BAB 1
DUA BOCAH DI KETIAK BUKIT
Desa kami bukanlah tempat yang akan kau temukan dengan mudah di peta dunia, bahkan mungkin luput dari peta provinsi jika si pembuat peta sedang terburu-buru mengejar tenggat waktu. Desa ini tersembunyi malu-malu di antara lipatan perbukitan hijau yang membentang laksana punggung naga raksasa yang sedang tidur siang. [cite_start]Di sanalah, di tengah orkestra jangkrik dan aroma tanah basah sehabis hujan, takdir merajut kisah dua anak manusia: Kelana dan Dikara[cite: 63].
Kisah mereka tidak dimulai dengan ledakan dahsyat, melainkan dengan aroma minyak telon dan bedak bayi. Rumah orang tua mereka bertetangga, hanya dipisahkan oleh pagar tanaman beluntas yang sering kali lebih berfungsi sebagai tempat menjemur kasur ompol ketimbang pembatas wilayah. [cite_start]Karena kedekatan geografis yang tak terelakkan ini, Kelana dan Dikara sudah ditakdirkan menjadi kawan seperjuangan sejak mereka masih mengenakan popok kain yang dicuci berulang kali hingga warnanya memudar[cite: 64].
Kelana adalah bocah dengan sorot mata tajam yang selalu ingin tahu, sementara Dikara memiliki senyum tenang yang seolah menyimpan kebijaksanaan orang tua. Mereka tumbuh selayaknya ilalang di musim penghujan, cepat dan liar. Bagi penduduk desa, melihat Kelana tanpa Dikara adalah sebuah kejanggalan alam, seperti melihat siang tanpa matahari atau gulai tanpa santan. Mereka adalah paket hemat yang diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi.
Sejak kecil, mereka memiliki kemewahan yang tidak dimiliki anak-anak kota: halaman bermain yang tak terbatas. Tidak ada gawai canggih, tidak ada pusat perbelanjaan berpendingin udara. Yang mereka punya adalah alam semesta yang membentang di belakang rumah. Sebuah sungai kecil mengalir jernih, membelah desa dengan riak-riaknya yang jenaka. [cite_start]Di sanalah markas besar mereka berada[cite: 65].
Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya keemasannya yang magis, kau akan menemukan dua kepala kecil itu menyembul di antara bebatuan sungai. Mereka bukan sekadar bermain air. Di dalam imajinasi mereka yang megah, mereka adalah laksamana-laksamana laut yang sedang mempersiapkan ekspedisi menaklukkan samudra.
DUA BOCAH DI KETIAK BUKIT
Desa kami bukanlah tempat yang akan kau temukan dengan mudah di peta dunia, bahkan mungkin luput dari peta provinsi jika si pembuat peta sedang terburu-buru mengejar tenggat waktu. Desa ini tersembunyi malu-malu di antara lipatan perbukitan hijau yang membentang laksana punggung naga raksasa yang sedang tidur siang. [cite_start]Di sanalah, di tengah orkestra jangkrik dan aroma tanah basah sehabis hujan, takdir merajut kisah dua anak manusia: Kelana dan Dikara[cite: 63].
Kisah mereka tidak dimulai dengan ledakan dahsyat, melainkan dengan aroma minyak telon dan bedak bayi. Rumah orang tua mereka bertetangga, hanya dipisahkan oleh pagar tanaman beluntas yang sering kali lebih berfungsi sebagai tempat menjemur kasur ompol ketimbang pembatas wilayah. [cite_start]Karena kedekatan geografis yang tak terelakkan ini, Kelana dan Dikara sudah ditakdirkan menjadi kawan seperjuangan sejak mereka masih mengenakan popok kain yang dicuci berulang kali hingga warnanya memudar[cite: 64].
Kelana adalah bocah dengan sorot mata tajam yang selalu ingin tahu, sementara Dikara memiliki senyum tenang yang seolah menyimpan kebijaksanaan orang tua. Mereka tumbuh selayaknya ilalang di musim penghujan, cepat dan liar. Bagi penduduk desa, melihat Kelana tanpa Dikara adalah sebuah kejanggalan alam, seperti melihat siang tanpa matahari atau gulai tanpa santan. Mereka adalah paket hemat yang diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi.
Sejak kecil, mereka memiliki kemewahan yang tidak dimiliki anak-anak kota: halaman bermain yang tak terbatas. Tidak ada gawai canggih, tidak ada pusat perbelanjaan berpendingin udara. Yang mereka punya adalah alam semesta yang membentang di belakang rumah. Sebuah sungai kecil mengalir jernih, membelah desa dengan riak-riaknya yang jenaka. [cite_start]Di sanalah markas besar mereka berada[cite: 65].
Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya keemasannya yang magis, kau akan menemukan dua kepala kecil itu menyembul di antara bebatuan sungai. Mereka bukan sekadar bermain air. Di dalam imajinasi mereka yang megah, mereka adalah laksamana-laksamana laut yang sedang mempersiapkan ekspedisi menaklukkan samudra.