BAB 1
AROMA MINYAK GORENG DAN HARAPAN YANG TERBIT PAGI
Pagi di rumah kami selalu dimulai sebelum matahari benar-benar berani menampakkan wajahnya. Di ufuk timur, semburat oranye masih bergelut dengan sisa-sisa kelam malam, namun di dapur sempit berukuran dua kali tiga meter itu, kehidupan sudah berdenyut kencang. Aroma pisang yang menyentuh minyak panas menjadi alarm alami bagiku, sebuah wangi yang menenangkan sekaligus menyiratkan perjuangan panjang yang tak pernah usai.
Namaku Sabitha. Aku adalah satu-satunya harapan yang tumbuh di antara dinding-dinding papan rumah kami yang sudah mulai lapuk dimakan rayap dan usia. Ibuku, perempuan paling tangguh yang pernah kukenal, sudah sibuk membolak-balik gorengan di wajan hitam legamnya. Wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus tampak berkilauan tertimpa cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung menyedihkan di langit-langit.
Sabitha, tolong ambilkan saringan, ujar Ibu tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepalanya. Tangannya cekatan, menari-nari di atas kompor sumbu yang apinya kadang biru kadang merah merona, menandakan minyak tanah yang mulai sekarat.
Aku segera bergerak. Langkahku ringan, sudah hafal di mana letak setiap benda di rumah mungil ini. Bahkan dengan mata tertutup pun, aku tahu di mana letak toples garam, di mana piring seng yang penyok, dan di mana ayah biasa meletakkan topi kuli-nya yang penuh debu semen.
Ayah belum bangun? tanyaku pelan sambil meletakkan saringan aluminium di samping wajan.
Ibu menghela napas panjang, sebuah helaan yang terdengar seperti menahan beban gunung di pundaknya. Semalam batuk Ayah kambuh lagi. Biarkan dia istirahat barang sepuluh menit lagi. Hari ini ada bongkaran semen di gudang pelabuhan, tenaganya akan dikuras habis.
Hatiku mencelos. Ayahku hanyalah seorang kuli panggul dengan punggung yang semakin membungkuk setiap tahunnya. Kulitnya legam terbakar matahari, kasar seperti kulit kayu, namun hatinya selembut kapas. Ia adalah lelaki yang tak banyak bicara, yang menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyum lelah saat pulang ke rumah membawa beberapa lembar uang ribuan yang lusuh.
Aku mengambil alih tugas Ibu menata pisang goreng, bakwan, dan tahu isi ke dalam nampan plastik. Uap panas mengepul, membawa aroma gurih yang akan segera kami jajakan atau titipkan di warung-warung tetangga. Inilah nafkah kami. Dari remah-remah tepung dan minyak inilah aku bisa membeli buku tulis, pensil, dan membayar iuran sekolah yang seringkali menunggak.
Kau harus sekolah yang pintar, Sabitha. Jangan jadi seperti Ibu dan Ayah. Cukup kami yang bodoh, cukup kami yang bau keringat setiap hari, kata Ibu tiba-tiba, suaranya bergetar halus. Ia menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan, campuran antara kasih sayang yang meluap dan ketakutan akan masa depan yang tak pasti.
Aku mengangguk mantap, meski ada gemuruh di dadaku. Iya, Bu. Sabitha janji. Sabitha tidak akan mengecewakan Ibu dan Ayah.
Janji itu bukan sekadar kata-kata manis penenang hati orang tua. Itu adalah sumpah yang kupahat dalam-dalam di sanubariku. Di tengah keterbatasan ini, di mana mimpi seringkali dianggap sebagai kemewahan yang tak terjangkau, aku bertekad untuk mendaki tebing nasib yang terjal ini.
Suara batuk terdengar dari kamar sebelah, memecah keheningan pagi. Ayah sudah bangun. Bunyi dipan bambu yang berderit menandakan ia sedang berusaha duduk, mengumpulkan nyawa dan tenaga untuk kembali bertarung melawan kerasnya dunia. Aku menatap pintu kamar yang tertutup tirai kain perca itu dengan nanar. Di sanalah pahlawanku berada, pahlawan yang tak berjubah, yang senjatanya hanyalah tenaga yang kian hari kian menipis.
Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, kami sarapan dengan sisa nasi semalam yang digoreng tanpa kecap, ditemani satu potong bakwan hangat. Sederhana, bahkan mungkin bagi sebagian orang tak layak disebut sarapan, tapi bagiku ini adalah hidangan raja. Karena di meja makan kecil yang kakinya diganjal potongan kayu ini, ada cinta yang melimpah ruah, lebih mengenyangkan daripada hidangan restoran bintang lima manapun.
