BAB 2

BAB 2: POTRET BONEKA PORSELEN

KISAH KASIH DI SEKOLAH

BAB 2: POTRET BONEKA PORSELEN

๐Ÿ—“ 02 May 2025 ๐Ÿ‘ 719 Views
BAB 2: POTRET BONEKA PORSELEN

Sembilan tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah erosi jiwa. Waktu yang cukup untuk mengubah seorang gadis kecil yang kesepian menjadi remaja putri yang sempurna secara visual, namun retak di bagian dalam.

Arunika kini berusia enam belas tahun. Ia berdiri di depan cermin setinggi tubuh di dalam walk-in closet miliknya yang lebih besar dari apartemen tipe studio rata-rata. Refleksi di cermin menunjukkan sebuah karya seni: Rambut hitam legam yang jatuh lurus bagai tirai sutra hingga pinggang, kulit pucat yang terawat dengan skincare jutaan rupiah per bulan, dan tubuh semampai yang dibalut seragam sekolah yang dijahit khusus oleh desainer langganan ibunya.

Rok abu-abunya jatuh sempurna tanpa satu pun lipatan yang salah. Kemeja putihnya bersih menyilaukan. Emblem SMA Nusantara terpasang rapi di saku dada. Namun, mata itu... mata itu masih sama seperti sembilan tahun lalu. Redup. Ada lingkaran hitam tipis yang disamarkan dengan concealer mahal, bukti dari insomnia kronis yang ia derita.

"Non Arunika, sarapan sudah siap." Suara interkom di dinding berbunyi.

"Aku turun," jawabnya singkat.

Arunika mengambil tas kulit bermerek high-end dari rak, lalu berjalan keluar. Rumah itu tidak banyak berubah, hanya lukisan-lukisannya yang berganti menjadi lebih mahal dan suasananya yang semakin dingin. Ia menuruni tangga dengan anggun, postur tubuh tegak hasil latihan balet bertahun-tahun yang dipaksakan ibunya.

Di ruang makan, meja panjang dari kayu jati utuh itu terhidang penuh. Roti panggang, croissant, buah potong, jus segar, poached egg. Semuanya tertata presisi. Namun, pemandangan yang menyambutnya adalah pemandangan klasik keluarga Rinjani.

Ayahnya, Bramantyo Rinjani, duduk di ujung meja, tersembunyi di balik tablet yang menampilkan grafik saham dan berita politik. Ia hanya menyesap kopi hitam tanpa menyentuh makanannya. Ibunya, Soraya, duduk di sisi kanan, sibuk mengetik di ponselnya dengan kuku-kuku yang dimanikur sempurna, wajahnya tegang.

"Pagi," sapa Arunika pelan.

Hening. Hanya suara denting sendok perak beradu dengan piring porselen dan ketikan jari di layar kaca.

"Pagi," gumam Ayahnya setelah jeda sepuluh detik, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Mobil sudah siap. Pak Asep yang akan antar."

Arunika duduk, mengambil selembar roti tawar. Selera makannya hilang, seperti biasa. "Yah, Bu," mulainya hati-hati.

Ibunya berhenti mengetik, menoleh dengan alis terangkat. Tatapan Soraya selalu analitis, seolah mencari cacat pada penampilan putrinya. "Kenapa rambutmu tidak diikat? Kamu terlihat lebih rapi kalau diikat."

"Aku ingin digerai hari ini," jawab Arunika pelan, lalu buru-buru mengalihkan topik sebelum ibunya berkomentar lebih lanjut. "Hari ini hari pertama di sekolah baru."

"Oh, ya. SMA Nusantara," Ayahnya akhirnya menurunkan tabletnya sedikit. Tatapannya tajam, tatapan seorang politisi yang terbiasa mengintimidasi lawan bicara. "Ingat, Arunika. Kamu membawa nama Rinjani. Jangan bergaul dengan sembarang orang. Jangan buat masalah. Dan yang terpenting, jangan biarkan nilaimu turun. Papa memindahkanmu dari sekolah internasional ke sana karena Papa ingin kamu belajar beradaptasi dengan... realitas lokal, untuk persiapan citra publik nanti. Tapi bukan berarti kamu boleh menjadi seperti mereka."

Persiapan citra publik.

Arunika menelan ludah yang terasa pahit. Kepindahannya bukan karena orang tuanya peduli pada pendidikannya. Ini adalah langkah catur. Ayahnya sedang mempersiapkan kampanye politik besar tahun depan. Memiliki anak yang bersekolah di sekolah "nasional" bergengsi (meski tetap elite) dianggap lebih merakyat daripada sekolah internasional eksklusif. Arunika hanyalah properti kampanye. Sebuah bidak.

