BAB 1: WAJAH SUBUH YANG TABAH
Pagi di rumah kami selalu dimulai sebelum matahari berani menampakkan diri. Ia dimulai dari derit dipan kayu tua di kamar sebelah, suara langkah kaki yang diseret pelan agar tak membangunkan seisi dunia, dan denting piring beradu dengan sendok di dapur yang sempit. Itu adalah simfoni rutin Ibu. Sebuah orkestra sunyi yang dimainkan oleh seorang wanita bernama Yani, ibuku, satu-satunya manusia yang kupikir terbuat dari tulang baja berbalut kulit sutra.
Namaku Alea. Aku hidup di sebuah rumah sederhana, jika tak tega menyebutnya gubuk yang dipaksa berdiri tegak. Dindingnya setengah bata setengah papan, atapnya seng yang jika hujan turun akan bernyanyi gaduh sekali. Namun, di dalam rumah inilah aku belajar tentang arti kata cukup di tengah segala keterbatasan. Ayahku sudah lama pergi, meninggalkan kami saat aku masih mengenakan seragam merah putih. Sejak saat itu, definisi ayah bagiku melebur menjadi satu dalam sosok Ibu. Ia adalah ayah yang tegas, sekaligus ibu yang lembut. Ia adalah segalanya.
Suara azan Subuh berkumandang dari surau di ujung gang, membelah kesunyian yang dingin. Udara pagi terasa menusuk tulang, tetapi Ibu sudah pasti telah bergulat dengan air dingin sejak tadi.
Alea, bangun, Nak. Sudah subuh.
Suara itu lembut, berbisik tepat di telingaku. Tangan Ibu yang kasar, penuh dengan kapalan kecil akibat pekerjaan berat, menyentuh pundakku. Sentuhan itu hangat, kontras dengan udara pagi. Aku membuka mata perlahan. Kantuk masih menggelayut manja di pelupuk mata, seolah enggan pergi. Namun, melihat wajah Ibu yang sudah segar dengan sisa air wudhu yang membasahi wajahnya, rasanya dosa besar jika aku menarik selimut kembali.
Ibu tersenyum. Senyum itu adalah senjata pamungkasnya. Di balik kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya, tersimpan ribuan cerita lelah yang tak pernah ia izinkan keluar lewat mulutnya. Beban hidup kami berat, sungguh berat, namun tak sekalipun aku mendengar ia mengeluh. Bagi Ibu, mengeluh mungkin adalah pantangan terbesar dalam kamus hidupnya.
Aku bangkit, duduk sejenak mengumpulkan nyawa yang masih tercecer di alam mimpi. Kemudian aku beranjak mengambil air wudhu. Air sumur kami dinginnya bukan main, seperti es yang dicairkan, tapi justru itulah yang membuat mataku terbelalak lebar seketika.
Selesai shalat, aku menuju meja makan. Meja itu kecil, taplaknya bermotif bunga-bunga yang warnanya sudah pudar dimakan usia. Di atasnya, sebuah piring berisi nasi goreng sudah tersaji. Asap tipis masih mengepul darinya, membawa aroma bawang goreng yang menggoda perut. Ada telur dadar di atasnya, dan tentu saja, sambal terasi kesukaanku. Di samping piring itu, secangkir teh hangat menemani.
Makan dulu, ya. Nanti kita berangkat daftar sekolah, kata Ibu sambil merapikan kerudungnya di depan cermin retak yang tergantung di dinding.
Aku menatap punggungnya. Punggung itu kecil, ringkih, tetapi mampu memikul beban dunia kami sendirian. Hari ini adalah hari besar. Aku akan mendaftar ke Sekolah Menengah Atas. Sebuah jenjang yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagi kami, ini adalah sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan dengan keringat dan air mata.
Iya, Bu, jawabku singkat sambil mulai menyuapkan nasi goreng ke mulut. Rasanya gurih, penuh dengan bumbu kasih sayang yang tak tertakar.
Ibu berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada binar bangga di sana, tetapi ada juga kabut kecemasan yang coba ia sembunyikan. Wajah itu tampak lelah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. Ibu bekerja siang malam. Siang ia menjadi buruh angkut di pabrik semen, malam kadang ia masih mengambil upahan mencuci baju tetangga. Semua itu demi satu tujuan: agar aku bisa tetap sekolah. Agar aku tidak bernasib sama sepertinya.
Ada kekuatan magis yang selalu terpancar dari wajah Ibu. Kekuatan yang membuatku percaya bahwa badai apa pun yang akan datang, kami akan baik-baik saja selama kami bersama. Aku menelan suapan terakhir dengan perasaan campur aduk. Antara semangat menyambut masa depan dan ketakutan melihat Ibu yang semakin hari semakin digerogoti lelah.
Habiskan tehnya, Alea. Jangan sampai dingin, nanti sakit perut, tegur Ibu lembut.
Aku mengangguk, menyeruput teh manis yang gulanya pas itu. Manis, hangat, menenangkan. Seperti kasih sayang Ibu yang tak pernah kurang takarannya, meski hidup kami serba kekurangan. Pagi ini, matahari mulai mengintip malu-malu dari balik bukit, menjanjikan harapan baru. Dan aku tahu, perjuangan kami baru saja akan dimulai lagi hari ini.
