BAB 3
HUTAN BETON DAN KAMAR KARDUS
Tahun demi tahun berlalu seperti air sungai yang mengalir lambat namun pasti. Kami, aku dan Ibu, belajar untuk berdamai dengan lubang di hati kami, meski tidak pernah benar-benar bisa menutupnya. Kami tidak ingin berlarut dalam kesedihan, karena hidup terus menuntut biaya.
Hari ini, di terminal bus antarkota yang bising dan penuh asap knalpot, adalah hari pembuktianku. Pembuktian kepada Ibu bahwasanya aku sudah bisa hidup mandiri, bahwa anak manja yang dulu menangis di lobi sekolah itu kini telah tumbuh menjadi lelaki dewasa.
Kasihan Ibu. Semenjak kepergian Ayah, gurat lelah di wajahnya semakin dalam. Kulitnya yang dulu cerah kini terbakar matahari karena harus bekerja serabutan. Ia menjadi buruh cuci, terkadang membantu di ladang orang, merangkap menjadi ibu rumah tangga yang mengurus segala kebutuhanku. Aku ingin membalas jasa Ibu yang tak terhingga itu. Meskipun aku tahu, biaya kuliah di Jawa tak murah bagi janda miskin seperti Ibu. Namun aku meyakinkan Ibu dengan mata berbinar, bahwa aku bisa bekerja paruh waktu. Aku akan menjadi kuli panggul, tukang cuci piring, apa saja, asalkan bisa meringankan beban Ibu.
Ibu sempat ragu. Kekhawatirannya beralasan, karena belakangan ini sakit-sakitannya sering kambuh. Batuknya sering terdengar di malam hari, dan pinggangnya sering encok. Kondisi itu membuatnya sudah tidak bisa bekerja sekeras dulu.
Aku pamit ya, Bu, ucapku di teras rumah. Suaraku tercekat. Aku menahan air mata haru bercampur sedih sekuat tenaga. Aku tidak boleh menangis. Pantang bagi anak laki-laki menangis di saat hendak merantau.
Ada rasa lega yang aneh saat menyadari aku akan keluar dari kampung ini. Terlalu banyak kenangan kelam di setiap sudut desa yang membuatku teringat akan Ayah. Aku ingin lari, lari sejauh mungkin untuk membangun nasib baru. Aku tidak ingin terus bergantung pada Ibu, seperti telur yang terus dierami ayam dan tak kunjung menetas.
Hati-hati ya Nak! ujar Ibu lembut. Ia memeluk erat tubuhku, pelukan yang mentransfer seluruh kekuatan yang tersisa di tubuh rentanya. Aroma tubuh Ibu—campuran bau balsem dan keringat—akan menjadi aroma yang paling kurindukan.
Setelah drama perpisahan yang menguras air mata di teras, aku naik ke bus besar yang akan membawaku menyeberangi selat. Di dalam bus, langit di luar masih gelap, belum menampakkan sinar mentari. Aku duduk di kursi belakang paling pojok, tempat favorit para perantau yang ingin menyembunyikan wajah cemasnya. Aku mulai membuka novel bacaan kusam yang kubawa untuk membunuh waktu dan rasa bosan.
Perjalanan menuju Pulau Jawa berlangsung selama tiga hari tiga malam. Tiga hari yang penuh guncangan. Pemandangan selama perjalanan berganti-ganti seperti slide film. Hutan-hutan lebat Sumatera, jalanan berkelok yang memabukkan, hingga akhirnya menyeberang laut dan mendarat di tanah Jawa. Pemandangan di sini berbeda. Sawah-sawah berbaris rapi, rumah-rumah penduduk begitu padat, dan kendaraan bermotor memadati jalanan seperti semut yang gula-gulanya tumpah.
Setibanya aku di kota tujuan, hal pertama yang kulakukan bukanlah berjalan-jalan menikmati suasana kota, melainkan mencari tempat bernaung. Aku mencari kos-kosan termurah yang bisa ditemukan manusia. Berbekal informasi dari orang-orang di warung kopi, aku menemukan sebuah gang sempit yang lembap.
Aku membawa barang-barangku, sebuah tas ransel besar dan kardus mie instan berisi buku, masuk ke dalam kamar baruku. Kosku sangat sederhana, kalau tidak mau dibilang menyedihkan. Dengan ukuran 4x4 meter, ruangan ini lebih mirip kotak penyimpanan barang daripada tempat tinggal manusia. Tapi bagiku, ini sudah cukup. Ini adalah istanaku.
Fasilitasnya pun sangat dasar. Sebuah kipas angin kecil yang berbunyi kerotok-kerotok saat dinyalakan, kasur busa tipis yang sudah kempes di bagian tengah, dan sebuah dapur umum di ujung lorong kos yang harus dipakai bergantian dengan penghuni lain. Bau masakan gosong dan deterjen murah selalu menggantung di udara lorong itu.
Inilah awal hidup baruku. Di ruangan 4x4 meter inilah mimpi-mimpi besarku akan kurakit, atau justru akan terkubur. Aku meletakkan tas di lantai ubin yang dingin, menghela napas panjang, mencoba menghirup aroma kebebasan yang bercampur dengan bau apek kamar yang lama tak dihuni.