"Aku mengerti, Yah," jawab Arunika.

"Bagus," Bramantyo kembali menekuni tabletnya. "Dan satu lagi. Ada rumor tidak enak tentang kompetitor bisnis Papa. Kalau ada wartawan atau siapa pun yang bertanya aneh-aneh padamu, jawab saja 'no comment' dan masuk mobil. Mengerti?"

"Iya."

Percakapan selesai. Durasi: dua menit. Kedalaman emosional: nol.

Arunika menghabiskan jus jeruknya dalam sekali teguk, lalu berdiri. "Aku berangkat."

Tidak ada ciuman di pipi, tidak ada pelukan hangat, tidak ada ucapan "semoga harimu menyenangkan". Ia berjalan keluar menuju teras, di mana sedan hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin menyala. Pak Asep, sopir pribadinya yang setia namun pendiam, membukakan pintu belakang.

"Pagi, Non Nika," sapa Pak Asep tulus. Satu-satunya senyum tulus yang ia terima pagi itu.

"Pagi, Pak," balas Arunika tipis.

Saat mobil meluncur keluar dari gerbang tinggi berlapis emas itu, Arunika menyandarkan kepalanya ke jendela. Ia melihat rumah-rumah megah tetangganya berlalu. Semuanya tampak sama. Benteng-benteng kesepian.

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka media sosial. Akun Instagram-nya memiliki puluhan ribu pengikut, penuh dengan foto-foto liburan ke Paris, tas baru, dan pesta ulang tahun mewah. Di kolom komentar, ratusan orang memuji: "Goals banget!", "Princess life", "Cantik banget kak!"

Arunika menatap layar itu dengan tatapan kosong. Mereka memuji topengnya. Mereka memuja boneka porselen yang dipajang di etalase. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik foto senyum sempurna di Menara Eiffel itu, Arunika menangis di kamar mandi hotel karena Ayah dan Ibunya bertengkar hebat soal selingkuhan.

Mobil mulai memasuki jalanan kota yang padat. Kemacetan Jakarta menyambut mereka. Klakson bersahutan, motor menyelip berbahaya, pedagang asongan mengetuk kaca mobil. Arunika melihat dunia yang kacau itu dengan rasa ingin tahu yang bercampur ngeri.

"Pak Asep," panggilnya tiba-tiba.

"Ya, Non?"

"Di sekolah biasa... apa anak-anaknya makan di kantin?"

Pak Asep terkekeh pelan melihat spion tengah. "Ya tentu, Non. Rame, desak-desakan, makan soto atau bakso. Kenapa? Non takut?"

Arunika terdiam. Takut? Mungkin. Tapi ada perasaan lain yang lebih kuat. Rasa ingin tahu akan sensasi menjadi "manusia biasa".

"Sedikit," jawabnya jujur.

Mobil berbelok ke jalan besar yang dipenuhi pepohonan rindang. Gerbang SMA Nusantara terlihat di kejauhan, megah dan dipenuhi siswa yang berjalan kaki atau turun dari motor. Jantung Arunika berdegup kencang. Ini adalah panggung barunya. Medan perangnya yang baru.

Namun, saat mobil semakin dekat, Pak Asep tiba-tiba menginjak rem mendadak.

Ckiiiit!

Tubuh Arunika terdorong ke depan. "Ada apa, Pak?"

"Maaf, Non! Ada motor nyelonong!"

Di depan mobil mereka, sebuah motor bebek butut berhenti melintang. Pengendaranya, seorang siswa laki-laki dengan helm kusam, tampak sedang membenarkan rantai motornya yang lepas tepat di tengah jalan masuk gerbang, menghalangi jalur masuk mobil-mobil mewah.

Pak Asep menekan klakson. Tinnn!

Siswa itu menoleh pelan. Helmnya kacanya terbuka. Matanya menatap langsung ke arah mobil sedan mewah Arunika. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa bersalah. Hanya tatapan datar yang dingin, seolah berkata: Tunggu giliranmu, Tuan Putri.

Mata Arunika terkunci pada sosok itu dari balik kaca jendela yang gelap. Detik itu, ia merasakan sesuatu yang asing. Sebuah getaran kecil di dasar perutnya. Bukan karena marah, tapi karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berani menghalangi jalannya.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G