Pagi di rumah kami selalu dimulai sebelum matahari berani menampakkan diri. Ia dimulai dari derit dipan kayu tua di kamar sebelah, suara langkah kaki yang diseret pelan agar tak membangunkan seisi dunia, dan denting piring beradu dengan sendok di dapur yang sempit. Itu adalah simfoni rutin Ibu. Sebuah orkestra sunyi yang dimainkan oleh seorang wanita bernama Yani, ibuku, satu-satunya manusia yang kupikir terbuat dari tulang baja berbalut kulit sutra.
Namaku Alea. Aku hidup di sebuah rumah sederhana, jika tak tega menyebutnya gubuk yang dipaksa berdiri tegak. Dindingnya setengah bata setengah papan, atapnya seng yang jika hujan turun akan bernyanyi gaduh sekali. Namun, di dalam rumah inilah aku belajar tentang arti kata cukup di tengah segala keterbatasan. Ayahku sudah lama pergi, meninggalkan kami saat aku masih mengenakan seragam merah putih. Sejak saat itu, definisi ayah bagiku melebur menjadi satu dalam sosok Ibu. Ia adalah ayah yang tegas, sekaligus ibu yang lembut. Ia adalah segalanya.
Suara azan Subuh berkumandang dari surau di ujung gang, membelah kesunyian yang dingin. Udara pagi terasa menusuk tulang, tetapi Ibu sudah pasti telah bergulat dengan air dingin sejak tadi.
Alea, bangun, Nak. Sudah subuh.
Suara itu lembut, berbisik tepat di telingaku. Tangan Ibu yang kasar, penuh dengan kapalan kecil akibat pekerjaan berat, menyentuh pundakku. Sentuhan itu hangat, kontras dengan udara pagi. Aku membuka mata perlahan. Kantuk masih menggelayut manja di pelupuk mata, seolah enggan pergi. Namun, melihat wajah Ibu yang sudah segar dengan sisa air wudhu yang membasahi wajahnya, rasanya dosa besar jika aku menarik selimut kembali.
Ibu tersenyum. Senyum itu adalah senjata pamungkasnya. Di balik kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya, tersimpan ribuan cerita lelah yang tak pernah ia izinkan keluar lewat mulutnya. Beban hidup kami berat, sungguh berat, namun tak sekalipun aku mendengar ia mengeluh. Bagi Ibu, mengeluh mungkin adalah pantangan terbesar dalam kamus hidupnya.
Aku bangkit, duduk sejenak mengumpulkan nyawa yang masih tercecer di alam mimpi. Kemudian aku beranjak mengambil air wudhu. Air sumur kami dinginnya bukan main, seperti es yang dicairkan, tapi justru itulah yang membuat mataku terbelalak lebar seketika.
Selesai shalat, aku menuju meja makan. Meja itu kecil, taplaknya bermotif bunga-bunga yang warnanya sudah pudar dimakan usia. Di atasnya, sebuah piring berisi nasi goreng sudah tersaji. Asap tipis masih mengepul darinya, membawa aroma bawang goreng yang menggoda perut. Ada telur dadar di atasnya, dan tentu saja, sambal terasi kesukaanku. Di samping piring itu, secangkir teh hangat menemani.
Makan dulu, ya. Nanti kita berangkat daftar sekolah, kata Ibu sambil merapikan kerudungnya di depan cermin retak yang tergantung di dinding.
Aku menatap punggungnya. Punggung itu kecil, ringkih, tetapi mampu memikul beban dunia kami sendirian. Hari ini adalah hari besar. Aku akan mendaftar ke Sekolah Menengah Atas. Sebuah jenjang yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagi kami, ini adalah sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan dengan keringat dan air mata.
Iya, Bu, jawabku singkat sambil mulai menyuapkan nasi goreng ke mulut. Rasanya gurih, penuh dengan bumbu kasih sayang yang tak tertakar.
Ibu berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada binar bangga di sana, tetapi ada juga kabut kecemasan yang coba ia sembunyikan. Wajah itu tampak lelah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. Ibu bekerja siang malam. Siang ia menjadi buruh angkut di pabrik semen, malam kadang ia masih mengambil upahan mencuci baju tetangga. Semua itu demi satu tujuan: agar aku bisa tetap sekolah. Agar aku tidak bernasib sama sepertinya.
Ada kekuatan magis yang selalu terpancar dari wajah Ibu. Kekuatan yang membuatku percaya bahwa badai apa pun yang akan datang, kami akan baik-baik saja selama kami bersama. Aku menelan suapan terakhir dengan perasaan campur aduk. Antara semangat menyambut masa depan dan ketakutan melihat Ibu yang semakin hari semakin digerogoti lelah.
Habiskan tehnya, Alea. Jangan sampai dingin, nanti sakit perut, tegur Ibu lembut.
Aku mengangguk, menyeruput teh manis yang gulanya pas itu. Manis, hangat, menenangkan. Seperti kasih sayang Ibu yang tak pernah kurang takarannya, meski hidup kami serba kekurangan. Pagi ini, matahari mulai mengintip malu-malu dari balik bukit, menjanjikan harapan baru. Dan aku tahu, perjuangan kami baru saja akan dimulai lagi hari ini.