BAB 3

BAB 3

RETAKAN DI CERMIN PERSAHABATAN

BAB 3

🗓 23 Jun 2025 👁 930 Views
BAB 3
SISI KOTA YANG TIDAK KUKENAL

Bel istirahat berbunyi nyaring, membebaskan ratusan siswa yang kelaparan. Aroma bakso kuah dan mie goreng dari kantin mulai menyusup masuk ke celah-celah ventilasi kelas, menggoda iman siapa saja yang menciumnya. Biasanya, pada detik pertama bel berbunyi, Syabilla akan langsung menoleh ke arah Nayma, memberikan kode mata yang artinya: Ayo serbu kantin sebelum antrean mengular.

Tapi hari ini, kode mata itu tidak ada.

Begitu Bu Mala menutup pelajaran dan keluar kelas, Syabilla langsung memutar tubuhnya ke kanan, menghadap Anara sepenuhnya.

Anara, kamu belum tahu kantin kan? Ayo, aku tunjukin kantin yang paling enak dan murah di sini! Ada batagor yang bumbunya juara banget, ajak Syabilla dengan semangat berapi-api.

Anara yang sedang membereskan alat tulisnya tampak senang. Wah, boleh banget. Aku laper berat nih. Di sini ada yang jual es teh enak nggak?

Ada dong! Es teh Mbak Yul itu legendaris, jawab Syabilla cepat.

Syabilla sudah bangkit dari kursinya, siap melangkah. Baru saat itulah dia teringat sesuatu. Atau lebih tepatnya, teringat seseorang. Dia menoleh ke kiri, tempat Nayma masih duduk diam memandangi mereka.

Nay, ikut yuk! Kita ajak Anara keliling sekolah sekalian, ajak Syabilla. Nadanya riang, tanpa beban. Seolah-olah tidak ada yang salah dengan situasi ini.

Nayma menatap wajah sahabatnya. Ada binar kegembiraan di sana yang sudah lama tidak ia lihat. Syabilla terlihat begitu hidup, begitu bersemangat ingin memamerkan sekolah mereka—atau mungkin memamerkan keramahannya—kepada si murid baru yang cantik itu. Nayma membayangkan dirinya berjalan di samping mereka. Syabilla yang cerewet, Anara yang percaya diri, dan dirinya... dirinya yang hanya akan menjadi pendengar setia, atau lebih buruk lagi, menjadi bayang-bayang yang terlupakan di belakang punggung mereka.

Membayangkan harus bersaing mencari topik pembicaraan dengan Anara membuat perut Nayma mulas. Dia tidak pandai basa-basi. Dia tidak punya cerita seru tentang kota besar.

Kalian aja deh, jawab Nayma pelan. Dia memaksakan seulas senyum, meski rasanya pahit. Aku... aku mau ke toilet dulu. Perutku agak nggak enak.

Alasan klasik. Toilet selalu menjadi tempat pelarian terbaik bagi mereka yang ingin menyembunyikan wajah kecewa.

Yah, kok gitu? Padahal seru loh rame-rame, kata Syabilla, sedikit manyun tapi tidak memaksa.

Iya, Nayma. Ikut aja yuk? tawar Anara basa-basi.

Nggak apa-apa. Duluan aja, tolak Nayma lagi, kali ini pura-pura sibuk mencari tisu di dalam tasnya agar tidak perlu menatap mata mereka.

Ya udah deh kalau gitu. Nanti kita ketemu di kelas lagi ya! seru Syabilla.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Syabilla sudah menarik tangan Anara. Ayo, An, keburu rame!

Mereka berdua melenggang pergi keluar kelas, meninggalkan jejak tawa yang menggema di koridor. Nayma menatap punggung mereka yang menjauh. Punggung Syabilla yang biasanya selalu berjalan bersisian dengannya, kini bersisian dengan orang lain. Mereka terlihat serasi. Dua gadis yang ceria, aktif, dan menarik perhatian.

Nayma menghela napas panjang, menahan gemuruh di dadanya. Dia benar-benar pergi ke toilet, tapi bukan karena sakit perut. Dia masuk ke salah satu bilik, menguncinya, dan berdiri diam di sana selama beberapa menit. Menarik napas, membuang napas. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh cemburu.

Itu wajar, Nay. Syabilla kan anaknya supel. Dia cuma mau jadi teman yang baik buat murid baru. Jangan baper, bisik Nayma pada pantulan dirinya di cermin wastafel yang sedikit buram.

Setelah merasa cukup tenang, Nayma keluar dari toilet. Kakinya enggan melangkah ke kantin. Dia tidak ingin melihat pemandangan Syabilla dan Anara yang sedang asyik makan berdua. Akhirnya, dia memilih duduk di bangku panjang depan perpustakaan yang sepi. Dia mengeluarkan bekal roti yang disiapkan ibunya tadi pagi.

Roti isi selai cokelat. Makanan favoritnya. Biasanya dia akan membagi roti ini menjadi dua, separuh untuknya, separuh untuk Syabilla. Syabilla akan menukarnya dengan sosis atau nugget dari bekalnya. Ritual tukar bekal itu adalah hal kecil yang sakral bagi mereka.

Tapi hari ini, roti itu terasa seret di tenggorokan. Nayma memakannya sendirian, sambil melihat siswa-siswa lain yang berlarian bermain bola di lapangan. Dunia terasa berjalan seperti biasa, bising dan sibuk. Hanya dunianya yang mendadak terasa melambat dan sunyi.

Sementara itu, di kantin yang padat, Syabilla sedang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Anara tentang pengalaman lucunya salah masuk toilet di mall Surabaya. Syabilla tidak mendengar nada kekecewaan dalam suara Nayma tadi. Dia terlalu sibuk. Terlalu silau oleh kehadiran teman baru yang membawa angin segar dalam rutinitas sekolahnya yang itu-itu saja.

Syabilla tidak sadar, bahwa saat dia sedang sibuk memperkenalkan sudut-sudut sekolah kepada Anara, dia secara tidak sengaja sedang menciptakan sudut sepi yang baru di hati sahabat lamanya. Sudut gelap yang bernama pengabaian. Dan di sudut itulah, retakan pertama pada cermin persahabatan mereka mulai muncul, halus namun nyata.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G