BAB 4
PERINGATAN DARI SUDUT KELAS
Flo menatapku dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Tidak ada senyum basa-basi, tidak ada kerutan dahi tanda terganggu. Hanya wajah yang seolah berkata, 'apa maumu?'.
Aku suka sendiri, suaranya terdengar berat dan tenang, kontras dengan keriuhan di sekitarnya. Jika kamu mau bersamaku, boleh. Tapi jangan memaksaku untuk bergabung dengan mereka.
Dia menunjuk sekilas ke arah kerumunan siswa populer di depan kelas dengan dagunya. Gerakan yang sangat halus, tapi penuh dengan penolakan.
Kenapa? tanyaku polos.
Karena aku tidak ingin ikut campur dengan mereka, jawabnya tegas. Levelku sama levelnya sangat berbeda. Aku bersekolah untuk fokus ke sekolah. Aku tidak mau bermain-main dengan mereka.
Dia berhenti sejenak, matanya menyipit memperhatikan gerak-gerik kelompok Doni dan Siska yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Mereka mempunyai kekuasaan tertinggi di sekolah ini, lanjut Flo, suaranya merendah seperti sedang menceritakan rahasia negara. Dan mereka juga selalu meremehkan orang lain jika mereka tidak suka sama orang itu.
Kata Flo begitu menohok. Aku terdiam, mencerna kalimatnya. Memang benar, aku merasakan arogansi itu dari Siska, tapi Doni tadi terlihat baik. Dan yang lainnya juga tampak ramah. Apakah Flo terlalu berprasangka?
Flo, kenapa kamu sejauh itu berpikir tentang mereka? tanyaku ragu. Menurutku mereka sangat baik dan ramah. Tadi ada yang menyapaku kok.
Flo tertawa kecil. Tawa yang kering dan sinis. Oh, Ketty. Kamu polos sekali.
Dia menatap mataku lekat-lekat. Dia memang bermuka dua. Mereka memperlihatkan mukanya sangat baik kepada semua orang di awal. Itu strategi mereka. Membuatmu merasa diterima, membuatmu merasa bagian dari mereka. Tapi suatu saat nanti, jika ada salah sedikitpun, atau jika kamu tidak lagi berguna bagi mereka, mereka akan merusak semuanya.
Flo mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya berubah menjadi bisikan tajam. Aku sudah tahu sifat sehari-hari mereka semuanya, karena aku pernah satu SMP sama mereka. Aku melihat bagaimana mereka menghancurkan mental seorang anak hanya karena dia memakai tas yang salah. Aku melihat bagaimana mereka memfitnah guru hanya karena nilai mereka jelek.
Kata-kata Flo mengalir deras, seperti bendungan yang jebol. Ada kemarahan yang terpendam di sana, tapi dikendalikan dengan sangat rapi.
Mereka predator, Ketty. Dan kita, rakyat jelata ini, cuma mangsa atau penonton. Aku memilih jadi penonton yang duduk jauh di tribun, bukan masuk ke arena kandang singa.
Aku tertegun. Penjelasan Flo terdengar mengerikan, tapi di sisi lain, masuk akal. Pantas saja Rina tadi bilang Flo 'aneh'. Mungkin karena Flo satu-satunya yang berani melihat kenyataan tanpa filter kepalsuan.
Aku baru tahu setelah kamu memberitahuku tentang itu semua, gumamku pelan. Perasaan ragu mulai menyusup. Apakah keramahan Doni tadi palsu? Apakah senyum mereka hanyalah topeng?
Aku setengah percaya dan setengah tidak percaya, kataku jujur. Tapi aku akan selalu waspada sama mereka.
Flo mengangguk, menyandarkan punggungnya kembali ke kursi. Itu lebih baik. Jangan naif. Di MIPA 1, nilai bukan satu-satunya yang diadu.
Aku tersenyum tipis padanya. Aku bisa jaga diri kok. Terima kasih ya sudah memberitahuku.
Flo hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, tapi aku melihat sorot matanya sedikit melembut.
Aku mau berteman denganmu, kataku tiba-tiba.
Flo menatapku lagi, kali ini dengan alis terangkat sebelah. Kamu yakin? Berteman denganku berarti kamu tidak akan dilirik oleh geng populer itu. Kamu akan dianggap aneh juga.
Aku tidak peduli, jawabku mantap. Aku lebih suka teman yang jujur meski pahit, daripada teman manis tapi racun. Lagipula, kita sama-sama 'level berbeda' dari mereka, kan? Aku bukan orang kaya.
Flo mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum yang nyaris tak terlihat. Terserah kamu. Jangan bilang aku nggak memperingatkanmu.
Bel masuk berbunyi nyaring, memotong percakapan kami. Guru Fisika, Pak Burhan yang terkenal killer, melangkah masuk dengan wajah garang. Seketika, kelas yang tadi riuh berubah sunyi senyap. Topeng-topeng keramahan kembali dipasang. Para siswa duduk tegak, siap menjadi murid teladan.
Aku kembali ke bangkuku, tapi pikiranku tertinggal di percakapan dengan Flo. Peringatan itu terngiang-ngiang. Sekolah ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tapi sebuah panggung sandiwara raksasa. Dan aku baru saja melangkah ke atas panggungnya.
