BAB 1

BAB 1: AROMA VANILA DAN DINDING YANG BERBISIK

Bullying

BAB 1: AROMA VANILA DAN DINDING YANG BERBISIK

🗓 04 Apr 2025 👁 567 Views
BAB 1: AROMA VANILA DAN DINDING YANG BERBISIK

Cahaya matahari belum benar-benar menaklukkan langit timur ketika aroma itu mulai menyusup ke dalam celah-celah pintu kamar Alexa. Itu adalah aroma yang manis, campuran antara vanila, gula aren yang meleleh, dan sedikit jejak hangus dari pantat loyang yang terlalu lama dicium api. Bagi Alexa, aroma itu adalah definisi rumah. Rumah yang sederhana, dengan dinding-dinding yang catnya mulai mengelupas seperti kulit kering di musim kemarau, namun memiliki kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan uang manapun.

Di dalam kamarnya yang sempit, Alexa masih bergung di balik selimut tipis bermotif bunga yang warnanya sudah memudar. Matanya terpejam, namun kesadarannya sudah mulai merambat naik. Ia mencoba menahan detik-detik terakhir dari mimpi, sebuah tempat di mana dunia tidak menuntut apa-apa darinya. Di dunia nyata, tuntutan itu selalu ada. Tuntutan untuk menjadi kuat, tuntutan untuk bertahan hidup, dan yang paling menyakitkan bagi Alexa: tuntutan untuk terlihat "layak" di mata orang lain.

Suara denting logam beradu dengan keramik terdengar dari dapur. Itu pasti Ibunya. Wanita tangguh yang tulang punggungnya kini menopang seluruh semesta kecil mereka. Sejak kecelakaan tragis itu—kecelakaan yang merenggut Ayah, pilar kekuatan mereka, saat sedang pergi bekerja—dapur kecil itu telah berubah menjadi medan perang sekaligus tempat ibadah bagi sang Ibu. Di sanalah beliau bertarung melawan kemiskinan, mencetak harapan dalam bentuk kue-kue basah yang akan dijajakan keliling kampung.

Alexa membuka matanya perlahan. Langit-langit kamarnya menyapa dengan pola retakan yang sudah ia hafal di luar kepala. Ada satu retakan yang bentuknya mirip peta pulau, tempat di mana ia sering membayangkan bisa lari dan bersembunyi.

"Ayo bangun, Nak, sudah pukul setengah enam," suara lembut itu memecah lamunan paginya.

Jendela kamar terbuka dengan suara berderit khas engsel yang butuh minyak. Cahaya pagi yang pucat menyerbu masuk, menerangi partikel debu yang menari-nari di udara. Ibunya berdiri di sana, siluetnya berlatar cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Wajah wanita itu tampak lelah, garis-garis halus mulai memetakan usia di sudut matanya, namun senyumnya tetap hangat, sehangat kue yang baru matang.

Alexa merasakan berat yang luar biasa di kelopak matanya, seolah ada magnet yang menariknya kembali ke bantal. Bukan hanya kantuk fisik, tapi juga keengganan mental untuk menghadapi hari. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari pertama ia menginjakkan kaki di SMA. Sebuah dunia baru. Sebuah neraka baru yang potensial.

"Iya, Bu, aku sudah bangun," jawab Alexa lirih, suaranya serak khas bangun tidur. Ia memaksakan tubuhnya untuk duduk.

Ibunya mendekat, mengusap kepala Alexa sekilas dengan tangannya yang masih berbau tepung. "Semangat, ya. Hari ini hari pertamamu. Kau harus terlihat segar. Ibu sudah siapkan air hangat untuk mandi."

Alexa mengangguk, menatap punggung ibunya yang kembali menghilang di balik pintu. Ia turun dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai ubin yang dingin. Di atas meja belajarnya yang kecil, sebuah cermin persegi panjang berdiri tegak. Alexa berhenti sejenak di depannya.

Ia menatap pantulan dirinya. Kulitnya yang gelap—warna yang diwariskan oleh ayahnya—menatap balik. Bagi sebagian orang, mungkin ini eksotis. Tapi di dunia di mana standar kecantikan diukur dari seberapa putih dan bersinarnya kulit seseorang, warna kulit Alexa adalah sebuah dosa. Ia menyentuh pipinya, merasakan tekstur kulitnya sendiri.

"Apakah mereka akan menyukaiku?" bisiknya pada cermin yang bisu.

Pikiran itu, seperti hantu yang tak pernah diundang, mulai merayap naik. Rasa tidak percaya diri itu bukan sekadar perasaan; itu adalah monster yang hidup di kepalanya, memberitahunya bahwa ia tidak cukup baik, tidak cukup cantik, dan tidak pantas untuk berteman. Ia lebih suka menyendiri bukan karena ia benci keramaian, tapi karena kesendirian adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak merasa dihakimi.

Namun, ia tidak bisa bersembunyi selamanya. Jam dinding terus berdetak, memaksanya untuk bergerak. Dengan langkah berat, Alexa mengambil handuknya. Hari ini telah dimulai, suka atau tidak. Dan di luar sana, dunia sedang menunggunya dengan gigi-gigi tajam yang siap menguji seberapa kuat gadis penjual kue ini bisa bertahan.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G