BAB 5
LINGKARAN SETAN
Sudah beberapa hari ini Ibu Kos menerorku. Setiap kali berpapasan, tatapannya seperti elang yang siap menyambar anak ayam. Aku selalu mengatakan "besok" dan "besok", sebuah janji palsu yang kuucapkan demi membeli waktu. Hingga hari ini, Ibu Kos kehilangan kesabaran dan memakiku di depan umum. Harga diriku rasanya sudah jatuh ke titik nol.
Aku duduk di tepi kasur busa, memijat kepalaku yang berdenyut hebat. Bingung. Di mana dan bagaimana caraku mencari uang untuk membayar kos besok pagi? Pikiranku dipenuhi benang kusut masalah yang tak terurai.
Mulai dari tugas kuliah yang menumpuk setinggi gunung karena aku sibuk bekerja, dosen yang mulai menyindir karena aku sering terlambat, Ibu di kampung yang meminta uang tambahan karena sakitnya yang semakin parah—ternyata obat saja tidak cukup, perlu vitamin dan susu—hingga biaya semesteran kuliah yang belum aku bayar dan sudah masuk masa tenggat.
Dunia rasanya menghimpitku dari segala arah. Dinding kamar 4x4 meter ini terasa semakin sempit, seolah bergerak mendekat untuk meremukkan tulang-tulangku.
Setelah berpikir sejenak, menimbang-nimbang rasa malu, aku memutuskan untuk meminjam uang kepada teman kampusku. Namanya Rudi, anak orang berada yang sepertinya tidak pernah pusing masalah uang.
Aku mengetik pesan melalui Whatsapp dengan jari gemetar. Menulis pesan pinjaman uang adalah hal yang paling merendahkan diri, tapi aku terdesak.
Maaf mengganggu waktu lo, lo ada uang enggak? Lagi butuh banget nih.
Aku menekan tombol kirim, lalu melempar ponsel ke kasur, tak berani menatap layar. Detik demi detik berlalu seperti jam.
Ting!
Notifikasi telepon genggamku berbunyi. Aku menyambar ponsel itu dengan harapan membuncah. Ternyata dia telah menjawab pesanku.
Aduhhh gue lagi enggak ada juga nih bro, kalau lo lagi butuh, gue ada aplikasi yang bisa lo pake, gue jamin lo untung sih, entar gue kirim linknya.
Kecewa. Harapanku musnah. Tapi kemudian, rasa penasaran menyusup. Aplikasi apa? Untung? Kata "untung" terdengar sangat seksi di telingaku yang sedang butuh uang cepat.
Tak lama kemudian, sebuah tautan masuk. Aku melihat tautan yang ia kirim, sebuah deretan huruf dan angka yang aneh. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh keputusasaan, aku menekan tautan tersebut.
Layar ponselku berubah tampilan. Muncul gambar koin-koin emas yang berkilauan, grafis yang norak namun menggoda, dengan latar suara denting uang yang meriah. Di tengah layar, ada tombol besar berwarna hijau yang bertuliskan: MAIN.
Jadi ini yang namanya judi online? Aku pernah mendengar desas-desus tentang ini, tentang orang yang kaya mendadak, tapi juga tentang orang yang hancur. Namun, setan di telingaku berbisik lebih keras daripada malaikat. Coba saja, cuma sedikit. Siapa tahu nasibmu berubah.
Karena penasaran dan terdesak, aku pun memencet tombol itu. Aku mendaftar dengan data seadanya.
Awalnya aku memasang Rp5.000. Uang sisa makan siangku. Aku mulai mengundi. Jantungku berdegup kencang saat melihat papan slot di layar telepon genggamku berputar cepat. Simbol-simbol buah dan angka berkejaran, lalu melambat... melambat... hingga berhenti.
Ting! Ting! Ting!
SELAMAT ANDA MENDAPATKAN Rp50.000
Mataku membelalak. Aku membaca tulisan itu berulang-ulang dengan perasaan senang yang meledak-ledak. Lima ribu jadi lima puluh ribu? Dalam hitungan detik? Tanpa perlu berdiri delapan jam dimaki pelanggan?
Kalau kayak gini rebahan saja bisa menghasilkan uang, gumamku girang dalam hati. Adrenalin membanjiri otakku, memberikan sensasi euforia yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku terlarut. Rasa takut akan dosa dan resiko lenyap seketika, digantikan oleh keserakahan. Aku terus mengundi di aplikasi tersebut. Menang, kalah sedikit, menang lagi lebih banyak. Hingga akhirnya, saldo di akun itu menunjukkan angka yang cukup untuk membayar kos, bahkan lebih.
Paginya, dengan langkah tegap dan dagu terangkat, aku langsung membayar uang sewa kepada Ibu Kos. Aku menyodorkan uang lembaran merah yang masih kaku.
Banyaknya uang kau, pinjam di mananya kau? ucapnya ketus sambil menghitung uang itu, tak ada kata terima kasih sedikit pun. Curiga terpancar dari matanya.
Aku tidak peduli. Yang penting aku sudah membayarnya. Mulut pedasnya sudah kubungkam dengan uang. Aku kembali ke kamar dengan perasaan menang. Aku sudah tidak pusing lagi dengan masalah keuangan. Ternyata solusinya ada di genggamanku selama ini. Jika butuh uang, aku tinggal membuka aplikasi itu, menekan tombol, dan uang akan kudapat dengan sangat mudah. Semudah memetik daun di halaman.
Aku tidak tahu, saat itu aku baru saja melangkah masuk ke dalam perangkap yang akan menghancurkan hidupku perlahan namun pasti. Pintu neraka itu terlihat indah dan berkilauan, dan aku baru saja mengetuknya.
