BAB 5

BAB 5

BELUM USAI

BAB 5

๐Ÿ—“ 31 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 547 Views
BAB 5
MERENUNG DI BAWAH LAMPU TEMARAM

Sepulang sekolah, matahari sudah condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga yang memudar. Aku berjalan kaki menuju rumah, menendang kerikil kecil di sepanjang jalan setapak. Punggungku terasa pegal karena beban tas yang penuh buku paket baru, tapi kepalaku jauh lebih berat oleh beban pikiran.

Setelah sepulang sekolah tadi, aku berpikir banyak. Ternyata kejadian di sekolah tadi membuatku berpikir keras. Ucapan Flo berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak.

"Mereka bermuka dua..."
"Mereka akan merusak semuanya..."

Apakah itu memang benaran adanya atau aku yang tertipu dengan Flo? Bisa saja Flo yang punya masalah pribadi dan mencoba menghasutku, kan? Tapi sorot mata Flo... itu bukan sorot mata pembohong. Itu sorot mata seseorang yang pernah terluka parah.

Tadi siang, saat istirahat, aku melihat buktinya sedikit. Aku melihat Siska membentak seorang adik kelas yang tidak sengaja menyenggolnya di kantin. Kata-kata kasarnya keluar begitu lancar, kontras dengan citra siswi teladan yang dia tampilkan di depan Pak Burhan. Dan Doni, si ketua kelas yang ramah itu, hanya tertawa melihat kejadian itu tanpa berusaha melerai.

Hatiku mencelos saat mengingatnya. Ternyata benar. Dunia ini panggung sandiwara.

Tapi aku akan selalu berhati-hati kepada semua orang. Itu janjiku. Aku tidak boleh lengah. Fokusku adalah belajar, mendapatkan beasiswa, dan membahagiakan Nenek. Drama sekolah tidak boleh menghalangi itu.

Sesampainya di rumah, suasana hening menyambutku. Nenek sedang sholat Ashar di kamar. Aku meletakkan tas, lalu duduk di tepi tempat tidurku. Mataku kembali tertuju pada bingkai foto di meja belajar.

Aku selalu merindukan kedua orang tuaku jika aku memandangi fotonya.

Wajah Ibu yang teduh, wajah Ayah yang gagah. Telah lama sekali aku tidak berjumpa dengan mereka karena mereka meninggalkanku sudah cukup lama. Lima tahun. Waktu yang cukup untuk mengubah seorang anak kecil cengeng menjadi remaja yang dipaksa tangguh.

Hampir lima tahun sudah aku hidup dengan nenekku dengan kondisi yang sederhana ini. Rumah kayu yang bocor kalau hujan deras, makanan seadanya, baju yang dijahit ulang berkali-kali. Bagi sebagian orang, ini penderitaan. Bagi Siska dan teman-temannya, ini mungkin bahan tertawaan.

Tapi bagiku, ini adalah rumah.

Walaupun begitu aku tetap bersyukur atas apa yang terjadi kepadaku karena semua ini telah menjadi takdirku. Takdir tidak pernah salah alamat. Tuhan menempatkanku di sini, dalam kondisi ini, pasti untuk membentukku menjadi sesuatu yang berharga. Seperti berlian yang harus ditempa tekanan tinggi dan panas yang luar biasa.

Cukup lama aku melamun di situ, membiarkan memori masa lalu menari-nari di pelupuk mata. Tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan. Nenek datang membawa makanan untukku. Sepiring pisang goreng hangat dan segelas teh manis.

Sudah, jangan sedih terus, suara Nenek lembut membelai telingaku. Orang tuamu sudah bahagia di sana. Jika kamu sedih, orang tuamu juga akan sedih melihat kamu kayak gini.

Nenekku pun berbicara seperti itu sambil mengelus kepalaku. Tangan tuanya yang kasar terasa begitu nyaman. Nenek selalu tahu kapan aku sedang rapuh, seolah kami punya ikatan batin yang tak terlihat.

Aku pun hanya tersenyum menanggapi nenekku ini. Senyum yang kutujukan untuk menenangkan hatinya. Aku tidak ingin Nenek khawatir dengan masalahku di sekolah. Biarlah beban itu kupikul sendiri.

Iya, Nek. Ketty nggak sedih kok. Cuma capek sedikit, kataku berbohong demi kebaikan.

Aku pun mengambil makanan itu dan memakannya. Rasa manis pisang dan gula seketika membuat perasaanku lebih baik. Sederhana, tapi cukup.

Malam hari pun tiba. Dunia di luar sana sudah gelap gulita. Suara jangkrik mulai bersahutan. Aku bergegas untuk belajar buat besok pagi. Baru sehari masuk sekolah, sudah banyak tugas yang harus kukerjakan. Guru-guru di MIPA 1 memang tidak main-main. Mereka langsung tancap gas.

Aku membuka buku Biologi tebal di hadapanku. Cahaya lampu belajar yang kuning menyoroti halaman-halaman penuh istilah latin.

Walaupun begitu aku cukup merasa senang, karena bersaing dengan orang-orang yang cerdas. Adrenalinku terpacu. Melihat teman-teman sekelas yang pintar tadi membuatku sadar, aku masih butiran debu. Aku harus lari lebih kencang. Itu membuatku terus berlatih menjadi lebih baik lagi.

Jam dinding berdetak. Pukul sepuluh. Pukul sebelas. Mataku mulai berat. Tulisan di buku mulai kabur dan menari-nari.

Asyik dengan membaca buku, tiba-tiba kesadaranku perlahan menghilang. Aku pun tertidur di atas buku-buku itu sampai pagi hari, dengan mimpi tentang masa depan yang masih samar, dan bayang-bayang peringatan Flo yang masih menghantui alam bawah sadarku.

Perang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G