HUTAN BETON DAN KAMAR KARDUS
Tahun demi tahun berlalu seperti air sungai yang mengalir lambat namun pasti. Kami, aku dan Ibu, belajar untuk berdamai dengan lubang di hati kami, meski tidak pernah benar-benar bisa menutupnya. Kami tidak ingin berlarut dalam kesedihan, karena hidup terus menuntut biaya.
Hari ini, di terminal bus antarkota yang bising dan penuh asap knalpot, adalah hari pembuktianku. Pembuktian kepada Ibu bahwasanya aku sudah bisa hidup mandiri, bahwa anak manja yang dulu menangis di lobi sekolah itu kini telah tumbuh menjadi lelaki dewasa.
Kasihan Ibu. Semenjak kepergian Ayah, gurat lelah di wajahnya semakin dalam. Kulitnya yang dulu cerah kini terbakar matahari karena harus bekerja serabutan. Ia menjadi buruh cuci, terkadang membantu di ladang orang, merangkap menjadi ibu rumah tangga yang mengurus segala kebutuhanku. Aku ingin membalas jasa Ibu yang tak terhingga itu. Meskipun aku tahu, biaya kuliah di Jawa tak murah bagi janda miskin seperti Ibu. Namun aku meyakinkan Ibu dengan mata berbinar, bahwa aku bisa bekerja paruh waktu. Aku akan menjadi kuli panggul, tukang cuci piring, apa saja, asalkan bisa meringankan beban Ibu.
Ibu sempat ragu. Kekhawatirannya beralasan, karena belakangan ini sakit-sakitannya sering kambuh. Batuknya sering terdengar di malam hari, dan pinggangnya sering encok. Kondisi itu membuatnya sudah tidak bisa bekerja sekeras dulu.
Aku pamit ya, Bu, ucapku di teras rumah. Suaraku tercekat. Aku menahan air mata haru bercampur sedih sekuat tenaga. Aku tidak boleh menangis. Pantang bagi anak laki-laki menangis di saat hendak merantau.
Ada rasa lega yang aneh saat menyadari aku akan keluar dari kampung ini. Terlalu banyak kenangan kelam di setiap sudut desa yang membuatku teringat akan Ayah. Aku ingin lari, lari sejauh mungkin untuk membangun nasib baru. Aku tidak ingin terus bergantung pada Ibu, seperti telur yang terus dierami ayam dan tak kunjung menetas.
Hati-hati ya Nak! ujar Ibu lembut. Ia memeluk erat tubuhku, pelukan yang mentransfer seluruh kekuatan yang tersisa di tubuh rentanya. Aroma tubuh Ibu—campuran bau balsem dan keringat—akan menjadi aroma yang paling kurindukan.
Setelah drama perpisahan yang menguras air mata di teras, aku naik ke bus besar yang akan membawaku menyeberangi selat. Di dalam bus, langit di luar masih gelap, belum menampakkan sinar mentari. Aku duduk di kursi belakang paling pojok, tempat favorit para perantau yang ingin menyembunyikan wajah cemasnya. Aku mulai membuka novel bacaan kusam yang kubawa untuk membunuh waktu dan rasa bosan.
Perjalanan menuju Pulau Jawa berlangsung selama tiga hari tiga malam. Tiga hari yang penuh guncangan. Pemandangan selama perjalanan berganti-ganti seperti slide film. Hutan-hutan lebat Sumatera, jalanan berkelok yang memabukkan, hingga akhirnya menyeberang laut dan mendarat di tanah Jawa. Pemandangan di sini berbeda. Sawah-sawah berbaris rapi, rumah-rumah penduduk begitu padat, dan kendaraan bermotor memadati jalanan seperti semut yang gula-gulanya tumpah.
Setibanya aku di kota tujuan, hal pertama yang kulakukan bukanlah berjalan-jalan menikmati suasana kota, melainkan mencari tempat bernaung. Aku mencari kos-kosan termurah yang bisa ditemukan manusia. Berbekal informasi dari orang-orang di warung kopi, aku menemukan sebuah gang sempit yang lembap.
Aku membawa barang-barangku, sebuah tas ransel besar dan kardus mie instan berisi buku, masuk ke dalam kamar baruku. Kosku sangat sederhana, kalau tidak mau dibilang menyedihkan. Dengan ukuran 4x4 meter, ruangan ini lebih mirip kotak penyimpanan barang daripada tempat tinggal manusia. Tapi bagiku, ini sudah cukup. Ini adalah istanaku.
Fasilitasnya pun sangat dasar. Sebuah kipas angin kecil yang berbunyi kerotok-kerotok saat dinyalakan, kasur busa tipis yang sudah kempes di bagian tengah, dan sebuah dapur umum di ujung lorong kos yang harus dipakai bergantian dengan penghuni lain. Bau masakan gosong dan deterjen murah selalu menggantung di udara lorong itu.
Inilah awal hidup baruku. Di ruangan 4x4 meter inilah mimpi-mimpi besarku akan kurakit, atau justru akan terkubur. Aku meletakkan tas di lantai ubin yang dingin, menghela napas panjang, mencoba menghirup aroma kebebasan yang bercampur dengan bau apek kamar yang lama tak dihuni.