BAB 1
TENTANG JANJI DAN SEPOTONG BOLU SUSU
Persahabatan itu kadang seperti sepotong kue bolu yang baru matang. Wanginya memenuhi ruangan, teksturnya lembut, dan rasanya manis memanjakan lidah. Kau ingin menikmatinya pelan-pelan, berharap rasa itu tidak akan pernah hilang dari indra pengecapmu. Tapi kita sering lupa, bahwa kue bolu juga memiliki masa kedaluwarsa. Jika tidak dijaga, ia bisa mengeras, berjamur, atau hancur menjadi remah-remah yang tak lagi berarti.
Namanya Nayma. Seorang gadis dengan pembawaan setenang air danau di pagi hari. Dia bukan tipe remaja yang akan berteriak heboh saat melihat idola di layar kaca, atau tipe yang akan berlarian di koridor sekolah demi mengejar perhatian. Nayma adalah definisi dari kata cukup. Cukup diam, cukup tersenyum, dan cukup memiliki satu orang yang mengerti dirinya.
Orang itu adalah Syabilla.
Jika Nayma adalah air danau yang tenang, maka Syabilla adalah kembang api yang meletup-letup di angkasa malam. Terang, berisik, penuh warna, dan selalu berhasil membuat orang menoleh. Mereka adalah dua kutub magnet yang berbeda namun saling menarik dengan kekuatan yang sulit dijelaskan logika. Syabilla dan Nayma. Dua nama yang di SMP itu sudah seperti satu paket hemat yang tidak bisa dibeli terpisah.
Sudah tiga tahun. Ya, tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk ukuran remaja usia belasan. Sejak mereka masih memakai seragam putih biru yang kebesaran di kelas VII, hingga kini seragam itu sudah mulai pas di badan di kelas IX, mereka selalu bersama. Di mana ada tawa Syabilla yang renyah, di situ pasti ada senyum simpul Nayma yang meneduhkan.
Siang itu, matahari Kota Padang bersinar cukup terik, seolah ingin memanggang aspal jalanan. Kipas angin di langit-langit kelas berputar malas, menyebarkan hawa panas alih-alih kesejukan. Jam pelajaran terakhir baru saja usai. Suara bel panjang terdengar seperti nyanyian surga bagi para siswa yang sudah lelah dengan rumus-rumus dan hafalan sejarah.
Nay, nanti pulang sekolah mau main ke rumahku?
Suara itu memecah lamunan Nayma yang sedang memasukkan buku catatan ke dalam tas ranselnya yang berwarna biru muda. Ia menoleh. Syabilla sudah berdiri di samping mejanya, matanya berbinar jenaka seperti biasa. Tasnya tersenyum miring di bahu kanan.
Kenapa memangnya, Bill? tanya Nayma pelan.
Syabilla mendekatkan wajahnya, seolah hendak membocorkan rahasia negara. Bunda katanya mau bikin kue bolu susu. Spesial. Kamu tahu kan bolu susu buatan Bunda itu rasanya bisa bikin kita lupa kalau besok ada ulangan Matematika?
Nayma tertawa kecil. Tentu saja dia tahu. Bolu susu buatan ibunda Syabilla adalah salah satu keajaiban dunia versi mereka berdua. Wangi susunya yang gurih dan teksturnya yang lumer di mulut selalu menjadi alasan Nayma betah berlama-lama di rumah sahabatnya itu.
Boleh, jawab Nayma, matanya ikut berbinar, memantulkan antusiasme Syabilla. Tapi aku izin mamaku dulu ya, Bill. Takut dicariin kalau pulang telat.
Sip! Kabari secepatnya ya. Kalau nggak, nanti jatahmu kuhabiskan sendiri, ancam Syabilla main-main sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mereka berjalan keluar kelas beriringan. Langkah kaki mereka serima, seolah sudah diatur oleh metronom tak kasat mata. Di koridor yang riuh oleh siswa-siswa yang berebut pulang, Nayma merasa aman. Ada perasaan terlindungi ketika berjalan di samping Syabilla. Sahabatnya itu selalu punya cara untuk membuka jalan di tengah kerumunan, menyapa orang-orang dengan ramah—hai Dika, halo Rina, duluan ya Budi—sementara Nayma cukup mengekor di belakangnya, tersenyum tipis pada mereka yang menyapa balik.
Dunia Nayma memang sesederhana itu. Sekolah, rumah, dan Syabilla. Dia tidak butuh geng populer. Dia tidak butuh menjadi pusat perhatian. Baginya, memiliki Syabilla yang mengerti diamnya, yang paham bahwa dia tidak suka keramaian tapi benci kesepian, sudah lebih dari cukup. Syabilla adalah penerjemah bagi jiwa Nayma yang pemalu. Syabilla adalah jembatan Nayma menuju dunia luar.
