BAB 2: GEMA TAWA YANG MULAI SUMBANG
Kantin SMP Wijaya pada jam istirahat adalah sebuah ekosistem yang brutal sekaligus menyenangkan. Suara denting sendok beradu dengan mangkuk bakso, teriakan ibu kantin yang menagih uang gorengan, dan obrolan ratusan siswa menciptakan kakofoni yang memekakkan telinga. Namun bagi Rara dan Zana, ada satu sudut di pojok kantin, di bawah kipas angin yang berputar malas, yang menjadi singgasana mereka selama hampir tiga tahun terakhir.
Di meja kayu yang permukaannya penuh dengan ukiran nama-nama alumni menggunakan tipe-x itu, sejarah persahabatan mereka terukir. Di sinilah Zana pertama kali menangis saat putus cinta monyet dengan kakak kelas, dan di sini pula Rara pertama kali menceritakan cita-citanya ingin masuk ke SMA Negeri 1, sekolah favorit di kota ini.
"Ra, kamu tahu nggak sih, si Sera anak kelas sebelah itu," Zana memulai gosip hariannya sambil mengaduk es teh manisnya dengan sedotan plastik. Matanya berbinar, tanda bahwa ia sedang bersemangat.
Rara yang sedang menyuap siomay berhenti sejenak, menelan makanannya. "Sera? Yang rambutnya dipotong bob itu?"
"Iya! Dia tuh ya, kemarin aku liat update status, kayaknya lagi deketin cowok yang aku taksir dari kelas VIII. Gila nggak sih? Padahal dia tahu aku suka sama cowok itu," cerocos Zana dengan nada berapi-api. Wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap, atau mungkin karena sambal bakso yang terlalu pedas.
Rara hanya mengangguk-angguk, peran alaminya sebagai pendengar setia. "Mungkin dia nggak tahu kali, Zan. Kan kamu belum pernah bilang langsung ke dia."
Zana mendengus, memutar bola matanya. "Ya harusnya peka dong! Masa harus dibilangin pake toa masjid? Kamu tuh kadang terlalu polos deh, Ra. Dunia itu nggak sebaik yang kamu pikirin."
Kalimat itu menohok Rara sedikit, tapi ia sudah terbiasa. Zana memang vokal dan blak-blakan. Justru itulah yang membuat mereka cocokβatau setidaknya, itulah yang Rara percayai. Rara yang pasif membutuhkan Zana yang agresif untuk melindunginya dari dunia luar, dan Zana yang impulsif membutuhkan Rara yang stabil sebagai jangkar agar tidak hanyut terlalu jauh. Simbiosis mutualisme.
"Ya udah, jangan marah-marah terus. Nanti cepet tua lho," canda Rara mencoba mencairkan suasana.
Zana tertawa, tapi tawanya kali ini terasa sedikit hampa, tidak mencapai matanya. "Bodo amat. Eh, ngomong-ngomong soal tua dan masa depan, tugas Matematika Pak Bambang yang 50 soal itu... kamu udah sampai nomor berapa?"
Rara merasakan perutnya sedikit mulas. Topik ini lagi. Sejak naik ke kelas IX, intensitas tugas sekolah meningkat drastis, sejalan dengan tekanan untuk Ujian Nasional yang akan datang. Dan seiring dengan itu, pola percakapan Zana pun berubah. Dulu mereka bicara tentang hobi, film, atau lagu. Sekarang, hampir setiap percakapan bermuara pada tugas sekolah.
"Baru sampai nomor 35, Zan. Susah banget yang bagian geometri," jawab Rara jujur. Ia memang mengerjakan tugas itu dengan susah payah semalam, membuka kembali buku catatan kelas VII dan VIII untuk mencari rumus.
"Nah! Itu dia!" Zana menepuk meja cukup keras hingga beberapa siswa di meja sebelah menoleh. "Aku tuh bener-bener stuck di nomor 10. Kamu emang jenius deh, Ra. Nanti pinjem bukunya ya? Aku salin bentar doang di perpus sebelum masuk. Please?"
Zana memasang wajah memelas andalannya. Kedua tangannya disatukan di depan dada, matanya dikedip-kedipkan dengan jenaka. Dulu, Rara akan tertawa melihat ekspresi ini dan dengan senang hati menyerahkan bukunya. Tapi hari ini, ada rasa berat yang menahan tangannya.
"Zan, Pak Bambang kan galak. Kalau ketahuan nyontek, dia bisa nyobek kertas kita dua-duanya. Lagian, ini kan buat latihan ujian. Kalau kamu nyalin doang, nanti pas ujian gimana?" Rara mencoba memberikan argumen logis, suaranya pelan agar tidak terdengar menggurui.
