BAB 1

BAB 1

GELAP MATA

BAB 1

πŸ—“ 23 Mar 2025 πŸ‘ 666 Views
BAB 1
SUARA DARI MASA DEPAN

Pagi itu, udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah dinding papan rumah kami, menggigit kulit, membangunkan mimpi-mimpi yang masih enggan beranjak. Di luar, burung-burung kutilang sudah mulai bernyanyi, sebuah orkestra alam yang ironisnya terdengar begitu merdu di telingaku yang justru sedang disergap kecemasan. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang cat putihnya sudah mengelupas di sana-sini, membentuk peta kepulauan yang tak bernama. Tubuhku menggigil, bukan hanya karena dinginnya subuh di tanah Sumatera, melainkan karena hari ini adalah hari yang telah lama kutunggu sekaligus kutakuti.

Dari balik pintu kamar yang terbuat dari tripleks tipis, suara Ibu terdengar lembut namun tegas, menembus keheningan pagi.

Nak, bangun, katanya mau pergi hari ini.

Suara itu adalah suara yang paling aku cintai di dunia ini. Suara yang menyimpan ribuan doa, suara yang tak pernah lelah menyemangati, dan suara yang menyembunyikan jutaan kesedihan di balik nada tegarnya. Aku bangkit perlahan, tulang-tulangku berderit pelan. Aku tahu Ibu baru saja selesai menunaikan kewajibannya menghadap Sang Pencipta. Aroma samar sabun batangan dan wangi sajadah tua menguar dari arah ruang tengah.

Jangan lupa shalat habis mandi, lanjut Ibu.

Aku bisa membayangkan beliau sedang melipat mukena putihnya yang sudah agak kekuningan dimakan usia, lalu menggulung sajadah dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah benda itu adalah porselen berharga.

Whoaaam, iya Bu, jawabku sambil menahan kantuk yang masih menggelayuti kelopak mata.

Hari ini, roda nasibku akan berputar. Aku, Budi, anak kampung yang biasanya hanya tahu jalan setapak menuju sungai dan sekolah, akan berangkat ke Pulau Jawa. Jawa, sebuah nama yang bagi kami terdengar seperti tanah harapan, tempat di mana gedung-gedung pencakar langit menusuk awan dan orang-orang pintar berkumpul. Aku akan melanjutkan jenjang pendidikanku ke bangku kuliah. Sebuah frasa yang terdengar mewah dan mahal bagi keluarga kami.

Saat aku membuka jendela, rasa semangat dan bahagia membuat jantungku berdetak kencang, seirama dengan kepak sayap burung yang melintas. Rasanya pohon-pohon kelapa di halaman dan daun-daun pisang menari-nari, ikut senang atas keberangkatanku. Angin pagi menerpa wajahku, membisikkan janji-janji tentang masa depan yang cerah.

Namun, di sudut hati yang lain, ada rasa bersalah yang mencakar-cakar. Rasa tak tega yang terpatri kuat seperti noda getah nangka yang sulit hilang. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Ibu sendirian di rumah tua ini? Rumah yang terlalu besar untuk dihuni seorang diri, namun terlalu sempit untuk menampung kenangan kami bertigaβ€”dulu, saat Ayah masih ada.

Aku menatap cermin kusam di dinding kamar. Wajahku tampak pucat. Perasaan campur aduk ini tidak boleh membuatku patah semangat. Inilah satu-satunya jalan terjal yang harus kudaki agar dapat membanggakan Ibu. Aku ingin kelak pulang bukan sebagai Budi si anak yatim yang miskin, tapi Budi sarjana yang bisa membelikan Ibu rumah baru, atau setidaknya memperbaiki atap yang bocor setiap musim hujan tiba. Tekad itu membara di dadaku, menghangatkan darah yang sempat membeku karena keraguan.

Aku keluar kamar. Di meja makan kayu yang taplaknya sudah mulai sobek di bagian pinggir, terhidang sarapan sederhana. Pisang goreng dan teh hangat. Asap tipis mengepul dari cangkir loreng kesayangan Ayah yang kini kupakai. Ibu tersenyum melihatku, senyum yang dipaksakan untuk terlihat manis, meski matanya yang sembab tak bisa berbohong. Kantung matanya hitam, tanda beliau kurang tidur, mungkin semalaman bersujud mendoakan keselamatan perjalanan anak semata wayangnya.

Makanlah, Nak. Nanti di jalan susah cari makan, ucap Ibu sambil menyodorkan piring seng berisi pisang goreng.

Tangannya yang keriput dan kasar karena bekerja keras bergetar sedikit saat meletakkan piring itu. Aku menahan napas. Ingin rasanya aku memeluk kaki Ibu dan berkata aku tidak jadi pergi, aku akan di sini saja menemaninya menua. Tapi aku tahu, kalimat itu justru akan melukai hatinya lebih dalam daripada kepergianku. Ibu ingin aku terbang tinggi, meski itu berarti ia harus melepaskan genggamannya pada satu-satunya harta yang ia miliki.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G