BAB 1: GENETIKA YANG TERBELAH
Malam itu, hujan turun seolah langit sedang berduka, mengirimkan jarum-jarum air yang menghunjam atap rumah sakit dengan irama yang tak beraturan. Di balik jendela kaca yang berembun, dua nyawa ditarik paksa dari kehangatan rahim ke dalam dunia yang dingin dan penuh penilaian. Liana dan Leana. Mereka lahir dari satu detak jantung yang membelah diri, berbagi ruang sempit selama sembilan bulan, berbagi aliran darah yang sama. Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam; ia memisahkan nasib mereka tepat saat tali pusar dipotong.
Tujuh belas tahun kemudian, perbedaan itu bukan lagi sekadar guratan nasib, melainkan jurang menganga yang tak bisa dijembatani.
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai kamar Liana. Gadis itu sudah terjaga jauh sebelum alarm berbunyi. Selalu begitu. Ia terbiasa bangun sebelum dunia di rumahnya bergerak, seolah keberadaannya yang senyap adalah satu-satunya cara untuk menghindari gesekan. Liana duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang sedikit retak di bagian sudut. Wajah itu—wajah yang sama persis dengan Leana—tampak berbeda di matanya. Jika wajah Leana adalah kanvas yang dilukis dengan warna-warna cerah dan percaya diri, wajah Liana seperti sketsa pensil yang hampir luntur, abu-abu dan ragu-ragu.
Di lantai bawah, hiruk-pikuk kehidupan mulai terdengar. Aroma roti panggang dan kopi mahal menguar, merambat naik melalui ventilasi, membawa serta suara tawa yang renyah. Itu suara Leana.
Liana menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kamar yang terasa apek dan sunyi, lalu melangkah keluar. Setiap langkah menuruni tangga terasa seperti memasuki panggung di mana ia tidak memiliki naskah.
"Pagi, Ma, Pa! Lihat deh, nilaiku untuk sosiologi keluar paling cepat!" Suara Leana melengking ceria, memenuhi ruang makan yang didominasi warna putih gading.
Liana berhenti di ambang pintu dapur. Pemandangan itu selalu sama, seperti sebuah foto keluarga yang sempurna di mana ia adalah noda yang tak sengaja tertangkap lensa di latar belakang. Mama sedang mengoleskan selai di roti Leana, sementara Papa menurunkan koran paginya, wajahnya berbinar bangga.
"Luar biasa, Sayang," puji Papa, suaranya berat dan hangat—kehangatan yang jarang sekali menyentuh kulit Liana. "Kamu memang punya bakat alami berinteraksi dengan orang. Papa yakin kamu bakal jadi ketua senat tahun depan."
"Tentu dong, Pa. Guru-guru juga bilang aku punya aura pemimpin," Leana mengibaskan rambutnya yang hitam berkilau, tertata sempurna bahkan di pagi hari.
Liana melangkah masuk, menarik kursi di ujung meja—posisi terjauh dari pusat gravitasi keluarga ini. Bunyi kaki kursi yang bergesekan dengan lantai marmer membuat hening sejenak.
"Oh, Liana. Kamu sudah bangun," ujar Mama, nadanya datar, seolah menyapa kurir paket yang salah alamat. Tidak ada senyum, tidak ada pertanyaan tentang tidurnya.
"Pagi, Ma. Pa," gumam Liana, suaranya serak dan pelan.
"Liana, tolong ambilkan susu di kulkas. Leana butuh kalsium, hari ini dia ada latihan cheerleader," perintah Mama tanpa menoleh, sibuk merapikan kerah seragam Leana.
Liana bangkit kembali sebelum pantatnya sempat menyentuh kursi dengan nyaman. Ia berjalan ke kulkas, merasakan dinginnya udara pendingin menusuk kulit saat ia membuka pintunya. Ia mengambil karton susu, menuangkannya ke gelas Leana. Jemarinya sedikit gemetar.
"Thanks," ucap Leana singkat, tanpa menatap Liana. Matanya sibuk menatap layar ponsel, jarinya menari lincah membalas pesan entah dari siapa. "Oh ya, Ma. Nanti aku butuh uang tambahan. Ada iuran untuk pesta ulang tahun teman sekelas."
"Berapa, Nak? Ambil saja di dompet Papa di meja depan," sahut Papa cepat.
Liana menunduk menatap piring kosong di hadapannya. Hari ini ada tagihan buku LKS yang harus dibayar. Ia sudah ingin mengatakannya sejak tiga hari lalu, tapi kalimat itu selalu tersangkut di tenggorokan, terblokir oleh tawa Leana atau keluhan Mama tentang betapa mahalnya biaya perawatan kulit Leana.
"Pa..." Liana mencoba bersuara. Volumenya nyaris tak terdengar, tertelan bunyi denting sendok Leana.
"Kenapa, Liana?" Papa melirik sekilas, alisnya sedikit berkerut, seolah terganggu.
"Itu... ada buku yang harus dibeli. LKS Matematika."