Senyum di wajah Zana lenyap seketika, digantikan oleh garis bibir yang kaku. "Ya ampun, Ra. Kamu kok jadi pelit gini sih sama sahabat sendiri? Aku kan cuma minta tolong sekali ini doang. Lagian aku lagi banyak masalah di rumah, nggak sempet mikir rumus-rumus nggak jelas itu."
Rara terdiam. Ia tahu Zana memang sering ribut dengan orang tuanya, tapi apakah itu alasan yang sah untuk tidak berusaha? Rara ingin menjadi teman yang baik, teman yang mendukung. Tapi, apakah mendukung berarti membiarkan sahabatnya jatuh ke dalam lubang kemalasan?
"Bukan pelit, Zan. Aku mau bantuin kamu belajar. Nanti pulang sekolah kita kerjain bareng nomor 10 sampai 50, gimana? Aku ajarin caranya," tawar Rara, sebuah kompromi yang menurutnya paling adil.
Zana menatap Rara lekat-lekat, seolah mencari jejak kebohongan atau penghinaan di wajah sahabatnya. Kemudian, ia membuang muka, menyeruput es tehnya dengan kasar sampai terdengar bunyi slurp yang nyaring dari dasar gelas kosong.
"Terserah deh. Ribet banget sih mau minjemin doang," gumam Zana, suaranya dingin.
Kehangatan di meja kantin itu menguap seketika. Rara merasa siomay yang ditelannya tadi berhenti di tenggorokan. Ia ingin menjangkau tangan Zana, ingin meminta maaf karena telah membuat sahabatnya kesal, tapi harga dirinya menahan. Ia tahu ia benar. Ia melakukan ini demi kebaikan Zana.
"Zana..." panggil Rara pelan.
"Udah ah, mau ke kelas. Gerah di sini," potong Zana, lalu berdiri begitu saja meninggalkan Rara sendirian di meja kantin yang ramai.
Rara menatap punggung Zana yang menjauh. Di sekelilingnya, ratusan siswa tertawa dan bercanda, tapi Rara merasa sepi. Ia menyadari bahwa tawa yang dulu selalu mereka bagi bersama, kini mulai terdengar sumbang. Ada retakan halus di cangkir persahabatan mereka, retakan yang jika ditekan sedikit lagi, mungkin akan menghancurkan segalanya. Dan yang paling menakutkan bagi Rara adalah, ia tidak tahu bagaimana cara menambalnya.
Kantin SMP Wijaya pada jam istirahat adalah sebuah ekosistem yang brutal sekaligus menyenangkan. Suara denting sendok beradu dengan mangkuk bakso, teriakan ibu kantin yang menagih uang gorengan, dan obrolan ratusan siswa menciptakan kakofoni yang memekakkan telinga. Namun bagi Rara dan Zana, ada satu sudut di pojok kantin, di bawah kipas angin yang berputar malas, yang menjadi singgasana mereka selama hampir tiga tahun terakhir.
Di meja kayu yang permukaannya penuh dengan ukiran nama-nama alumni menggunakan tipe-x itu, sejarah persahabatan mereka terukir. Di sinilah Zana pertama kali menangis saat putus cinta monyet dengan kakak kelas, dan di sini pula Rara pertama kali menceritakan cita-citanya ingin masuk ke SMA Negeri 1, sekolah favorit di kota ini.
"Ra, kamu tahu nggak sih, si Sera anak kelas sebelah itu," Zana memulai gosip hariannya sambil mengaduk es teh manisnya dengan sedotan plastik. Matanya berbinar, tanda bahwa ia sedang bersemangat.
Rara yang sedang menyuap siomay berhenti sejenak, menelan makanannya. "Sera? Yang rambutnya dipotong bob itu?"
"Iya! Dia tuh ya, kemarin aku liat update status, kayaknya lagi deketin cowok yang aku taksir dari kelas VIII. Gila nggak sih? Padahal dia tahu aku suka sama cowok itu," cerocos Zana dengan nada berapi-api. Wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap, atau mungkin karena sambal bakso yang terlalu pedas.
Rara hanya mengangguk-angguk, peran alaminya sebagai pendengar setia. "Mungkin dia nggak tahu kali, Zan. Kan kamu belum pernah bilang langsung ke dia."
Zana mendengus, memutar bola matanya. "Ya harusnya peka dong! Masa harus dibilangin pake toa masjid? Kamu tuh kadang terlalu polos deh, Ra. Dunia itu nggak sebaik yang kamu pikirin."
Kalimat itu menohok Rara sedikit, tapi ia sudah terbiasa. Zana memang vokal dan blak-blakan. Justru itulah yang membuat mereka cocokβatau setidaknya, itulah yang Rara percayai. Rara yang pasif membutuhkan Zana yang agresif untuk melindunginya dari dunia luar, dan Zana yang impulsif membutuhkan Rara yang stabil sebagai jangkar agar tidak hanyut terlalu jauh. Simbiosis mutualisme.