AROMA MINYAK GORENG DAN HARAPAN YANG TERBIT PAGI
Pagi di rumah kami selalu dimulai sebelum matahari benar-benar berani menampakkan wajahnya. Di ufuk timur, semburat oranye masih bergelut dengan sisa-sisa kelam malam, namun di dapur sempit berukuran dua kali tiga meter itu, kehidupan sudah berdenyut kencang. Aroma pisang yang menyentuh minyak panas menjadi alarm alami bagiku, sebuah wangi yang menenangkan sekaligus menyiratkan perjuangan panjang yang tak pernah usai.
Namaku Sabitha. Aku adalah satu-satunya harapan yang tumbuh di antara dinding-dinding papan rumah kami yang sudah mulai lapuk dimakan rayap dan usia. Ibuku, perempuan paling tangguh yang pernah kukenal, sudah sibuk membolak-balik gorengan di wajan hitam legamnya. Wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus tampak berkilauan tertimpa cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung menyedihkan di langit-langit.
Sabitha, tolong ambilkan saringan, ujar Ibu tanpa menoleh, seolah ia memiliki mata di belakang kepalanya. Tangannya cekatan, menari-nari di atas kompor sumbu yang apinya kadang biru kadang merah merona, menandakan minyak tanah yang mulai sekarat.
Aku segera bergerak. Langkahku ringan, sudah hafal di mana letak setiap benda di rumah mungil ini. Bahkan dengan mata tertutup pun, aku tahu di mana letak toples garam, di mana piring seng yang penyok, dan di mana ayah biasa meletakkan topi kuli-nya yang penuh debu semen.
Ayah belum bangun? tanyaku pelan sambil meletakkan saringan aluminium di samping wajan.
Ibu menghela napas panjang, sebuah helaan yang terdengar seperti menahan beban gunung di pundaknya. Semalam batuk Ayah kambuh lagi. Biarkan dia istirahat barang sepuluh menit lagi. Hari ini ada bongkaran semen di gudang pelabuhan, tenaganya akan dikuras habis.
Hatiku mencelos. Ayahku hanyalah seorang kuli panggul dengan punggung yang semakin membungkuk setiap tahunnya. Kulitnya legam terbakar matahari, kasar seperti kulit kayu, namun hatinya selembut kapas. Ia adalah lelaki yang tak banyak bicara, yang menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyum lelah saat pulang ke rumah membawa beberapa lembar uang ribuan yang lusuh.
Aku mengambil alih tugas Ibu menata pisang goreng, bakwan, dan tahu isi ke dalam nampan plastik. Uap panas mengepul, membawa aroma gurih yang akan segera kami jajakan atau titipkan di warung-warung tetangga. Inilah nafkah kami. Dari remah-remah tepung dan minyak inilah aku bisa membeli buku tulis, pensil, dan membayar iuran sekolah yang seringkali menunggak.
Kau harus sekolah yang pintar, Sabitha. Jangan jadi seperti Ibu dan Ayah. Cukup kami yang bodoh, cukup kami yang bau keringat setiap hari, kata Ibu tiba-tiba, suaranya bergetar halus. Ia menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan, campuran antara kasih sayang yang meluap dan ketakutan akan masa depan yang tak pasti.
Aku mengangguk mantap, meski ada gemuruh di dadaku. Iya, Bu. Sabitha janji. Sabitha tidak akan mengecewakan Ibu dan Ayah.
Janji itu bukan sekadar kata-kata manis penenang hati orang tua. Itu adalah sumpah yang kupahat dalam-dalam di sanubariku. Di tengah keterbatasan ini, di mana mimpi seringkali dianggap sebagai kemewahan yang tak terjangkau, aku bertekad untuk mendaki tebing nasib yang terjal ini.
Suara batuk terdengar dari kamar sebelah, memecah keheningan pagi. Ayah sudah bangun. Bunyi dipan bambu yang berderit menandakan ia sedang berusaha duduk, mengumpulkan nyawa dan tenaga untuk kembali bertarung melawan kerasnya dunia. Aku menatap pintu kamar yang tertutup tirai kain perca itu dengan nanar. Di sanalah pahlawanku berada, pahlawan yang tak berjubah, yang senjatanya hanyalah tenaga yang kian hari kian menipis.
Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, kami sarapan dengan sisa nasi semalam yang digoreng tanpa kecap, ditemani satu potong bakwan hangat. Sederhana, bahkan mungkin bagi sebagian orang tak layak disebut sarapan, tapi bagiku ini adalah hidangan raja. Karena di meja makan kecil yang kakinya diganjal potongan kayu ini, ada cinta yang melimpah ruah, lebih mengenyangkan daripada hidangan restoran bintang lima manapun.