BAB 1

BAB 1

BELUM USAI

BAB 1

πŸ—“ 27 Dec 2025 πŸ‘ 538 Views
BAB 1
JEJAK YANG TERTINGGAL DI BINGKAI KAYU

Hujan di luar jendela turun dengan ritme yang konstan, mengetuk-ngetuk kaca buram yang sudah lama tidak dibersihkan. Bunyinya seperti percakapan masa lalu yang menolak untuk pergi. Aku duduk di tepi tempat tidurku yang sederhana, membiarkan dingin pagi merambat melalui sela-sela dinding kayu rumah kami. Di atas meja belajar kecil yang permukaannya sudah banyak tergores tinta, sebuah bingkai foto berdiri tegak.

Itu adalah harta karunku yang paling berharga.

Di dalam bingkai itu, ada senyum yang tidak akan pernah menua. Ayah dan Ibu. Mereka tampak begitu bahagia, seolah-olah dunia adalah tempat yang ramah dan waktu akan berhenti selamanya di detik itu. Namun, kita semua tahu, waktu adalah penguasa yang kejam. Dia tidak pernah berhenti, bahkan ketika kita memohon sambil berlutut agar dia menunggu sebentar saja.

Sejak kecil, tidak pernah terlintas dalam benakku akan kehilangan sosok yang menjadi pilar semestaku. Kehilangan orang tua bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan kehilangan separuh jiwa. Rasanya seperti berjalan dengan satu kaki di jalanan berbatu; pincang, sakit, dan melelahkan. Namun, Nenek selalu bilang, kehilangan bukan alasan untuk hidup dalam kesedihan dan putus asa terus-menerus. Hidup ini seperti roda pedati, Ketty, katanya suatu sore sambil menyisir rambutku. Kadang di atas, kadang tergilas di bawah, tapi dia harus terus berputar. Jika berhenti, berarti mati.

Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir kabut kesedihan yang tiba-tiba menyergap pagi ini. Apapun yang terjadi, hidup harus tetap berlanjut. Itu mantraku. Sejak peristiwa kecelakaan lima tahun lalu yang merenggut mereka, aku memutuskan untuk berdamai dengan takdir.

Berdamai. Kata yang mudah diucapkan tapi butuh berliter-liter air mata untuk melakukannya.

Menerima semua yang telah Allah takdirkan tanpa bertanya kenapa. Itu adalah tingkat keikhlasan yang sulit. Dulu, aku sering berteriak dalam sujudku, bertanya kenapa harus aku? Kenapa harus Ayah dan Ibu? Kenapa bukan orang lain? Tapi seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan itu menguap. Aku mulai yakin, semua itu adalah skenario terbaik yang ditulis oleh Sang Penulis Skenario Kehidupan. Mungkin, jika mereka masih ada, aku tidak akan sekuat ini. Mungkin aku akan menjadi anak manja yang tidak tahu arti perjuangan.

Ketty, sarapan sudah siap, Nak!

Suara serak Nenek terdengar dari arah dapur, memecah lamunanku. Aromanya tercium sampai ke kamar, aroma nasi goreng bawang putih yang khas. Sederhana, tapi penuh cinta.

Iya, Nek. Sebentar, sahutku.

Aku berdiri, merapikan seragam putih abu-abuku. Hari ini adalah hari penting. Setelah tiga minggu libur kenaikan kelas, lonceng sekolah akan kembali berbunyi. Ini bukan sekadar hari pertama sekolah. Ini adalah hari pembuktian. Hari di mana aku akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, menghadapi tantangan baru, dan mungkin, menghadapi luka-luka baru.

Aku menatap cermin kusam di lemari. Gadis di pantulan itu tersenyum tipis. Matanya menyiratkan keteguhan. Ketty, kau tidak punya kemewahan untuk bersedih, bisikku pada diri sendiri. Kau hanya punya otakmu, semangatmu, dan doa Nenek. Gunakan itu sebaik-baiknya.

Aku melangkah keluar kamar, meninggalkan bingkai foto itu menjaga mimpi-mimpiku. Di dapur, Nenek sedang menuangkan teh hangat ke dalam gelas belimbing. Keriput di wajahnya semakin banyak, rambut putihnya semakin mendominasi, tapi senyumnya masih sama hangatnya seperti lima tahun lalu saat dia memelukku di pemakaman.

Makan yang banyak, nanti kamu butuh tenaga. Katanya hari ini ada pembagian kelas baru? tanya Nenek sambil menyodorkan piring.

Aku mengangguk, menyendok nasi goreng. Iya, Nek. Doakan Ketty masuk kelas yang Ketty mau, ya.

Pasti. Doa Nenek tidak pernah putus, bahkan saat Nenek tidur.

Kalimat sederhana itu membuat dadaku hangat. Hampir lima tahun aku hidup dengan Nenek dalam kondisi ekonomi yang pas-pasanβ€”atau mungkin lebih tepat disebut kekurangan. Uang pensiunan Kakek yang tidak seberapa dan hasil jualan kue Nenek adalah satu-satunya penopang kami. Tapi, aku tidak pernah merasa miskin kasih sayang.

Aku makan dengan cepat. Jam dinding tua berdetak memburu. Di luar, hujan mulai reda, menyisakan gerimis halus dan aroma tanah basah yang menenangkan. Aku menyalami punggung tangan Nenek yang kasar, menciumnya dengan takzim.

Hati-hati, Ket. Jangan dengarkan omongan orang yang tidak penting, pesan Nenek. Seolah dia tahu apa yang akan aku hadapi di luar sana. Nenek selalu punya intuisi yang tajam.

Siap, Nek. Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Aku melangkah keluar rumah, disambut udara pagi yang dingin. Sepatuku yang solnya sudah mulai tipis bersentuhan dengan aspal basah. Aku berjalan menuju halte angkot dengan langkah mantap. Hari ini, nasibku di sekolah akan ditentukan. Apakah kerja kerasku begadang tiap malam, mati-matian mengejar nilai, akan terbayar lunas? Atau takdir punya rencana lain yang lebih mengejutkan?

Langit di atas sana masih abu-abu, tapi aku tahu, di balik awan tebal itu, matahari selalu bersinar. Begitu juga dengan hidupku.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G