"Ya udah, jangan marah-marah terus. Nanti cepet tua lho," canda Rara mencoba mencairkan suasana.
Zana tertawa, tapi tawanya kali ini terasa sedikit hampa, tidak mencapai matanya. "Bodo amat. Eh, ngomong-ngomong soal tua dan masa depan, tugas Matematika Pak Bambang yang 50 soal itu... kamu udah sampai nomor berapa?"
Rara merasakan perutnya sedikit mulas. Topik ini lagi. Sejak naik ke kelas IX, intensitas tugas sekolah meningkat drastis, sejalan dengan tekanan untuk Ujian Nasional yang akan datang. Dan seiring dengan itu, pola percakapan Zana pun berubah. Dulu mereka bicara tentang hobi, film, atau lagu. Sekarang, hampir setiap percakapan bermuara pada tugas sekolah.
"Baru sampai nomor 35, Zan. Susah banget yang bagian geometri," jawab Rara jujur. Ia memang mengerjakan tugas itu dengan susah payah semalam, membuka kembali buku catatan kelas VII dan VIII untuk mencari rumus.
"Nah! Itu dia!" Zana menepuk meja cukup keras hingga beberapa siswa di meja sebelah menoleh. "Aku tuh bener-bener stuck di nomor 10. Kamu emang jenius deh, Ra. Nanti pinjem bukunya ya? Aku salin bentar doang di perpus sebelum masuk. Please?"
Zana memasang wajah memelas andalannya. Kedua tangannya disatukan di depan dada, matanya dikedip-kedipkan dengan jenaka. Dulu, Rara akan tertawa melihat ekspresi ini dan dengan senang hati menyerahkan bukunya. Tapi hari ini, ada rasa berat yang menahan tangannya.
"Zan, Pak Bambang kan galak. Kalau ketahuan nyontek, dia bisa nyobek kertas kita dua-duanya. Lagian, ini kan buat latihan ujian. Kalau kamu nyalin doang, nanti pas ujian gimana?" Rara mencoba memberikan argumen logis, suaranya pelan agar tidak terdengar menggurui.
Senyum di wajah Zana lenyap seketika, digantikan oleh garis bibir yang kaku. "Ya ampun, Ra. Kamu kok jadi pelit gini sih sama sahabat sendiri? Aku kan cuma minta tolong sekali ini doang. Lagian aku lagi banyak masalah di rumah, nggak sempet mikir rumus-rumus nggak jelas itu."
Rara terdiam. Ia tahu Zana memang sering ribut dengan orang tuanya, tapi apakah itu alasan yang sah untuk tidak berusaha? Rara ingin menjadi teman yang baik, teman yang mendukung. Tapi, apakah mendukung berarti membiarkan sahabatnya jatuh ke dalam lubang kemalasan?
"Bukan pelit, Zan. Aku mau bantuin kamu belajar. Nanti pulang sekolah kita kerjain bareng nomor 10 sampai 50, gimana? Aku ajarin caranya," tawar Rara, sebuah kompromi yang menurutnya paling adil.
Zana menatap Rara lekat-lekat, seolah mencari jejak kebohongan atau penghinaan di wajah sahabatnya. Kemudian, ia membuang muka, menyeruput es tehnya dengan kasar sampai terdengar bunyi slurp yang nyaring dari dasar gelas kosong.
"Terserah deh. Ribet banget sih mau minjemin doang," gumam Zana, suaranya dingin.
Kehangatan di meja kantin itu menguap seketika. Rara merasa siomay yang ditelannya tadi berhenti di tenggorokan. Ia ingin menjangkau tangan Zana, ingin meminta maaf karena telah membuat sahabatnya kesal, tapi harga dirinya menahan. Ia tahu ia benar. Ia melakukan ini demi kebaikan Zana.
"Zana..." panggil Rara pelan.
"Udah ah, mau ke kelas. Gerah di sini," potong Zana, lalu berdiri begitu saja meninggalkan Rara sendirian di meja kantin yang ramai.
Rara menatap punggung Zana yang menjauh. Di sekelilingnya, ratusan siswa tertawa dan bercanda, tapi Rara merasa sepi. Ia menyadari bahwa tawa yang dulu selalu mereka bagi bersama, kini mulai terdengar sumbang. Ada retakan halus di cangkir persahabatan mereka, retakan yang jika ditekan sedikit lagi, mungkin akan menghancurkan segalanya. Dan yang paling menakutkan bagi Rara adalah, ia tidak tahu bagaimana cara menambalnya.