BAB 2

BAB 2

BELUM USAI

BAB 2

๐Ÿ—“ 28 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 546 Views
BAB 2
MEDAN PERANG BERNAMA SEKOLAH

Gerbang sekolah berdiri megah, seolah menjadi pembatas antara dunia nyata yang keras dengan dunia akademis yang penuh intrik. Lonceng sekolah berbunyi keras dan jelas, menandakan libur telah selesai dan kewajiban belajar kembali dimulai. Suara itu seperti alarm yang membangunkan ribuan jiwa dari tidur panjang liburan.

Halaman sekolah sudah dipadati siswa. Lautan seragam putih abu-abu bergerak dinamis. Ada tawa yang meledak saat teman lama bertemu, ada jeritan histeris, dan ada juga wajah-wajah cemas siswa baru atau mereka yang takut terlempar ke kelas buangan.

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah tiga minggu libur. Udaranya terasa padat oleh ekspektasi. Para siswa langsung dihadapkan dengan papan pengumuman besar di koridor utama: Pembagian Kelas Baru.

Ini adalah momen krusial. Mereka harus kembali beradaptasi dengan teman baru dan rela berpisah dengan teman lama. Kecuali bagi mereka yang beruntung, atau mungkin punya koneksi, yang kembali dipertemukan di kelas yang sama.

Aku menyelip di antara kerumunan, tubuhku yang kecil memudahkanku mencari celah. Bau parfum bercampur keringat memenuhi udara.

Minggir dong! teriak seseorang di belakangku.

Aku menoleh sedikit, melihat segerombolan siswi dengan seragam yang dijahit pas badan, rambut yang ditata rapi, dan sepatu bermerek yang harganya mungkin setara biaya makan kami sebulan. Itu geng populer. Di sekolah ini, kasta sosial itu nyata. Ada mereka yang berkuasa karena harta orang tua, dan ada kami, kaum biasa yang hanya mengandalkan beasiswa dan belas kasihan sistem.

Di sekolah, aku memang sering mendapatkan ejekan dari teman-teman. Terutama tentang statusku. Si Ketty yang yatim piatu, si miskin yang sepatunya itu-itu saja, si kutu buku yang ambisius. Ejekan itu datang silih berganti, kadang terang-terangan, kadang dalam bentuk bisikan yang sengaja dikeraskan saat aku lewat.

Lihat tuh, sepatunya sudah mau jebol masih dipakai, celetuk salah satu dari mereka saat aku bergeser memberi jalan.

Biarin aja, kan lagi nabung buat beli beras, sahut temannya, diikuti gelak tawa yang menyakitkan.

Aku menggigit bibir bawahku. Perih. Tentu saja perih. Aku bukan robot yang tidak punya perasaan. Tapi aku sudah terlatih. Tempaan hidup selama lima tahun terakhir membuat kulit perasaanku lebih tebal. Meski begitu, ejekan mereka tidak membuat semangat belajarku turun. Justru sebaliknya, setiap kata cemoohan adalah bahan bakar. Aku selalu berusaha giat belajar untuk memperoleh nilai yang tinggi. Aku ingin membuktikan bahwa sepatu butut ini bisa melangkah lebih jauh daripada sepatu mahal mereka.

Dengan begitu, mudah bagiku untuk memperoleh beasiswa. Beasiswa adalah nyawaku di sekolah ini. Tanpa itu, Nenek tidak akan sanggup membiayai sekolah mahal ini.

Aku akhirnya sampai di depan papan pengumuman. Mataku menelusuri deretan kertas putih yang ditempel rapi. Jantungku berdegup kencang, lebih kencang dari saat aku lari mengejar angkot.

Kelas X... bukan.
Kelas XI IPS... bukan.
Kelas XI MIPA 3... bukan.
Kelas XI MIPA 2... tidak ada namaku.

Napasku tercekat. Keringat dingin mulai keluar di tengkuk. Apakah nilaiku turun? Apakah aku terlempar ke kelas acak? Mataku bergerak ke kertas paling kiri, kertas yang paling diincar oleh seluruh siswa di angkatan ini.

Kelas XI MIPA 1.

Daftar nama di sana tidak banyak. Hanya siswa-siswa terpilih dengan rata-rata nilai nyaris sempurna. Aku menelusuri abjad K.

Karina...
Kevin...
Ketty.

Ada. Namaku ada di sana.

Napasku yang tadi tertahan langsung keluar dalam satu hembusan lega yang panjang. Alhamdulillah. Hari ini aku sangat beruntung karena ditempatkan di kelas MIPA 1, kelas yang sudah kuinginkan dari dulu. Ini adalah kelas unggulan. Kawah candradimuka bagi mereka yang ingin masuk kedokteran atau teknik di universitas negeri ternama.

Tidak sia-sia perjuanganku dulu rela mati-matian meraih nilai dan prestasi demi meraih itu semua. Malam-malam panjang ditemani nyamuk dan lampu belajar yang redup, akhir pekan yang kuhabiskan di perpustakaan kota bukannya di mal, semua terbayar lunas hari ini. Tidak semua orang bisa menempati kelas ini. Ini adalah tiket emasku.

Wah, si miskin masuk MIPA 1? Hoki banget, suara sinis terdengar lagi dari arah samping.

Aku menoleh. Itu Siska, salah satu anggota geng populer yang tadi. Dia menatap papan pengumuman dengan wajah masam. Namanya ada di MIPA 2.

Bukan hoki, Sis, jawabku pelan tapi tegas. Usaha.

Siska mendengus, memutar bola matanya. Awas aja lo, jangan sampai bikin malu kelas unggulan dengan baju lo yang kusam itu.

Aku tidak menjawab lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang mengukur harga diri manusia dari merek pakaian. Aku membalikkan badan, memeluk tas ranselku erat-erat. Aku berhasil. Satu langkah kecil menuju impianku menjadi dokter sudah terlampaui. Nenek pasti senang mendengar berita ini.

Aku melangkah menuju gedung utara, tempat kelas MIPA 1 berada. Lorong sekolah terasa lebih terang dari biasanya. Mungkin karena hatiku sedang berbunga-bunga, atau mungkin karena aku tahu, di kelas baru itu, masa depanku sedang menunggu untuk dijemput.

Namun, aku belum tahu, bahwa masuk ke kelas MIPA 1 bukan berarti masalah selesai. Justru, itu adalah awal dari drama yang sesungguhnya. Di sana, aku akan belajar bahwa kepintaran akademik tidak selalu berbanding lurus dengan kebaikan hati.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G