BAB 5

BAB 5: AMBANG PINTU KESUNYIAN

KEJADIAN ANEH DI RUMAH NENEKKU

BAB 5: AMBANG PINTU KESUNYIAN

๐Ÿ—“ 14 May 2025 ๐Ÿ‘ 661 Views
BAB 5: AMBANG PINTU KESUNYIAN

Makan malam telah usai. Piring-piring kotor sudah dibawa ke dapur. Jam dinding tua yang tergantung di ruang tengah berdentang delapan kali. Teng... teng... Suaranya berat dan bergema, seolah menghitung sisa waktu keberanianku. Di kampung, pukul delapan malam rasanya sudah seperti tengah malam di kota. Dunia sudah tidur.

"Ayo, Ibu antar ke kamar," ajak Ibu sambil menggandeng tanganku.

Kami berjalan menuju kamar yang dimaksud Nenek. Letaknya persis di samping ruang tengah, berhadapan dengan ruang tamu yang kini lampunya sudah dimatikan, menyisakan kegelapan total di bagian depan rumah.

Ibu membuka pintu kamar itu. Kriek...

Bau kamper yang kuat langsung menyapa. Kamar itu tidak terlalu besar. Di tengahnya ada sebuah tempat tidur besi tua dengan kelambu putih yang menjuntai dari langit-langit, menyerupai jaring laba-laba raksasa yang siap memerangkap siapa saja yang tidur di dalamnya. Ada sebuah meja rias kuno dengan cermin yang sudah berbintik-bintik hitam termakan jamur kaca. Dan sebuah jendela kayu besar yang tertutup rapat.

"Nah, nyaman kan?" kata Ibu, berusaha meyakinkanku. Ia menyibakkan kelambu, menepuk-nepuk bantal. "Kasurnya empuk lho."

Aku berdiri di ambang pintu, ragu untuk melangkah masuk. Kamar ini terasa... dingin. Bukan dingin karena AC, tapi dingin yang menusuk tulang, seolah-olah matahari tidak pernah menyentuh ruangan ini selama bertahun-tahun.

"Bu, lampunya jangan dimatikan ya?" pintaku dengan suara bergetar.

Ibu tersenyum maklum. "Iya, lampunya dibiarkan menyala. Pintu kamarnya juga Ibu buka sedikit, biar cahaya dari luar masuk. Ibu dan Ayah ada di kamar sebelah kok. Nenek juga di kamar belakang. Kamu aman."

Dengan berat hati, aku naik ke atas tempat tidur. Kasurnya berbunyi nyit-nyit saat aku merebahkan tubuh. Spreinya terasa kaku dan berbau apek khas lemari tua, meski Nenek bilang baru diganti. Ibu menyelimutiku sampai dada, lalu mencium keningku.

"Selamat tidur, Jagoan. Mimpi indah ya."

Ibu berjalan keluar. Ia membiarkan pintu sedikit terbuka sesuai janjinya, menyisakan celah cahaya kuning dari ruang tengah yang masuk membelah kegelapan di sudut kamar. Lalu, langkah kaki Ibu terdengar menjauh, diikuti suara pintu kamar lain yang tertutup. Blek.

Hening.

Sekarang, hanya ada aku dan kamar tua ini.

Aku berbaring diam, mataku menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di balik kelambu, segalanya tampak kabur dan berbayang. Aku mencoba memejamkan mata, memaksa diriku untuk tidur. Ini cuma rumah Nenek. Tidak ada apa-apa, rapalku dalam hati seperti mantra.

Namun, semakin aku mencoba tidak peduli, indra pendengaranku justru semakin tajam. Aku bisa mendengar suara nafasku sendiri. Aku bisa mendengar detak jam dinding di ruang tengah. Tik... tok... tik... tok...

Lalu, suara itu muncul.

Awalnya pelan. Sangat pelan. Seperti gesekan halus.
Srek... srek...

Aku membuka mata seketika. Nafasku tertahan. Suara apa itu?

Suara itu berhenti. Aku menunggu, berharap itu hanya suara angin atau tikus.

Satu menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Lalu, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih ritmis.

Krik... krik... krik...

Suaranya bukan datang dari luar jendela. Suaranya terdengar sangat dekat. Seperti... seperti berada di dalam kamar ini. Di sudut yang gelap itu. Atau mungkin... di bawah tempat tidurku?

Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Mataku melotot menatap celah-celah bayangan di kamar itu. Rasa kantukku hilang seketika, digantikan oleh teror murni yang membekukan darah. Sesuatu ada di sini bersamaku.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 2

G

Putri Nashiruddin

3 months ago

Gue benci banget sama cara Makan ambil keputusan tadi!

Praba Mayasari

3 months ago

Halo jagoan besar!