BAB 2

BAB 2: SELIMUT MALAM DI UJUNG DESA

KEJADIAN ANEH DI RUMAH NENEKKU

BAB 2: SELIMUT MALAM DI UJUNG DESA

๐Ÿ—“ 11 May 2025 ๐Ÿ‘ 634 Views
BAB 2: SELIMUT MALAM DI UJUNG DESA

Kegelapan di desa berbeda dengan kegelapan di kota. Di kota, malam tidak pernah benar-benar hitam. Selalu ada pendar lampu neon, sorot lampu kendaraan, atau cahaya dari gedung-gedung tinggi yang memantul ke awan, menciptakan langit yang berwarna oranye kotor. Tapi di sini, di jalan sempit menuju rumah Nenek, kegelapan itu mutlak. Pekat. Seperti tinta cumi-cumi yang tumpah menutupi semesta.

Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu depan mobil Ayah yang menyorot tajam, membelah kabut tipis yang mulai turun. Cahaya itu menangkap debu-debu yang beterbangan dan serangga-serangga malam yang nekat menabrakkan diri ke arah sinar, seolah melakukan tarian kematian yang tragis.

"Dingin ya, Bu?" tanyaku, mengeratkan jaket yang kupakai. AC mobil sudah dimatikan, dan Ayah membuka sedikit kaca jendela. Udara yang masuk bukan lagi udara panas berdebu, melainkan udara lembap yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk. Aroma hutan.

"Iya, di sini udaranya masih segar. Tidak ada polusi," jawab Ibu sambil menghirup napas dalam-dalam, seolah ingin mengisi paru-parunya dengan oksigen murni itu.

Aku mencoba menikmati udara itu, tapi mataku tidak bisa lepas dari pemandangan di luar jendela. Pepohonan di pinggir jalan tampak seperti siluet monster yang diam mematung. Dahan-dahan mereka yang gundul menjulur ke atas, menyerupai jari-jari kerangka yang ingin mencakar langit tanpa bintang.

Sesekali, kami melewati rumah penduduk. Rumah-rumah panggung sederhana dengan lampu kuning remang-remang di berandanya. Sepi. Tidak ada orang yang duduk-duduk di luar. Pintu-pintu tertutup rapat. Seolah-olah malam di sini adalah wilayah terlarang bagi manusia, dan siapa pun yang berada di luar harus segera mencari perlindungan.

Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul tujuh malam, tapi rasanya seperti sudah tengah malam.

"Itu jembatan tua," tunjuk Ayah ke depan.

Mobil kami melambat saat melintasi sebuah jembatan kayu yang berderit ngeri di bawah bobot kendaraan. Di bawah sana, aku bisa mendengar suara gemericik air sungai yang mengalir deras, menabrak bebatuan. Suara itu terdengar syahdu, namun juga menyimpan misteri. Apa yang ada di dasar sungai itu saat gelap begini? Pikiranku mulai meliar, membayangkan buaya atau makhluk air lainnya yang sedang mengintai.

Setelah melewati jembatan, jalanan mulai menanjak. Kami memasuki area yang lebih rimbun. Kanan kiri jalan kini dipenuhi oleh kebun bambu. Suara gesekan batang bambu yang tertiup angin terdengar seperti suara rintihan lirih. Kriet... kriet...

Bulu kudukku meremang. Aku menggeser dudukku mendekat ke arah tengah, menjauh dari pintu. "Masih jauh, Yah?"

"Lima menit lagi," jawab Ayah singkat. Konsentrasinya penuh pada jalanan yang berkelok dan berlubang.

Lima menit terasa seperti lima jam. Setiap tikungan terasa sama. Gelap, rimbun, dan sunyi. Aku mulai merindukan suara bising klakson dan riuh rendah tetangga di kota. Di sini, kesunyian itu memiliki berat. Ia menekan telingaku, membuatku mendengar detak jantungku sendiri.

Tiba-tiba, mobil berbelok tajam ke sebuah pekarangan luas yang dipagari tanaman teh-tehan setinggi pinggang. Di ujung pekarangan itu, berdiri sebuah bangunan tua yang tampak megah sekaligus menyeramkan dalam balutan bayang-bayang malam.

Rumah Nenek.

Bangunan itu berbentuk joglo dengan atap yang tinggi melengkung. Dindingnya terbuat dari kayu jati yang sudah menghitam dimakan usia. Tidak ada lampu terang benderang yang menyambut kami. Hanya sebuah lampu bohlam 5 watt yang tergantung di teras depan, memancarkan cahaya kuning redup yang nyaris tidak mampu mengusir kegelapan di sekitarnya.

Mobil berhenti. Mesin dimatikan.

Seketika itu juga, suara dunia berubah. Deru mesin yang familiar hilang, digantikan oleh orkestra alam yang asing. Suara jangkrik, suara kodok, dan desau angin di pepohonan.

Aku terdiam di kursi belakang, ragu untuk membuka pintu. Rumah itu tampak seperti raksasa tua yang sedang tidur, dan aku takut kami akan membangunkannya.

"Ayo turun," ajak Ibu, suaranya terdengar ceria, sangat kontras dengan perasaanku yang mulai diselimuti ketidaknyamanan.

Aku menatap pintu rumah besar itu. Apakah Nenek ada di dalam? Kenapa sepi sekali? Perasaan tidak enak mulai merayap di perutku, sebuah firasat bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G