PERINGATAN DARI SUDUT KELAS
Flo menatapku dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Tidak ada senyum basa-basi, tidak ada kerutan dahi tanda terganggu. Hanya wajah yang seolah berkata, 'apa maumu?'.
Aku suka sendiri, suaranya terdengar berat dan tenang, kontras dengan keriuhan di sekitarnya. Jika kamu mau bersamaku, boleh. Tapi jangan memaksaku untuk bergabung dengan mereka.
Dia menunjuk sekilas ke arah kerumunan siswa populer di depan kelas dengan dagunya. Gerakan yang sangat halus, tapi penuh dengan penolakan.
Kenapa? tanyaku polos.
Karena aku tidak ingin ikut campur dengan mereka, jawabnya tegas. Levelku sama levelnya sangat berbeda. Aku bersekolah untuk fokus ke sekolah. Aku tidak mau bermain-main dengan mereka.
Dia berhenti sejenak, matanya menyipit memperhatikan gerak-gerik kelompok Doni dan Siska yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Mereka mempunyai kekuasaan tertinggi di sekolah ini, lanjut Flo, suaranya merendah seperti sedang menceritakan rahasia negara. Dan mereka juga selalu meremehkan orang lain jika mereka tidak suka sama orang itu.
Kata Flo begitu menohok. Aku terdiam, mencerna kalimatnya. Memang benar, aku merasakan arogansi itu dari Siska, tapi Doni tadi terlihat baik. Dan yang lainnya juga tampak ramah. Apakah Flo terlalu berprasangka?
Flo, kenapa kamu sejauh itu berpikir tentang mereka? tanyaku ragu. Menurutku mereka sangat baik dan ramah. Tadi ada yang menyapaku kok.
Flo tertawa kecil. Tawa yang kering dan sinis. Oh, Ketty. Kamu polos sekali.
Dia menatap mataku lekat-lekat. Dia memang bermuka dua. Mereka memperlihatkan mukanya sangat baik kepada semua orang di awal. Itu strategi mereka. Membuatmu merasa diterima, membuatmu merasa bagian dari mereka. Tapi suatu saat nanti, jika ada salah sedikitpun, atau jika kamu tidak lagi berguna bagi mereka, mereka akan merusak semuanya.
Flo mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya berubah menjadi bisikan tajam. Aku sudah tahu sifat sehari-hari mereka semuanya, karena aku pernah satu SMP sama mereka. Aku melihat bagaimana mereka menghancurkan mental seorang anak hanya karena dia memakai tas yang salah. Aku melihat bagaimana mereka memfitnah guru hanya karena nilai mereka jelek.
Kata-kata Flo mengalir deras, seperti bendungan yang jebol. Ada kemarahan yang terpendam di sana, tapi dikendalikan dengan sangat rapi.
Mereka predator, Ketty. Dan kita, rakyat jelata ini, cuma mangsa atau penonton. Aku memilih jadi penonton yang duduk jauh di tribun, bukan masuk ke arena kandang singa.
Aku tertegun. Penjelasan Flo terdengar mengerikan, tapi di sisi lain, masuk akal. Pantas saja Rina tadi bilang Flo 'aneh'. Mungkin karena Flo satu-satunya yang berani melihat kenyataan tanpa filter kepalsuan.
Aku baru tahu setelah kamu memberitahuku tentang itu semua, gumamku pelan. Perasaan ragu mulai menyusup. Apakah keramahan Doni tadi palsu? Apakah senyum mereka hanyalah topeng?
Aku setengah percaya dan setengah tidak percaya, kataku jujur. Tapi aku akan selalu waspada sama mereka.
Flo mengangguk, menyandarkan punggungnya kembali ke kursi. Itu lebih baik. Jangan naif. Di MIPA 1, nilai bukan satu-satunya yang diadu.
Aku tersenyum tipis padanya. Aku bisa jaga diri kok. Terima kasih ya sudah memberitahuku.
Flo hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, tapi aku melihat sorot matanya sedikit melembut.
Aku mau berteman denganmu, kataku tiba-tiba.
Flo menatapku lagi, kali ini dengan alis terangkat sebelah. Kamu yakin? Berteman denganku berarti kamu tidak akan dilirik oleh geng populer itu. Kamu akan dianggap aneh juga.
Aku tidak peduli, jawabku mantap. Aku lebih suka teman yang jujur meski pahit, daripada teman manis tapi racun. Lagipula, kita sama-sama 'level berbeda' dari mereka, kan? Aku bukan orang kaya.
Flo mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum yang nyaris tak terlihat. Terserah kamu. Jangan bilang aku nggak memperingatkanmu.
Bel masuk berbunyi nyaring, memotong percakapan kami. Guru Fisika, Pak Burhan yang terkenal killer, melangkah masuk dengan wajah garang. Seketika, kelas yang tadi riuh berubah sunyi senyap. Topeng-topeng keramahan kembali dipasang. Para siswa duduk tegak, siap menjadi murid teladan.
Aku kembali ke bangkuku, tapi pikiranku tertinggal di percakapan dengan Flo. Peringatan itu terngiang-ngiang. Sekolah ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tapi sebuah panggung sandiwara raksasa. Dan aku baru saja melangkah ke atas panggungnya.