Ingatan Nayma melayang pada kejadian setahun lalu, saat mereka duduk di bangku taman sekolah di bawah pohon mangga yang rindang. Saat itu mereka baru saja naik ke kelas VIII.
Kita janji sahabatan selamanya ya, Nay? ujar Syabilla tiba-tiba waktu itu. Matanya menatap lurus ke depan, tapi tangannya menggenggam kelingking Nayma.
Nayma menoleh, sedikit terkejut dengan nada serius dalam suara sahabatnya yang biasanya penuh canda. Selamanya?
Iya. Sampai kita tua. Sampai kita punya cucu. Sampai gigi kita ompong dan rambut kita memutih, jawab Syabilla penuh semangat. Janji?
Nayma tersenyum lebar, senyum yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. Janji!
Itu adalah ikrar sederhana anak remaja. Terdengar klise, mungkin sedikit kekanak-kanakan bagi orang dewasa yang sudah kenyang menelan pahit manisnya pengkhianatan. Tapi bagi Nayma saat itu, janji tersebut adalah pegangan. Sebuah jaminan bahwa di dunia yang terus berubah, ada satu hal yang akan tetap sama. Persahabatan mereka.
Namun, Nayma lupa satu hal. Janji adalah kalimat yang mudah diucapkan oleh lidah yang tidak bertulang, tapi waktu adalah ujian terberat yang sering kali mematahkan kalimat itu tanpa ampun. Waktu tidak peduli pada ikrar di bawah pohon mangga. Waktu terus berjalan, membawa serta perubahan-perubahan kecil yang awalnya tidak terasa, seperti retakan rambut pada sebuah cermin, yang lama-lama akan membelah pantulan wajah menjadi dua bagian yang tak lagi utuh.
Sore itu, di rumah Syabilla, mereka makan bolu susu dengan lahap. Tawa mereka memenuhi ruang tamu. Mereka membicarakan hal-hal remeh, mulai dari guru galak, tugas yang menumpuk, hingga mimpi-mimpi masa depan. Semuanya terasa sempurna. Manis, hangat, dan akrab. Nayma merasa dia adalah orang paling beruntung di dunia.
Dia tidak tahu, bahwa itu adalah salah satu sore terakhir yang bisa ia nikmati dengan perasaan utuh seperti itu. Karena mendung sedang berarak pelan menuju langit persahabatan mereka, membawa nama seseorang yang akan mengubah segalanya.
TENTANG JANJI DAN SEPOTONG BOLU SUSU
Persahabatan itu kadang seperti sepotong kue bolu yang baru matang. Wanginya memenuhi ruangan, teksturnya lembut, dan rasanya manis memanjakan lidah. Kau ingin menikmatinya pelan-pelan, berharap rasa itu tidak akan pernah hilang dari indra pengecapmu. Tapi kita sering lupa, bahwa kue bolu juga memiliki masa kedaluwarsa. Jika tidak dijaga, ia bisa mengeras, berjamur, atau hancur menjadi remah-remah yang tak lagi berarti.
Namanya Nayma. Seorang gadis dengan pembawaan setenang air danau di pagi hari. Dia bukan tipe remaja yang akan berteriak heboh saat melihat idola di layar kaca, atau tipe yang akan berlarian di koridor sekolah demi mengejar perhatian. Nayma adalah definisi dari kata cukup. Cukup diam, cukup tersenyum, dan cukup memiliki satu orang yang mengerti dirinya.
Orang itu adalah Syabilla.
Jika Nayma adalah air danau yang tenang, maka Syabilla adalah kembang api yang meletup-letup di angkasa malam. Terang, berisik, penuh warna, dan selalu berhasil membuat orang menoleh. Mereka adalah dua kutub magnet yang berbeda namun saling menarik dengan kekuatan yang sulit dijelaskan logika. Syabilla dan Nayma. Dua nama yang di SMP itu sudah seperti satu paket hemat yang tidak bisa dibeli terpisah.
Sudah tiga tahun. Ya, tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk ukuran remaja usia belasan. Sejak mereka masih memakai seragam putih biru yang kebesaran di kelas VII, hingga kini seragam itu sudah mulai pas di badan di kelas IX, mereka selalu bersama. Di mana ada tawa Syabilla yang renyah, di situ pasti ada senyum simpul Nayma yang meneduhkan.
Siang itu, matahari Kota Padang bersinar cukup terik, seolah ingin memanggang aspal jalanan. Kipas angin di langit-langit kelas berputar malas, menyebarkan hawa panas alih-alih kesejukan. Jam pelajaran terakhir baru saja usai. Suara bel panjang terdengar seperti nyanyian surga bagi para siswa yang sudah lelah dengan rumus-rumus dan hafalan sejarah.
Nay, nanti pulang sekolah mau main ke rumahku?