LINGKARAN SETAN
Sudah beberapa hari ini Ibu Kos menerorku. Setiap kali berpapasan, tatapannya seperti elang yang siap menyambar anak ayam. Aku selalu mengatakan "besok" dan "besok", sebuah janji palsu yang kuucapkan demi membeli waktu. Hingga hari ini, Ibu Kos kehilangan kesabaran dan memakiku di depan umum. Harga diriku rasanya sudah jatuh ke titik nol.
Aku duduk di tepi kasur busa, memijat kepalaku yang berdenyut hebat. Bingung. Di mana dan bagaimana caraku mencari uang untuk membayar kos besok pagi? Pikiranku dipenuhi benang kusut masalah yang tak terurai.
Mulai dari tugas kuliah yang menumpuk setinggi gunung karena aku sibuk bekerja, dosen yang mulai menyindir karena aku sering terlambat, Ibu di kampung yang meminta uang tambahan karena sakitnya yang semakin parah—ternyata obat saja tidak cukup, perlu vitamin dan susu—hingga biaya semesteran kuliah yang belum aku bayar dan sudah masuk masa tenggat.
Dunia rasanya menghimpitku dari segala arah. Dinding kamar 4x4 meter ini terasa semakin sempit, seolah bergerak mendekat untuk meremukkan tulang-tulangku.
Setelah berpikir sejenak, menimbang-nimbang rasa malu, aku memutuskan untuk meminjam uang kepada teman kampusku. Namanya Rudi, anak orang berada yang sepertinya tidak pernah pusing masalah uang.
Aku mengetik pesan melalui Whatsapp dengan jari gemetar. Menulis pesan pinjaman uang adalah hal yang paling merendahkan diri, tapi aku terdesak.
Maaf mengganggu waktu lo, lo ada uang enggak? Lagi butuh banget nih.
Aku menekan tombol kirim, lalu melempar ponsel ke kasur, tak berani menatap layar. Detik demi detik berlalu seperti jam.
Ting!
Notifikasi telepon genggamku berbunyi. Aku menyambar ponsel itu dengan harapan membuncah. Ternyata dia telah menjawab pesanku.
Aduhhh gue lagi enggak ada juga nih bro, kalau lo lagi butuh, gue ada aplikasi yang bisa lo pake, gue jamin lo untung sih, entar gue kirim linknya.
Kecewa. Harapanku musnah. Tapi kemudian, rasa penasaran menyusup. Aplikasi apa? Untung? Kata "untung" terdengar sangat seksi di telingaku yang sedang butuh uang cepat.
Tak lama kemudian, sebuah tautan masuk. Aku melihat tautan yang ia kirim, sebuah deretan huruf dan angka yang aneh. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh keputusasaan, aku menekan tautan tersebut.
Layar ponselku berubah tampilan. Muncul gambar koin-koin emas yang berkilauan, grafis yang norak namun menggoda, dengan latar suara denting uang yang meriah. Di tengah layar, ada tombol besar berwarna hijau yang bertuliskan: MAIN.
Jadi ini yang namanya judi online? Aku pernah mendengar desas-desus tentang ini, tentang orang yang kaya mendadak, tapi juga tentang orang yang hancur. Namun, setan di telingaku berbisik lebih keras daripada malaikat. Coba saja, cuma sedikit. Siapa tahu nasibmu berubah.
Karena penasaran dan terdesak, aku pun memencet tombol itu. Aku mendaftar dengan data seadanya.
Awalnya aku memasang Rp5.000. Uang sisa makan siangku. Aku mulai mengundi. Jantungku berdegup kencang saat melihat papan slot di layar telepon genggamku berputar cepat. Simbol-simbol buah dan angka berkejaran, lalu melambat... melambat... hingga berhenti.
Ting! Ting! Ting!
SELAMAT ANDA MENDAPATKAN Rp50.000
Mataku membelalak. Aku membaca tulisan itu berulang-ulang dengan perasaan senang yang meledak-ledak. Lima ribu jadi lima puluh ribu? Dalam hitungan detik? Tanpa perlu berdiri delapan jam dimaki pelanggan?
Kalau kayak gini rebahan saja bisa menghasilkan uang, gumamku girang dalam hati. Adrenalin membanjiri otakku, memberikan sensasi euforia yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku terlarut. Rasa takut akan dosa dan resiko lenyap seketika, digantikan oleh keserakahan. Aku terus mengundi di aplikasi tersebut. Menang, kalah sedikit, menang lagi lebih banyak. Hingga akhirnya, saldo di akun itu menunjukkan angka yang cukup untuk membayar kos, bahkan lebih.
Paginya, dengan langkah tegap dan dagu terangkat, aku langsung membayar uang sewa kepada Ibu Kos. Aku menyodorkan uang lembaran merah yang masih kaku.
Banyaknya uang kau, pinjam di mananya kau? ucapnya ketus sambil menghitung uang itu, tak ada kata terima kasih sedikit pun. Curiga terpancar dari matanya.
Aku tidak peduli. Yang penting aku sudah membayarnya. Mulut pedasnya sudah kubungkam dengan uang. Aku kembali ke kamar dengan perasaan menang. Aku sudah tidak pusing lagi dengan masalah keuangan. Ternyata solusinya ada di genggamanku selama ini. Jika butuh uang, aku tinggal membuka aplikasi itu, menekan tombol, dan uang akan kudapat dengan sangat mudah. Semudah memetik daun di halaman.
Aku tidak tahu, saat itu aku baru saja melangkah masuk ke dalam perangkap yang akan menghancurkan hidupku perlahan namun pasti. Pintu neraka itu terlihat indah dan berkilauan, dan aku baru saja mengetuknya.