BAB 1

BAB 1: JEJAK RODA MENUJU KENANGAN

KEJADIAN ANEH DI RUMAH NENEKKU

BAB 1: JEJAK RODA MENUJU KENANGAN

πŸ—“ 10 May 2025 πŸ‘ 612 Views
BAB 1: JEJAK RODA MENUJU KENANGAN

Hari itu, matahari bersinar dengan terik yang tidak biasa, seolah-olah ingin memeras keringat terakhir dari aspal Jakarta yang sudah lelah. Namun, panas itu tidak sedikit pun mampu melelehkan semangatku. Justru sebaliknya, setiap tetes keringat yang turun terasa seperti penanda hitung mundur menuju kebebasan. Libur sekolah akhirnya tiba. Dua kata ituβ€”"libur sekolah"β€”terdengar seperti mantra sihir di telingaku, sebuah kunci emas yang membuka gerbang menuju dunia tanpa pekerjaan rumah, tanpa bangun pagi buta, dan tanpa seragam yang mulai terasa sesak.

"Sudah siap semua, Nak?" tanya Ibu dari ambang pintu kamarku. Wajahnya dihiasi senyum, jenis senyum yang hanya muncul ketika beban rutinitas harian diangkat dari pundaknya.

Aku mengangguk mantap, menjejalkan satu komik terakhir ke dalam tas ranselku yang sudah menggembung. "Sudah, Bu! Baju, sikat gigi, mainan, semuanya sudah masuk."

Rencana kali ini bukan sekadar liburan biasa ke mal atau taman hiburan kota yang bising. Kali ini, kami akan pergi jauh. Kami akan pulang ke kampung, ke rumah Nenek. Bagi seorang anak kota sepertiku, rumah Nenek adalah sebuah konsep yang abstrak sekaligus memikat. Ia ada di sana, di ujung ingatan yang samar, sebuah tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat dan udara tidak berbau asap knalpot.

Ayah sudah menunggu di mobil, mesinnya menderu halus, siap membelah jalanan. Aku berlari kecil keluar rumah, merasakan angin panas menyapa wajahku untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk ber-AC.

"Perjalanan akan panjang," ujar Ayah sambil melirikku dari kaca spion tengah. Matanya menyiratkan kelelahan kerja, namun ada kilatan antusiasme di sana. "Kamu tidur saja kalau bosan."

"Nggak mau," jawabku cepat. "Aku mau lihat jalan."

Mobil mulai bergerak, meninggalkan pekarangan rumah kami yang akrab. Roda-roda berputar, menggilas jalanan beton, perlahan membawa kami menjauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh perlahan-lahan menyusut di kejauhan, digantikan oleh ruko-ruko pinggiran kota, lalu pabrik-pabrik, dan akhirnya, hamparan hijau yang membentang luas.

Aku menempelkan wajahku ke kaca jendela. Pemandangan di luar sana berubah seperti gulungan film yang diputar. Sawah-sawah yang membentang seperti karpet hijau raksasa, petani dengan caping yang tampak seperti titik-titik kecil di kejauhan, dan kerbau yang berkubang di lumpur. Semua itu begitu asing, namun begitu menenangkan.

Langit perlahan berubah warna. Biru cerah bergradasi menjadi jingga, lalu ungu lebam. Matahari, bola api raksasa itu, perlahan tenggelam di balik punggung bukit yang jauh, menarik selimut malam untuk menutupi bumi.

Perasaan itu mulai muncul. Sebuah perasaan aneh yang campur aduk antara kegembiraan dan kecemasan. Semakin jauh kami pergi, semakin gelap jalanan di depan. Lampu-lampu jalan mulai jarang terlihat, digantikan oleh kegelapan hutan jati dan karet di sisi kiri dan kanan jalan. Kami benar-benar meninggalkan dunia yang kukenal.

"Sebentar lagi sampai," kata Ibu lembut, memecah keheningan yang sempat tercipta di dalam mobil. Suaranya terdengar menenangkan, namun entah kenapa, kegelapan di luar sana membuatku merasa kecil. Sangat kecil.

Mobil kami berbelok memasuki jalan yang lebih sempit, jalan berbatu yang membuat tubuhku terguncang-guncang. Suara ban yang menggilas kerikil terdengar berisik, kontras dengan kesunyian malam di luar. Pohon-pohon besar mencondongkan dahan mereka ke arah jalan, seolah-olah tangan-tangan raksasa yang mencoba meraih atap mobil kami.

Aku menelan ludah. Liburan ini baru saja dimulai, tapi rasanya aku sedang memasuki sebuah cerita petualangan yang belum pernah kubaca sebelumnya. Dan di ujung jalan gelap ini, rumah Nenek menunggu.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G