Suara itu memecah lamunan Nayma yang sedang memasukkan buku catatan ke dalam tas ranselnya yang berwarna biru muda. Ia menoleh. Syabilla sudah berdiri di samping mejanya, matanya berbinar jenaka seperti biasa. Tasnya tersenyum miring di bahu kanan.
Kenapa memangnya, Bill? tanya Nayma pelan.
Syabilla mendekatkan wajahnya, seolah hendak membocorkan rahasia negara. Bunda katanya mau bikin kue bolu susu. Spesial. Kamu tahu kan bolu susu buatan Bunda itu rasanya bisa bikin kita lupa kalau besok ada ulangan Matematika?
Nayma tertawa kecil. Tentu saja dia tahu. Bolu susu buatan ibunda Syabilla adalah salah satu keajaiban dunia versi mereka berdua. Wangi susunya yang gurih dan teksturnya yang lumer di mulut selalu menjadi alasan Nayma betah berlama-lama di rumah sahabatnya itu.
Boleh, jawab Nayma, matanya ikut berbinar, memantulkan antusiasme Syabilla. Tapi aku izin mamaku dulu ya, Bill. Takut dicariin kalau pulang telat.
Sip! Kabari secepatnya ya. Kalau nggak, nanti jatahmu kuhabiskan sendiri, ancam Syabilla main-main sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mereka berjalan keluar kelas beriringan. Langkah kaki mereka serima, seolah sudah diatur oleh metronom tak kasat mata. Di koridor yang riuh oleh siswa-siswa yang berebut pulang, Nayma merasa aman. Ada perasaan terlindungi ketika berjalan di samping Syabilla. Sahabatnya itu selalu punya cara untuk membuka jalan di tengah kerumunan, menyapa orang-orang dengan ramah—hai Dika, halo Rina, duluan ya Budi—sementara Nayma cukup mengekor di belakangnya, tersenyum tipis pada mereka yang menyapa balik.
Dunia Nayma memang sesederhana itu. Sekolah, rumah, dan Syabilla. Dia tidak butuh geng populer. Dia tidak butuh menjadi pusat perhatian. Baginya, memiliki Syabilla yang mengerti diamnya, yang paham bahwa dia tidak suka keramaian tapi benci kesepian, sudah lebih dari cukup. Syabilla adalah penerjemah bagi jiwa Nayma yang pemalu. Syabilla adalah jembatan Nayma menuju dunia luar.
Ingatan Nayma melayang pada kejadian setahun lalu, saat mereka duduk di bangku taman sekolah di bawah pohon mangga yang rindang. Saat itu mereka baru saja naik ke kelas VIII.
Kita janji sahabatan selamanya ya, Nay? ujar Syabilla tiba-tiba waktu itu. Matanya menatap lurus ke depan, tapi tangannya menggenggam kelingking Nayma.
Nayma menoleh, sedikit terkejut dengan nada serius dalam suara sahabatnya yang biasanya penuh canda. Selamanya?
Iya. Sampai kita tua. Sampai kita punya cucu. Sampai gigi kita ompong dan rambut kita memutih, jawab Syabilla penuh semangat. Janji?
Nayma tersenyum lebar, senyum yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. Janji!
Itu adalah ikrar sederhana anak remaja. Terdengar klise, mungkin sedikit kekanak-kanakan bagi orang dewasa yang sudah kenyang menelan pahit manisnya pengkhianatan. Tapi bagi Nayma saat itu, janji tersebut adalah pegangan. Sebuah jaminan bahwa di dunia yang terus berubah, ada satu hal yang akan tetap sama. Persahabatan mereka.
Namun, Nayma lupa satu hal. Janji adalah kalimat yang mudah diucapkan oleh lidah yang tidak bertulang, tapi waktu adalah ujian terberat yang sering kali mematahkan kalimat itu tanpa ampun. Waktu tidak peduli pada ikrar di bawah pohon mangga. Waktu terus berjalan, membawa serta perubahan-perubahan kecil yang awalnya tidak terasa, seperti retakan rambut pada sebuah cermin, yang lama-lama akan membelah pantulan wajah menjadi dua bagian yang tak lagi utuh.
Sore itu, di rumah Syabilla, mereka makan bolu susu dengan lahap. Tawa mereka memenuhi ruang tamu. Mereka membicarakan hal-hal remeh, mulai dari guru galak, tugas yang menumpuk, hingga mimpi-mimpi masa depan. Semuanya terasa sempurna. Manis, hangat, dan akrab. Nayma merasa dia adalah orang paling beruntung di dunia.
Dia tidak tahu, bahwa itu adalah salah satu sore terakhir yang bisa ia nikmati dengan perasaan utuh seperti itu. Karena mendung sedang berarak pelan menuju langit persahabatan mereka, membawa nama seseorang yang akan mengubah segalanya.