BAB 1

BAB 1: RAHASIA YANG DIJATUHKAN LANGIT

Bunga Amarilis Putih

BAB 1: RAHASIA YANG DIJATUHKAN LANGIT

🗓 07 Aug 2025 👁 544 Views
BAB 1: RAHASIA YANG DIJATUHKAN LANGIT

Hujan sore itu tidak datang dengan peringatan guntur yang menggelegar atau kilat yang membelah cakrawala. Ia turun dengan cara yang jauh lebih licik; seperti sebuah rahasia yang sengaja dijatuhkan langit ke atas pundak kota yang lelah. Rintiknya tidak deras, melainkan renik-renik halus yang mengetuk kaca jendela dengan irama yang konstan, seolah-olah sedang mencoba membisikkan sesuatu yang penting namun tak kunjung dimengerti oleh penghuni bumi.

Di bawah lampu-lampu jalan yang mulai berkedip hidup, genangan aspal berubah menjadi kanvas yang memantulkan cahaya kuning temaram. Air di sana bergetar, menciptakan riak-riak kecil yang membuat bayangan gedung-gedung tinggi tampak seperti lukisan cat air yang dipermainkan oleh jari seorang pelukis abstrak. Udara lembab yang merayap masuk ke sela-sela pakaian membawa serta aroma yang khas—bau tanah basah yang samar-samar bercampur dengan aroma debu dari deretan bangunan tua yang berdiri kaku di sepanjang jalan protokol ini.

Aku berjalan di tengah simfoni air itu tanpa arah yang pasti. Sepatu botku yang sudah mulai menipis solnya menghantam genangan air tanpa peduli. Aku tidak sedang tersesat dalam arti harfiah; aku tahu persis di mana posisiku saat ini, berapa blok lagi menuju halte terdekat, atau ke mana arah menuju pusat kota. Aku tersesat karena aku tidak memiliki tujuan. Langkahku hanyalah sebuah mekanisme otomatis dari otot-otot kaki yang menolak untuk diam.

Sejak lama, konsep tentang "tujuan" atau "rumah" telah menguap dari kamus hidupku. Aku tidak punya keluarga untuk dituju saat senja tiba. Ibuku—satu-satunya jangkar yang pernah kupunya dalam hidup yang penuh badai ini—pergi meninggalkanku tepat ketika aku baru saja menginjak usia lima belas tahun. Masa remaja yang seharusnya diisi dengan pencarian jati diri, bagiku adalah masa di mana identitasku tercerabut paksa. Aku tidak pernah bertanya mengapa ia pergi. Aku tidak pernah mengejarnya, tidak pernah mencari tahu ke sudut dunia mana ia melarikan diri, atau apakah ia kini telah ditelan bumi dalam kesunyiannya sendiri.

Mungkin, sebagian dari diriku merasa bahwa mengetahui alasan kepergiannya hanya akan menambah lubang di dadaku yang sudah cukup menganga. Maka, aku membiarkan diriku hidup dalam kegelapan, mengikuti arus malam yang semakin pekat seiring berjalannya waktu. Panti asuhan yang sempat menjadi tempat bernaungku setelah kepergian ibu kini hanyalah tinggal tumpukan kenangan yang pahit. Bangunan itu telah hancur, bukan oleh bencana alam, melainkan oleh kekejaman manusia.

Dinding-dinding yang dulu menyimpan gema tawa anak-anak, bisikan rahasia di bawah selimut, dan air mata yang tumpah saat rindu pada orang tua menyerang, kini telah rata dengan tanah. Pemerintah yang egois, dengan dalih pembangunan dan kebutuhan lahan yang sebenarnya tak seberapa, telah merobohkan pelabuhan bagi jiwa-jiwa kecil yang tersesat itu. Mereka menganggap bangunan itu hanyalah struktur semen dan batu bata, tanpa menyadari bahwa di sana terdapat fondasi dari banyak mimpi yang belum sempat tumbuh. Seolah-olah rumah itu tak pernah ada, dan kami—anak-anak di dalamnya—hanyalah statistik yang bisa dihapus dengan satu tanda tangan di atas kertas kebijakan.

Kini, langkahku terasa berat. Irama langkah ini seperti sebuah lagu yang tidak pernah mencapai nada penutup, sebuah simfoni yang menggantung di udara, menolak untuk maju namun terlalu lelah untuk berhenti. Aku bahkan tidak menggunakan payung. Aku membiarkan butiran hujan itu menempel di helaian rambutku, merembes masuk ke dalam serat-serat jaket kainku yang mulai dingin. Ada perasaan aneh bahwa hujan ini mungkin bisa mencuci sesuatu dari tubuhku—sesuatu yang kotor, sesuatu yang berat, sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mampu memberinya nama.

Aku terus berjalan, melewati tikungan demi tikungan yang semakin sunyi, sampai mataku menangkap sebuah pemandangan yang tak lazim di tengah kepungan gedung-gedung modern. Sebuah bangunan tua berdiri dengan angkuh namun rapuh di sudut jalan yang gelap.

Dan saat itulah, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, jantungku berdegup dengan irama yang sedikit berbeda.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G