BAB 3

BAB 3: PELUKAN AROMA KAYU TUA

KEJADIAN ANEH DI RUMAH NENEKKU

BAB 3: PELUKAN AROMA KAYU TUA

🗓 12 May 2025 👁 671 Views
BAB 3: PELUKAN AROMA KAYU TUA

Aku melangkah turun dari mobil dengan hati-hati, seolah tanah yang kupijak bisa retak sewaktu-waktu. Kakiku menyentuh tanah yang dingin dan sedikit lembap. Tidak ada semen atau paving block seperti di garasi rumah kami di kota; di sini, alam masih berkuasa penuh atas setiap jengkal tanah.

Ayah sibuk mengeluarkan koper-koper dari bagasi, suara benturan roda koper dengan tanah berbatu memecah kesunyian sesaat. Ibu sudah berjalan lebih dulu menuju teras, langkahnya ringan, seolah ia sedang pulang ke tempat yang paling aman di dunia. Mungkin baginya memang begitu, ini adalah rumah masa kecilnya. Tapi bagiku? Ini adalah benteng tua yang asing.

"Assalamualaikum, Bu!" seru Ibu, suaranya sedikit bergema di beranda yang luas itu.

Pintu kayu jati yang besar dan berat itu perlahan terbuka. Engselnya mengeluarkan bunyi derit panjang yang menyayat telinga—ngiiik—sebuah suara yang lazim terdengar di film-film horor sebelum hantu muncul. Aku menahan napas, bersembunyi sedikit di balik punggung Ayah yang baru saja menyusul dengan membawa tas besar.

Dari balik pintu, muncullah sosok itu. Nenek.

Dia tidak terlihat menakutkan seperti bayanganku barusan. Tubuhnya kecil, sedikit membungkuk dimakan usia. Rambutnya yang memutih seluruhnya digelung rapi di belakang kepala. Kulit wajahnya dipenuhi kerutan yang menceritakan ribuan kisah, namun matanya... matanya bersinar hangat, memantulkan cahaya lampu teras yang redup.

"Waalaikumsalam," jawab Nenek dengan suara yang parau namun lembut. "Duh, cucu Nenek sudah sampai."

Nenek merentangkan kedua tangannya. Ibu langsung memeluknya erat, disusul Ayah yang mencium tangan wanita tua itu dengan takzim. Kini giliranku. Aku maju perlahan, sedikit ragu.

"Sini, Nak," panggil Nenek.

Saat aku mendekat dan memeluknya, aroma khas langsung menyergap hidungku. Itu bukan aroma parfum mahal atau pewangi pakaian. Itu adalah aroma masa lalu. Campuran antara bau minyak kayu putih, kapur barus, aroma cengkeh, dan wangi kayu tua yang entah bagaimana terasa menenangkan sekaligus misterius.

"Kamu sudah besar sekali," gumam Nenek sambil mengusap kepalaku. Tangannya terasa kasar namun hangat. "Ayo masuk, di luar banyak nyamuk."

Kami melangkah masuk ke dalam rumah. Interior rumah itu membuat mataku terbelalak. Ruang tamunya sangat luas, jauh lebih luas dari ruang tamu kami di kota. Namun, perabotannya minim. Hanya ada satu set kursi rotan tua dengan bantalan yang sudah kusam, sebuah meja bundar dengan toples-toples kaca berisi kue kering zaman dulu, dan lemari pajangan besar yang berisi piring-piring keramik antik.

Lantainya bukan keramik putih mengkilap, melainkan ubin tegel berwarna abu-abu kusam yang terasa dingin menembus telapak kakiku. Langit-langit rumah itu tinggi sekali, sampai-sampai cahaya lampu gantung di tengah ruangan tidak mampu menerangi sudut-sudut atas. Di sana, di pertemuan antara dinding dan atap, kegelapan berkumpul, menyembunyikan entah apa. Laba-laba? Cicak? Atau sesuatu yang lain?

"Duduk dulu, Nenek ambilkan minum," kata Nenek sambil berjalan tertatih menuju bagian belakang rumah.

Aku duduk di kursi rotan. Krak. Kursi itu berbunyi saat menerima bobot tubuhku. Aku terlonjak kaget, lalu duduk diam mematung, takut merusaknya.

Mataku menyapu sekeliling ruangan. Dinding-dinding kayu itu dipenuhi foto-foto hitam putih. Foto orang-orang yang tidak kakenal. Wajah-wajah kaku tanpa senyum, menatap lurus ke depan. Ada foto seorang pria berkumis tebal memakai blangkon—mungkin Kakek? Ada foto keluarga besar yang berbaris rapi. Tatapan mereka semua seolah tertuju padaku, tamu kecil yang asing di rumah pusaka ini.

Angin malam berhembus masuk melalui ventilasi di atas jendela, membuat gorden tua bermotif bunga bergoyang pelan. Bayangan gorden itu jatuh ke lantai, bergerak-gerak seperti tangan yang sedang melambai.

"Rumah ini... tua banget ya, Yah?" bisikku pada Ayah.

"Iya, ini rumah peninggalan buyutmu. Dijaga baik-baik sama Nenek," jawab Ayah sambil meluruskan kakinya. "Tenang saja, kokoh kok."

Kokoh mungkin iya, pikirku. Tapi rasanya ada sesuatu yang bersembunyi di balik kekokohan itu. Suasana di sini begitu hening, begitu hidup dengan caranya sendiri. Seolah-olah rumah ini sedang mengamati kami, menilai apakah kami layak berada di sini atau tidak.

Dan saat aku menatap ke arah lorong gelap yang menuju ke bagian belakang rumah, tempat Nenek tadi menghilang, aku merasa ada sesuatu yang bergerak di sana. Hanya sekelebatan. Mungkin bayangan Nenek? Atau hanya imajinasiku?

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G