BAB 3

BAB 3

BELUM USAI

BAB 3

🗓 29 Dec 2025 👁 570 Views
BAB 3
WAJAH-WAJAH DI BALIK TOPENG

Ruang kelas XI MIPA 1 berbeda dari kelas-kelas lain. Begitu aku melangkah masuk, hawa dingin dari dua unit pendingin ruangan langsung menyapa kulitku. Lantainya keramik putih bersih yang memantulkan cahaya lampu, mejanya masih mulus tanpa coretan tipe-x, dan papan tulisnya menggunakan spidol, bukan kapur yang berdebu.

Suasana di dalam pun berbeda. Hening, tapi bukan hening yang kosong. Ini adalah keheningan orang-orang yang sedang mengamati, menilai, dan mengkalkulasi. Sebagian besar bangku sudah terisi. Mereka, teman-teman baruku, duduk berkelompok-kelompok atau sibuk dengan gadget mahal mereka.

Aku memilih bangku kosong di barisan ketiga dekat jendela. Posisi strategis. Tidak terlalu depan sehingga menjadi sasaran empuk guru, tapi tidak terlalu belakang sehingga bisa fokus.

Setelah berbincang-bincang basa-basi dengan orang baru di sebelahku—seorang gadis berkacamata tebal bernama Rina—aku cukup kagum sama mereka semua. Ternyata aku ada di sekeliling orang-orang yang sangat pintar dan cerdas. Percakapan mereka bukan tentang sinetron atau diskon baju, melainkan tentang olimpiade fisika, tempat les bahasa asing, dan rencana kuliah di luar negeri.

Awalnya, mereka terlihat cukup ramah dan baik. Beberapa menyapaku dengan senyum lebar.

Hai, kamu Ketty ya? Yang juara umum pas kelas sepuluh? tanya seorang siswa laki-laki dengan rambut klimis. Namanya Doni, kalau tidak salah anak kepala dinas.

Iya, jawabku canggung.

Wah, saingan berat nih. Salam kenal ya, katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menjabat tangannya. Senyumnya terlihat tulus, tapi entah kenapa, instingku berkata ada sesuatu yang tertahan di balik mata itu. Mungkin aku yang terlalu curigaan karena pengalaman buruk sebelumnya. Atau mungkin, itu adalah intuisi seorang anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Kelas semakin ramai. Geng-geng kecil mulai terbentuk secara alami. Anak-anak kaya berkumpul dengan anak-anak kaya, membahas liburan mereka ke Eropa atau Jepang. Anak-anak jenius berkumpul membahas soal kalkulus. Dan aku, si anak beasiswa, duduk diam mengamati ekosistem baru ini.

Di sudut paling belakang, dekat pintu belakang yang jarang dibuka, mataku menangkap sosok yang berbeda.

Ada satu orang yang membuatku heran. Kenapa ada satu perempuan yang diam saja dari tadi? Dia tidak memegang ponsel, tidak membaca buku, dan tidak berusaha membaur. Dia hanya duduk bersedekap, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, seolah apa yang ada di dalam kelas ini tidak menarik sama sekali baginya.

Rambutnya dipotong pendek sebahu, wajahnya tirus, dan ada aura dingin yang memancar darinya. Dia seperti sebuah pulau terpencil di tengah lautan manusia yang sibuk bersosialisasi. Tidak ada yang mengajaknya bicara, dan dia pun tampak tidak peduli.

Namanya Flo. Aku tahu itu dari nametag yang tersemat di seragamnya saat dia sempat menoleh sebentar ke arah papan tulis.

Rasa penasaran mulai menggelitikku. Di sekolah ini, menyendiri adalah bentuk bunuh diri sosial. Kenapa dia begitu berani mengisolasi diri di hari pertama? Apakah dia sombong? Atau dia menyimpan luka yang sama sepertiku?

Aku melihat sekeliling. Teman-teman yang lain, yang tadi menyapaku dengan ramah, kini sedang tertawa keras di pojok kelas. Mereka sedang membicarakan seseorang, menunjuk-nunjuk ke arah luar kelas, lalu tertawa lagi. Tawa mereka terdengar renyah, tapi ada nada sumbang di telingaku.

Aku kembali menatap Flo. Dia masih diam. Keteguhannya dalam kesendirian itu entah mengapa menarik perhatianku. Aku merasa ada kesamaan frekuensi. Kami berdua adalah orang asing di tempat ini, meskipun dengan cara yang berbeda. Aku asing karena status sosialku, dia asing karena pilihannya sendiri.

Tanpa sadar, kakiku bergerak. Aku berdiri dari kursiku. Rina, teman sebangkuku, menatapku bingung.

Mau ke mana, Ket?

Mau kenalan sama yang di belakang, jawabku singkat.

Rina melirik ke arah Flo, lalu berbisik pelan, Hati-hati, dia agak aneh. Dulu waktu SMP katanya dia pernah ngamuk di kantin.

Info itu justru makin membuatku penasaran. Gosip di sekolah ini seringkali hiperbola. Aku tahu rasanya menjadi objek pembicaraan yang tidak benar.

Aku pun bergegas menghampiri dia. Langkahku pelan tapi pasti, membelah kebisingan kelas yang semakin menjadi-jadi. Flo tidak menoleh sedikitpun saat aku mendekat, seolah dia punya radar yang bisa menyaring keberadaan orang-orang yang tidak diinginkannya.

Aku berdiri di samping mejanya. Dia tetap menatap jendela. Angin dari luar menerbangkan sedikit rambutnya.

Hai, sapaku.

Hening.

Hai, ulangku lebih keras. Kenapa kamu diam sendiri di sini? Teman-teman kita ada di luar loh, lagi kumpul-kumpul. Kataku mencoba terdengar seramah mungkin.

Flo akhirnya menoleh. Matanya gelap dan tajam, menatapku lurus-lurus seakan sedang memindai seluruh isi kepalaku. Tatapan itu bukan tatapan permusuhan, melainkan tatapan lelah. Tatapan seseorang yang sudah terlalu banyak melihat kebohongan.

Dia menghela napas, lalu mengubah posisi duduknya menghadapku. Detik itu, aku tahu, percakapan ini akan mengubah cara pandangku terhadap kelas MIPA 1 selamanya.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G