BAB 5

BAB 5: SIMFONI HUJAN DAN SEPATU DI DADA

Nayna, si Anak Pertama

BAB 5: SIMFONI HUJAN DAN SEPATU DI DADA

🗓 05 Sep 2025 👁 725 Views
BAB 5: SIMFONI HUJAN DAN SEPATU DI DADA

Keputusan itu sudah bulat, sekeras batu karang. Nayna tidak bisa lagi menunggu di sekolah yang kini terasa seperti rumah hantu. Hawa dingin sudah menembus seragam tipisnya, membuat giginya bergemeretuk tanpa henti.

Ia menatap sepatu hitamnya—sepatu "Warrior" yang baru dibeli ibunya bulan lalu dengan uang arisan. Jika sepatu ini basah kuyup dan rusak, ia tidak tahu kapan bisa membeli yang baru. Sepatu ini berharga. Lebih berharga dari kenyamanan kakinya sendiri.

Dengan tangan gemetar, Nayna membungkuk. Ia melepas tali sepatunya, menarik kakinya keluar, lalu melakukan hal yang sama pada sepatu sebelahnya. Ia menepuk-nepuk kaos kakinya yang sedikit lembap, lalu memasukkan kaos kaki itu ke dalam saku tas.

Sepatu itu ia jinjing di tangan kiri, sementara tangan kanannya memeluk tas ransel ke dada, berusaha melindungi buku-buku pelajaran dari serangan air. Buku adalah aset. Sepatu adalah aset. Dirinya? Dirinya hanyalah wadah yang harus menanggung basah.

"Bismillah..."

Nayna melangkah keluar dari naungan atap teras.

BYUR!

Dalam hitungan detik, tubuhnya langsung basah kuyup. Rasanya seperti disiram seember air es raksasa. Hujan bukan sekadar membasahi, tapi memukul. Butiran air yang turun dengan kecepatan tinggi terasa sakit saat menghantam kulit lengannya yang terbuka. Angin kencang langsung menampar wajahnya, membuat rambutnya yang panjang lengket menutupi pandangan.

Nayna berlari kecil menuju gerbang. Kakinya yang telanjang menginjak aspal kasar dan genangan air kotor. Kerikil tajam menusuk telapak kakinya, tapi rasa dingin membuat rasa sakit itu menjadi tumpul.

Jalanan di depan sekolah sepi, hanya ada beberapa mobil yang melaju kencang, mencipratkan air cokelat ke trotoar. Nayna berjalan di pinggir, tubuhnya menggigil hebat. Jarak dari sekolah ke rumahnya sekitar dua kilometer. Dalam kondisi normal, itu jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki santai selama 30 menit. Tapi di tengah badai, jarak itu terasa seperti perjalanan melintasi benua.

Setiap langkah adalah perjuangan. Angin berusaha mendorongnya mundur. Petir yang menyambar di langit membuat jantungnya seolah berhenti berdetak setiap kali kilatan cahaya itu muncul. Nayna takut petir. Sangat takut. Dulu, jika ada petir, ia akan sembunyi di balik punggung ayahnya.

Sekarang, punggung itu tidak ada.

"Ayah... kenapa nggak datang?" Pertanyaan itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak, berbaur dengan suara hujan.

Air mata Nayna mengalir deras, menyatu dengan air hujan di pipinya. Ia menangis bukan hanya karena takut, tapi karena rasa sakit di hatinya. Rasa sakit karena merasa tidak berharga. Rasa sakit karena merasa diabaikan.

Ia melihat sebuah motor melaju pelan dari arah berlawanan. Harapan sempat membumbung tinggi. Apakah itu Ayah yang akhirnya datang? Nayna menyipitkan mata, siap melambaikan tangan. Namun motor itu melewatinya begitu saja. Pengendaranya memakai jas hujan hijau, bukan ayahnya.

Nayna kembali menunduk, menatap aspal basah. Kakinya mulai terasa baal, mati rasa. Ia terus berjalan, menyeret langkah demi langkah. Ia melewati toko kelontong yang tutup, melewati pos ronda kosong, melewati pohon beringin tua yang tampak menyeramkan di bawah guyuran hujan.

Satu jam berlalu.

Nayna akhirnya berbelok ke gang rumahnya. Tubuhnya sudah mencapai batasnya. Bibirnya membiru, jari-jarinya keriput dan pucat. Namun, rasa lega sedikit menyeruak. Ia hampir sampai. Ia membayangkan akan segera masuk ke rumah, mengeringkan badan, dan mungkin ibunya sudah menyiapkan teh hangat. Ayahnya mungkin akan meminta maaf karena ketiduran atau motor mogok. Ya, pasti ada alasan logis.

Nayna mempercepat langkahnya saat melihat pagar rumah kontrakannya yang bercat hijau pudar.

Namun, langkahnya terhenti mendadak tepat di depan pagar.

Di teras rumah, sebuah pemandangan menghantamnya lebih keras daripada petir mana pun.

Motor ayahnya terparkir manis di sana. Mesinnya masih berbunyi tik-tik-tik pelan, menandakan baru saja dimatikan. Di samping motor itu, Ayah sedang membantu Sheva melepaskan jas hujan tebal yang membungkus tubuh kecil adiknya. Sheva terlihat kering, rambutnya rapi, wajahnya segar. Ayahnya tertawa kecil sambil mengusap kepala Sheva, lalu menyerahkan kantong plastik berisi gorengan hangat.

Mereka ada di sana. Mereka baru saja pulang.

Ayahnya menjemput Sheva. Menembus badai yang sama, melewati jalanan yang sama. Tapi ayahnya tidak mampir ke sekolah Nayna. Ayahnya langsung pulang.

Dunia Nayna terasa hening seketika. Suara hujan, guntur, dan angin lenyap. Yang tersisa hanya suara retakan di dalam dadanya. Retakan topeng porselen yang kini hancur berkeping-keping.

Nayna berdiri mematung di tengah hujan deras di depan pagar rumahnya sendiri, menatap kehangatan di teras itu seperti seorang pengemis yang mengintip surga yang tidak pernah bisa ia masuki. Ia memegang sepatunya erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang ia miliki di dunia ini.

Ayahnya belum melihatnya. Adiknya belum melihatnya. Mereka terlalu sibuk dengan kebahagiaan kecil mereka sendiri.

Dan Nayna? Nayna hanyalah hantu yang basah kuyup di luar pagar.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G