BAB 1

KATA PENGANTAR

MANUSIA BERKAS

KATA PENGANTAR

🗓 03 Feb 2026 👁 32 Views
Sebenarnya, malam itu saya berniat beristirahat lebih awal. Namun rencana sederhana itu berubah ketika sebuah pesan singkat masuk dari penulis novel “Manusia Berkas” yang kini Anda baca—yang biasanya menghubungi saya untuk konsultasi proposal tesis. Maklum, ia sedang menyelesaikan tugas akhir di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Kali ini, pesannya berbeda: ia meminta kesediaan saya untuk memberikan kata pengantar bagi sebuah novel yang telah ia rampungkan dan rencanakan untuk diterbitkan.

Saya sempat berhenti sejenak, menimbang apakah permintaan itu akan saya penuhi atau tidak. Pada akhirnya, saya mengiyakan, dengan pertimbangan yang cukup pragmatis: penulis adalah mahasiswa saya, dan saya percaya bahwa respons positif—sekecil apa pun—dapat menjadi dorongan moral agar ia terus berkarya dan menekuni bidang-bidang yang diminatinya. Beberapa hari kemudian, naskah novel lengkap pun dikirimkan, dan saya meminta waktu untuk membacanya dengan lebih saksama.

Saya membaca novel ini bukan dengan jarak seorang pengamat, melainkan dengan perasaan seorang yang ikut berjalan bersama tokohnya. Di setiap halaman, saya menemukan wajah-wajah yang terasa akrab: wajah para pencari ilmu, para pengabdi sunyi, para pekerja yang hidupnya ditimbang bukan oleh kemanusiaannya, melainkan oleh kelengkapan berkas dan stempel.

Novel ini bercerita tentang Alif—namun sejatinya, ia bukan satu orang. Ia adalah potret kolektif generasi terdidik yang tumbuh dengan harapan besar, lalu berhadapan dengan realitas yang sering kali tidak ramah. Dari euforia wisuda hingga pahitnya honor tertunda, dari idealisme ruang kelas hingga dinginnya birokrasi, kisah ini mengajak kita menatap dunia pendidikan dan kerja dengan jujur, tanpa romantisasi berlebihan.

Yang membuat novel ini istimewa bukan semata konflik sosialnya, tetapi keberaniannya menyentuh wilayah batin: hubungan anak dengan ibu, suami dengan istri, cita-cita dengan tanggung jawab hidup. Di sini, pendidikan tidak hanya dibahas sebagai sistem, tetapi sebagai pengalaman manusiawi—lengkap dengan rasa malu, takut, marah, dan harap yang sering kita simpan diam-diam.

Bahasa novel ini mengalir, kadang getir, kadang jenaka, namun selalu membumi. Ia tidak berteriak, tetapi justru itulah kekuatannya. Pembaca diajak merenung: kapan kita mulai menilai manusia dari map plastik, dari IPK, dari unggahan PDF, dan lupa bahwa di balik semua itu ada perut yang lapar, anak yang menunggu susu, dan ibu yang menua dalam doa.

Saya percaya novel ini penting untuk dibaca bukan hanya oleh mereka yang bergelut di dunia akademik, tetapi oleh siapa pun yang ingin memahami wajah lain dari perjuangan hidup hari ini. Ia adalah pengingat lembut bahwa kemajuan tanpa keadilan akan selalu meninggalkan luka, dan bahwa di tengah sistem yang kaku, kemanusiaan masih layak diperjuangkan.

Semoga novel ini menemukan pembacanya—dan setiap pembaca semoga menemukan sedikit dirinya di dalam setiap lembarannya.

Padang, 24 Januari 2026
Assc. Prof. Dr. Ahmad Lahmi, S.Pd.I. M.A
Wakil Rektor III UM Sumatera Barat

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G