BAB 1

BAB 1

PERSAHABATAN

BAB 1

๐Ÿ—“ 06 Aug 2025 ๐Ÿ‘ 778 Views
BAB 1
AROMA KOTA YANG BARU

Bandung memiliki aroma yang berbeda. Itu adalah hal pertama yang disadari Randika begitu kakinya menjejak tanah di halaman rumah neneknya. Ada perpaduan antara bau tanah basah sisa hujan semalam, dinginnya kabut yang perlahan menguap, dan sesuatu yang manis, mungkin aroma bunga sedap malam yang ditanam Nenek di pekarangan.

Ini adalah kota impiannya. Sejak kecil, setiap kali melihat gambar Gedung Sate atau hamparan kebun teh di televisi, Randika selalu membayangkan dirinya tinggal di sana. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun menghabiskan masa kanak-kanaknya di Palu dengan udara yang cenderung panas dan garis pantai yang memanjang, takdir seolah tersenyum padanya. Kepindahan tugas ayahnya ke Bandung bukan sekadar urusan logistik atau karier, bagi Randika, ini adalah pengabulan doa-doa kecil yang sering ia gumamkan sebelum tidur.

Randika memandang berkeliling. Rumah Nenek masih sama seperti ingatannya beberapa tahun lalu, meski cat temboknya kini terlihat sedikit memudar dimakan cuaca. Rumah bergaya kolonial tua dengan jendela-jendela besar berteralis besi dan pintu kayu jati yang kokoh. Halaman depannya luas, dipenuhi pot-pot tanaman yang dirawat dengan tangan dingin seorang wanita tua yang mencintai kesunyian.

Randika, bantu Papa angkat koper ini, suara bariton ayahnya memecah lamunan.

Randika tersentak pelan, lalu bergegas menuju bagasi mobil yang terbuka. Tumpukan kardus dan koper besar menjadi saksi bisu perpindahan hidup mereka. Ia mengangkat sebuah koper biru tua, beratnya lumayan, berisi buku-buku dan pakaian hangat yang baru saja dibelinya minggu lalu sebagai persiapan menghadapi udara Bandung.

Nenek muncul dari balik pintu depan. Wanita itu mengenakan kebaya kutubaru bermotif bunga-bunga kecil dengan kain batik yang melilit rapi di pinggangnya. Rambutnya yang memutih digelung sederhana. Senyumnya merekah lebar, menampilkan kerutan-kerutan halus di sudut mata yang menyiratkan kehangatan.

Cucu kesayangan Nenek sudah sampai, ucap wanita itu dengan suara yang sedikit bergetar.

Tanpa menunggu aba-aba, Randika meletakkan koper di teras dan langsung menghambur ke pelukan neneknya. Ada rasa rindu yang membuncah. Wangi minyak telon dan bedak bayi yang selalu melekat pada tubuh neneknya membuat Randika merasa aman. Ia menyalim tangan keriput itu dengan takzim.

Nenek sehat? tanya Randika setelah melepaskan pelukannya.

Sehat, Nak. Apalagi sekarang kalian ada di sini. Rumah ini tidak akan sepi lagi, jawab Nenek sambil menepuk-nepuk pipi Randika.

Selama satu bulan ke depan, rumah tua ini akan menjadi tempat tinggal sementara bagi keluarga Randika. Ayah dan ibunya memutuskan untuk tinggal di sini dulu sembari mencari rumah kontrakan atau rumah yang akan dibeli, yang lokasinya strategis dan sesuai dengan keinginan mereka. Randika tidak keberatan. Justru ia senang. Tinggal bersama Nenek berarti akan ada banyak cerita masa lalu, masakan enak, dan suasana tenang yang jarang ia dapatkan di kota sebelumnya.

Setelah sesi melepas rindu yang cukup emosional, Randika dan orang tuanya mulai sibuk. Mereka mengangkut barang-barang masuk ke kamar yang sudah disiapkan Nenek. Kamar Randika terletak di bagian belakang, menghadap langsung ke kebun kecil. Jendelanya besar, membiarkan cahaya matahari sore masuk dengan leluasa.

Randika mulai membongkar kopernya. Ia menata buku-buku di rak kayu yang sudah tersedia, menggantung seragam sekolahnya yang masih terlipat rapi, dan meletakkan beberapa foto bingkai di atas meja belajar. Semuanya terasa pas. Seolah-olah ia memang seharusnya berada di sini.

Sore harinya, setelah semua barang beres dan tubuh mereka sudah segar setelah mandi air hangat, Ayah mengajak mereka untuk melakukan tradisi lama keluarga: menyapa tetangga.

Di sini budaya sapa menyapa masih kuat, Ran. Kita orang baru, harus tahu tata krama, kata Ayah sambil merapikan kerah kemejanya.

Randika mengangguk setuju. Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan kompleks perumahan yang asri. Pohon-pohon damar menaungi jalan, menciptakan kanopi alami yang menyejukkan. Mereka mengetuk pintu beberapa rumah di kanan dan kiri rumah Nenek, memperkenalkan diri, menyerahkan sedikit buah tangan berupa kue-kue kering yang dibawa dari Palu, dan berbasa-basi sejenak.

Orang-orang Bandung ramah, pikir Randika. Mereka menyambut dengan senyum terbuka, menanyakan asal-usul, dan memberikan doa agar betah tinggal di lingkungan tersebut. Namun, di balik senyum-senyum itu, Randika merasa ada sesuatu yang kosong. Ia belum menemukan teman sebayanya. Hampir semua yang ia temui adalah orang tua atau anak-anak kecil yang masih balita.

Matahari mulai terbenam ketika mereka kembali ke rumah Nenek. Langit Bandung berubah warna menjadi ungu kemerahan, sebuah pemandangan magis yang membuat Randika berhenti sejenak di depan pagar sebelum masuk. Angin sore bertiup pelan, menyapu rambutnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang menyegarkan.

Selamat datang di hidup yang baru, bisiknya pada diri sendiri.

Malam itu, Randika tidur dengan nyenyak. Tidak ada suara bising kendaraan, hanya suara jangkrik yang bersahutan. Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang berlari di sebuah lapangan luas, mengejar sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa, namun rasanya begitu dekat.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G