BAB 4

BAB 4: JAMUAN DI BAWAH TEMARAM

KEJADIAN ANEH DI RUMAH NENEKKU

BAB 4: JAMUAN DI BAWAH TEMARAM

๐Ÿ—“ 13 May 2025 ๐Ÿ‘ 648 Views
BAB 4: JAMUAN DI BAWAH TEMARAM

Nenek kembali dari dapur membawa nampan seng bergambar bunga. Di atasnya, berjajar gelas-gelas belimbing berisi teh hangat yang uapnya masih mengepul, menari-nari di udara. Aromanya manis, wangi teh melati yang sangat pekat, berbeda sekali dengan teh celup instan yang biasa Ibu buat di rumah.

"Minum dulu, biar hangat badannya," kata Nenek sambil meletakkan gelas-gelas itu di meja. Bunyi ting saat gelas kaca bersentuhan dengan meja kayu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.

Aku meraih gelasku. Hangatnya menjalar ke telapak tanganku, memberikan sedikit rasa aman di tengah udara rumah yang semakin dingin. Aku menyesapnya sedikit. Manis. Gula batu. Rasanya klasik dan menenangkan.

"Kalian pasti lapar," ujar Nenek lagi. "Di meja makan sudah Nenek siapkan makan malam. Sederhana saja, sayur lodeh sama ikan asin."

"Wah, itu justru yang paling enak, Bu," sahut Ayah antusias. "Makanan kota nggak ada yang bisa ngalahin masakan Ibu."

Kami pun beranjak menuju ruang makan. Ruang makan ini letaknya agak ke belakang, terhubung dengan ruang tamu melalui lorong pendek yang tadi kulihat. Saat melewati lorong itu, aku berjalan cepat-cepat, menempel pada pinggang Ibu. Aku tidak berani menoleh ke kiri atau kanan, takut melihat pintu-pintu kamar yang tertutup rapat di sepanjang lorong itu.

Ruang makannya lebih sederhana lagi. Sebuah meja kayu panjang yang besar mendominasi ruangan. Di atasnya, tudung saji anyaman bambu menutupi hidangan. Cahaya di ruangan ini lebih redup daripada di ruang tamu. Hanya ada satu lampu gantung tepat di atas meja makan, menciptakan lingkaran cahaya yang fokus pada makanan, sementara sudut-sudut ruangan dibiarkan remang-remang.

Nenek membuka tudung saji. Uap harum masakan langsung menyerbak. Sayur lodeh nangka muda, tempe goreng tepung yang tebal, sambal terasi, dan ikan asin goreng kering. Perutku yang sedari tadi tegang karena takut, tiba-tiba berbunyi nyaring. Krucuk...

Ibu tertawa kecil. "Anak Ibu lapar ya?"

Aku tersipu malu. Kami pun duduk mengelilingi meja. Piring-piring seng berbunyi berdenting saat sendok beradu. Suasana makan malam itu sebenarnya hangat secara kekeluargaan. Ayah dan Nenek bercerita tentang panen padi dan kabar tetangga desa. Ibu sesekali menimpali sambil menyendokkan sayur ke piringku.

Namun, indraku sebagai anak kecil yang berada di lingkungan baru tidak bisa sepenuhnya santai. Sambil mengunyah tempe goreng yang renyah, mataku terus melirik ke sekeliling.

Bayangan kami terpantul di dinding kayu, memanjang dan memendek seiring gerakan kami. Di sudut ruangan, ada sebuah lemari tua besar yang pintunya sedikit terbuka, menampakkan kegelapan pekat di dalamnya. Kenapa pintunya tidak ditutup rapat? Pikiranku mulai mengarang cerita-cerita seram. Bagaimana kalau ada yang mengintip dari celah lemari itu?

"Makan yang banyak, biar cepat besar," kata Nenek, membuyarkan lamunanku. Ia tersenyum padaku, gigi-giginya yang sudah tidak lengkap terlihat.

"Iya, Nek," jawabku pelan.

"Nanti tidurnya di kamar depan ya," kata Nenek pada Ibu. "Kamar yang biasa kamu pakai dulu."

"Si Kecil tidur sama kami?" tanya Ayah.

Nenek menggeleng pelan. "Kasurnya sempit kalau bertiga. Biar dia tidur di kamar samping ruang tengah saja. Kamar bekas Paman dulu. Sudah Nenek bersihkan, spreinya juga baru diganti."

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Tidur sendiri? Di kamar asing? Di rumah tua ini?

"Tapi, Bu..." aku mencoba protes, menatap Ibu dengan tatapan memohon. "Aku tidur sama Ibu saja, di bawah juga nggak apa-apa."

"Nggak boleh begitu," potong Ayah tegas namun halus. "Kamu kan sudah besar. Lagian kamarnya sebelahan kok, cuma dipisah tembok kayu. Kalau ada apa-apa tinggal teriak."

Ibu mengangguk setuju. "Iya, Sayang. Kasurnya Nenek itu kasur kapok lama, ukurannya kecil. Kalau kita bertiga di sana, nanti malah nggak bisa tidur semua."

Aku menunduk menatap piringku. Nasi dan sayur lodeh itu tiba-tiba terasa sulit ditelan. Perasaan takut mulai merambat naik dari perut ke tenggorokan. Bukan hanya takut pada gelap, tapi takut pada keterpisahan. Di kota, kamarku memang terpisah, tapi di sana ada cahaya lampu jalan, ada suara TV dari ruang keluarga, ada rasa aman yang familiar. Di sini?

Keheningan di luar rumah seolah semakin menjadi-jadi. Suara jangkrik di luar sana terdengar semakin keras, seolah-olah mereka sedang memberi peringatan. Bahwa malam ini, aku harus menghadapi ketakutanku sendirian.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G