Hening sejenak. Papa menghela napas, suara yang menyiratkan kelelahan yang tidak ia tunjukkan saat Leana meminta uang pesta. "Berapa harganya?"
"Lima puluh ribu."
"Nanti minta Mama. Papa buru-buru," jawab Papa, kembali melipat korannya dan meneguk kopi terakhirnya. Ia bangkit, mengecup kening Leana. "Belajar yang rajin, Bintang Papa. Jangan biarkan sinarmu redup."
"Siap, Bos!" Leana hormat sambil terkikik.
Papa berlalu melewati Liana begitu saja, hanya menepuk bahunya sekilas—tepukan kaku, tanpa emosi, seperti menepuk debu dari jas lama. Liana mematung. Rasa sakit itu bukan lagi hantaman benda tumpul, melainkan irisan tipis silet yang tak terlihat; perih, namun tak berdarah cukup banyak untuk diperhatikan orang lain.
Liana menatap Leana yang kini tersenyum miring ke arahnya saat Mama pergi ke dapur belakang. Senyum itu bukan senyum manis yang ia tunjukkan pada Papa. Itu adalah seringai kemenangan.
"Kasihan," bisik Leana, suaranya rendah namun tajam, hanya untuk telinga Liana. "Bahkan untuk lima puluh ribu saja kamu harus mengemis, sementara aku bisa minta dunia dan mereka akan memberikannya."
Liana mencengkeram garpu di tangannya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menjawab. Ia tidak pernah bisa menjawab. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu Leana benar. Di rumah ini, Leana adalah matahari, dan menatap matahari terlalu lama hanya akan membuat mata buta. Liana hanyalah bayangan yang tercipta karena cahaya itu menghalangi sesuatu.
Dan bayangan tidak pernah memiliki suara.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda di udara. Saat Liana membereskan piring kotor Leana—karena Leana 'terlalu sibuk' untuk melakukannya—ia mendengar percakapan pelan Mama di telepon di ruang tengah.
"Iya, Jeng. Leana memang membanggakan... Liana? Ah, ya, dia sehat... Biasa saja, dia agak tertutup. Kadang saya berpikir, mungkin dulu di kandungan, Leana mengambil semua nutrisi terbaik, dan Liana hanya mendapat sisanya."
Prang.
Gelas di tangan Liana terlepas, pecah berkeping-keping di lantai dapur. Suara pecahan itu menggema, memecah keheningan pagi, menandakan retakan pertama dari sebuah bendungan emosi yang selama ini ditahan sekuat tenaga.
Malam itu, hujan turun seolah langit sedang berduka, mengirimkan jarum-jarum air yang menghunjam atap rumah sakit dengan irama yang tak beraturan. Di balik jendela kaca yang berembun, dua nyawa ditarik paksa dari kehangatan rahim ke dalam dunia yang dingin dan penuh penilaian. Liana dan Leana. Mereka lahir dari satu detak jantung yang membelah diri, berbagi ruang sempit selama sembilan bulan, berbagi aliran darah yang sama. Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam; ia memisahkan nasib mereka tepat saat tali pusar dipotong.
Tujuh belas tahun kemudian, perbedaan itu bukan lagi sekadar guratan nasib, melainkan jurang menganga yang tak bisa dijembatani.
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai kamar Liana. Gadis itu sudah terjaga jauh sebelum alarm berbunyi. Selalu begitu. Ia terbiasa bangun sebelum dunia di rumahnya bergerak, seolah keberadaannya yang senyap adalah satu-satunya cara untuk menghindari gesekan. Liana duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang sedikit retak di bagian sudut. Wajah itu—wajah yang sama persis dengan Leana—tampak berbeda di matanya. Jika wajah Leana adalah kanvas yang dilukis dengan warna-warna cerah dan percaya diri, wajah Liana seperti sketsa pensil yang hampir luntur, abu-abu dan ragu-ragu.
Di lantai bawah, hiruk-pikuk kehidupan mulai terdengar. Aroma roti panggang dan kopi mahal menguar, merambat naik melalui ventilasi, membawa serta suara tawa yang renyah. Itu suara Leana.
Liana menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kamar yang terasa apek dan sunyi, lalu melangkah keluar. Setiap langkah menuruni tangga terasa seperti memasuki panggung di mana ia tidak memiliki naskah.
"Pagi, Ma, Pa! Lihat deh, nilaiku untuk sosiologi keluar paling cepat!" Suara Leana melengking ceria, memenuhi ruang makan yang didominasi warna putih gading.
Liana berhenti di ambang pintu dapur. Pemandangan itu selalu sama, seperti sebuah foto keluarga yang sempurna di mana ia adalah noda yang tak sengaja tertangkap lensa di latar belakang. Mama sedang mengoleskan selai di roti Leana, sementara Papa menurunkan koran paginya, wajahnya berbinar bangga.
