BAB 5

BAB 5

INGIN SUKSES

BAB 5

๐Ÿ—“ 21 Aug 2025 ๐Ÿ‘ 585 Views
BAB 5
JANJI DI BAWAH CAHAYA PELITA

Malam semakin larut, suara jangkrik di luar rumah bersahut-sahutan dengan deru angin malam yang menyelinap masuk melalui celah-celah dinding papan. Di kamarku yang sempit, aku duduk bersila di atas tikar pandan, menghadap meja belajar kecil yang sebenarnya adalah bekas peti telur yang dipaku ulang oleh Ayah.

Buku-buku pelajaran berserakan di hadapanku. Fisika, Biologi, Kimia. Tiga serangkai ilmu yang menjadi kunci gerbang fakultas kedokteran. Aku melahap setiap halaman, setiap rumus, setiap diagram anatomi tubuh manusia seolah-olah itu adalah makanan paling lezat di dunia. Mataku mulai terasa berat, tapi aku menolak untuk tidur.

Sedikit lagi, Sabitha. Satu bab lagi, bisikku pada diri sendiri, mencubit lengan agar tetap terjaga.

Tak lama kemudian, tirai kamarku tersingkap. Ibu masuk membawa segelas air putih. Ia duduk di sampingku, memandangiku dengan tatapan bangga yang tak bisa disembunyikan.

Belum tidur, Nak? Sudah jam sepuluh lewat, tanya Ibu lembut, tangannya membelai rambutku.

Sebentar lagi, Bu. Sabitha mau selesaikan soal latihan ini dulu.

Ibu tersenyum, tapi ada gurat kesedihan di matanya. Ibu bangga sekali punya anak seperti kamu, Nak. Semangatmu luar biasa. Maafkan Ibu dan Ayah ya, kami tidak bisa memberimu fasilitas seperti teman-temanmu. Tidak ada les privat, tidak ada buku-buku mahal.

Aku meletakkan penaku, lalu memeluk pinggang Ibu erat-erat. Aku menyandarkan kepalaku di perutnya yang hangat. Ibu jangan bicara begitu. Sabitha yang harusnya berterima kasih. Ibu dan Ayah adalah orang tua terbaik di dunia.

Ibu membalas pelukanku, tangannya yang kasar mengelus punggungku. Nak, kamu tahu kenapa Ibu selalu memintamu belajar sungguh-sungguh?

Kenapa, Bu?

Karena kemiskinan itu dekat sekali dengan kekufuran dan kehinaan. Ibu tidak mau kamu dihina orang seumur hidupmu. Ibu ingin kamu mengangkat derajat keluarga ini. Bukan karena Ibu gila hormat, tapi agar kita bisa lebih bermanfaat bagi orang lain. Kalau kamu jadi dokter, kamu bisa menolong orang miskin yang sakit tanpa harus memikirkan biaya. Biar mereka tidak nasibnya sama seperti kita, yang kalau sakit harus mikir seribu kali mau ke puskesmas.

Kata-kata Ibu menancap kuat di hatiku. Jadi dokter bukan hanya soal status sosial, bukan hanya soal pembuktian kepada Rian dan Siska, tapi soal kemanusiaan. Soal memberi harapan bagi mereka yang putus asa.

Ibu, aku ingin jadi dokter bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk Ibu dan Ayah. Aku ingin suatu hari nanti bisa merawat kalian saat kalian tua nanti, jawabku dengan penuh tekad, mataku berkaca-kaca.

Ibu mencium puncak kepalaku. Aamiin, Nak. Doa Ibu selalu menyertaimu di setiap hembusan napas. Sekarang tidurlah. Otakmu butuh istirahat, besok kamu harus sekolah lagi. Jangan begadang terus, nanti kamu sakit.

Setelah Ibu keluar dari kamar, aku tidak langsung tidur. Aku mengambil buku harian kecilku, sebuah buku tulis biasa bersampul cokelat yang kujadikan tempat menampung segala mimpi dan keluh kesah. Dengan pencahayaan remang dari lampu belajar, aku menuliskan kembali apa yang kurasakan hari ini.

Tanggal sekian, bulan sekian. Hari ini aku ditertawakan. Mereka bilang aku gila karena ingin jadi dokter. Tapi malam ini, melihat wajah lelah Ayah dan mendengar nasihat Ibu, aku sadar satu hal: Kegilaan yang sesungguhnya adalah menyerah pada nasib tanpa berbuat apa-apa. Jalan menuju kesuksesan memang tidak mudah, penuh kerikil tajam dan tanjakan curam. Namun aku percaya, dengan kerja keras yang tak kenal lelah, doa yang tak putus, dan restu orang tua, semua kemustahilan itu akan runtuh. Aku siap menyambut hari esok. Aku siap bertarung lagi.

Aku menutup buku harian itu, meletakkannya di bawah bantal. Aku memejamkan mata dengan hati yang penuh harapan. Di luar sana, dunia mungkin masih kejam dan dingin. Tapi di dalam sini, di dalam dadaku, api semangat sedang berkobar hebat, siap membakar segala keraguan yang menghalang. Esok pagi, aku akan bangun lebih awal, membantu Ibu, dan melangkah ke sekolah dengan kepala tegak. Karena aku adalah Sabitha, anak seorang kuli yang berani menantang bintang.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G