja. Ia tahu, nasi semalam hanya cukup untuk satu porsi besar sarapan, dan seperti biasa, prioritas di rumah ini mengalir ke arah yang lebih muda.
"Makanlah sedikit, Nay. Ibu sisakan dua sendok di wajan," kata Ibunya sambil menyeka keringat di dahi. Wanita itu tampak lebih tua dari usianya, gurat-gurat kekhawatiran terukir jelas di wajahnya.
Nayna menggeleng pelan, meski perutnya berbunyi lirih. "Nggak usah, Bu. Nayna nanti jajan di sekolah saja. Sheva butuh tenaga, dia kan ada olahraga hari ini."
Itu adalah kebohongan pertama hari ini. Nayna tidak punya uang jajan. Sisa uang di sakunya hanya cukup untuk ongkos angkot pulang pergi. Jika ia lapar, ia akan meminum air putih dari botol minumnya sampai kembung.
Ia mencium punggung tangan ibunya, lalu tangan ayahnya yang duduk merokok di teras. Ayahnya hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh, matanya terpaku pada jalanan, entah memikirkan apa. Mungkin utang, mungkin pekerjaan serabutan yang semakin sulit didapat. Namun, ketidakacuhan itu tetap saja menusuk. Seolah keberadaan Nayna hanyalah ornamen statis di rumah itu—ada, tapi tidak perlu diperhatikan secara khusus.
"Hati-hati, Kak," gumam Sheva dengan mulut penuh nasi.
"Ya, belajar yang rajin," jawab Nayna, mengacak rambut adiknya. Ia menyayangi Sheva, sungguh. Namun, ada kalanya rasa iri itu merayap seperti ular berbisa di hatinya. Sheva, anak laki-laki, harapan penerus nama keluarga, yang selalu mendapatkan porsi nasi lebih banyak, perhatian lebih besar, dan tuntutan yang lebih ringan.
Nayna melangkah keluar pagar. Langit begitu biru, awan berarak putih bersih. Kontras sekali dengan badai yang mulai bergemuruh di dalam dadanya. Ia adalah anak kelas sembilan sekarang. Ujian di depan mata, ekspektasi keluarga di pundak kanan, dan rasa tidak percaya diri di pundak kiri.
Langkah kakinya menapaki aspal yang mulai memanas. Di setiap langkah, ia memasang kembali topeng porselennya. Ia harus ceria. Ia harus tertawa. Karena jika ia berhenti tertawa, ia takut ia akan mulai menjerit dan tidak bisa berhenti.
Perjalanan menuju sekolah adalah transisi mental baginya. Dari Nayna si anak sulung yang miskin dan prihatin, menjadi Nayna si teman yang asyik. Namun hari ini, rasanya topeng itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah lem perekatnya mulai meleleh di bawah terik matahari, mengancam akan memperlihatkan wajah aslinya yang lelah pada dunia.
... apakah hari ini adalah hari di mana semuanya retak?