"Luar biasa, Sayang," puji Papa, suaranya berat dan hangat—kehangatan yang jarang sekali menyentuh kulit Liana. "Kamu memang punya bakat alami berinteraksi dengan orang. Papa yakin kamu bakal jadi ketua senat tahun depan."
"Tentu dong, Pa. Guru-guru juga bilang aku punya aura pemimpin," Leana mengibaskan rambutnya yang hitam berkilau, tertata sempurna bahkan di pagi hari.
Liana melangkah masuk, menarik kursi di ujung meja—posisi terjauh dari pusat gravitasi keluarga ini. Bunyi kaki kursi yang bergesekan dengan lantai marmer membuat hening sejenak.
"Oh, Liana. Kamu sudah bangun," ujar Mama, nadanya datar, seolah menyapa kurir paket yang salah alamat. Tidak ada senyum, tidak ada pertanyaan tentang tidurnya.
"Pagi, Ma. Pa," gumam Liana, suaranya serak dan pelan.
"Liana, tolong ambilkan susu di kulkas. Leana butuh kalsium, hari ini dia ada latihan cheerleader," perintah Mama tanpa menoleh, sibuk merapikan kerah seragam Leana.
Liana bangkit kembali sebelum pantatnya sempat menyentuh kursi dengan nyaman. Ia berjalan ke kulkas, merasakan dinginnya udara pendingin menusuk kulit saat ia membuka pintunya. Ia mengambil karton susu, menuangkannya ke gelas Leana. Jemarinya sedikit gemetar.
"Thanks," ucap Leana singkat, tanpa menatap Liana. Matanya sibuk menatap layar ponsel, jarinya menari lincah membalas pesan entah dari siapa. "Oh ya, Ma. Nanti aku butuh uang tambahan. Ada iuran untuk pesta ulang tahun teman sekelas."
"Berapa, Nak? Ambil saja di dompet Papa di meja depan," sahut Papa cepat.
Liana menunduk menatap piring kosong di hadapannya. Hari ini ada tagihan buku LKS yang harus dibayar. Ia sudah ingin mengatakannya sejak tiga hari lalu, tapi kalimat itu selalu tersangkut di tenggorokan, terblokir oleh tawa Leana atau keluhan Mama tentang betapa mahalnya biaya perawatan kulit Leana.
"Pa..." Liana mencoba bersuara. Volumenya nyaris tak terdengar, tertelan bunyi denting sendok Leana.
"Kenapa, Liana?" Papa melirik sekilas, alisnya sedikit berkerut, seolah terganggu.
"Itu... ada buku yang harus dibeli. LKS Matematika."
Hening sejenak. Papa menghela napas, suara yang menyiratkan kelelahan yang tidak ia tunjukkan saat Leana meminta uang pesta. "Berapa harganya?"
"Lima puluh ribu."
"Nanti minta Mama. Papa buru-buru," jawab Papa, kembali melipat korannya dan meneguk kopi terakhirnya. Ia bangkit, mengecup kening Leana. "Belajar yang rajin, Bintang Papa. Jangan biarkan sinarmu redup."
"Siap, Bos!" Leana hormat sambil terkikik.
Papa berlalu melewati Liana begitu saja, hanya menepuk bahunya sekilas—tepukan kaku, tanpa emosi, seperti menepuk debu dari jas lama. Liana mematung. Rasa sakit itu bukan lagi hantaman benda tumpul, melainkan irisan tipis silet yang tak terlihat; perih, namun tak berdarah cukup banyak untuk diperhatikan orang lain.
Liana menatap Leana yang kini tersenyum miring ke arahnya saat Mama pergi ke dapur belakang. Senyum itu bukan senyum manis yang ia tunjukkan pada Papa. Itu adalah seringai kemenangan.
"Kasihan," bisik Leana, suaranya rendah namun tajam, hanya untuk telinga Liana. "Bahkan untuk lima puluh ribu saja kamu harus mengemis, sementara aku bisa minta dunia dan mereka akan memberikannya."
Liana mencengkeram garpu di tangannya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menjawab. Ia tidak pernah bisa menjawab. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu Leana benar. Di rumah ini, Leana adalah matahari, dan menatap matahari terlalu lama hanya akan membuat mata buta. Liana hanyalah bayangan yang tercipta karena cahaya itu menghalangi sesuatu.
Dan bayangan tidak pernah memiliki suara.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda di udara. Saat Liana membereskan piring kotor Leana—karena Leana 'terlalu sibuk' untuk melakukannya—ia mendengar percakapan pelan Mama di telepon di ruang tengah.
"Iya, Jeng. Leana memang membanggakan... Liana? Ah, ya, dia sehat... Biasa saja, dia agak tertutup. Kadang saya berpikir, mungkin dulu di kandungan, Leana mengambil semua nutrisi terbaik, dan Liana hanya mendapat sisanya."
Prang.
Gelas di tangan Liana terlepas, pecah berkeping-keping di lantai dapur. Suara pecahan itu menggema, memecah keheningan pagi, menandakan retakan pertama dari sebuah bendungan emosi yang selama ini ditahan sekuat tenaga.