BAB 4

BAB 4

RETAKAN DI CERMIN PERSAHABATAN

BAB 4

🗓 24 Jun 2025 👁 910 Views
BAB 4
BAHASA YANG BERBEDA

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Waktu berjalan tanpa ampun, menggilas perasaan-perasaan halus yang tak terucapkan. Apa yang ditakutkan Nayma perlahan menjadi kenyataan, tersusun rapi seperti adegan film yang sudah bisa ditebak alurnya.

Syabilla semakin lengket dengan Anara.

Kini, bukan hanya saat jam istirahat. Di dalam kelas, saat pergantian jam pelajaran, bahkan saat pulang sekolah, mereka berdua selalu terlihat bersama. Mereka seperti menemukan frekuensi radio yang sama, yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Frekuensi itu berisi hal-hal yang bagi Nayma terdengar seperti bahasa asing: Film-film bioskop terbaru, kafe-kafe estetik yang baru buka, dan deretan artis ibu kota yang sedang naik daun.

Bill, kamu tahu artis yang lagi viral itu? Yang main series detektif kemarin? Aku punya koleksi foto-fotonya loh, full HD! kata Anara suatu pagi, sesaat setelah meletakkan tasnya.

Dia mengeluarkan sebuah binder kecil dari tasnya. Binder itu berisi deretan photocard—kartu foto artis dengan berbagai pose. Benda yang sedang tren di kalangan remaja masa kini.

Mata Syabilla langsung membulat. Serius?! Coba lihat! Aku ngefans banget sama dia gara-gara aktingnya yang keren parah.

Syabilla mencondongkan tubuhnya ke meja Anara, meninggalkan Nayma yang duduk di sebelahnya. Punggung Syabilla kini membelakangi Nayma sepenuhnya.

Wah, ini ganteng banget! Sumpah, Anara, kamu beli di mana? tanya Syabilla antusias sambil membolak-balik halaman binder itu dengan hati-hati.

Ada deh, aku pesen online. Kalau kamu mau, nanti aku kasih link tokonya. Atau kita bisa beli barengan biar ongkirnya murah. Kita bisa beli barang couple juga, gantungan kunci atau bando gitu, tawar Anara.

Mau banget! Ih, seru ya! seru Syabilla.

Di belakang punggung Syabilla, Nayma hanya bisa menatap kosong ke papan tulis yang penuh dengan sisa rumus Fisika kemarin. Dia mendengar percakapan itu. Dia mendengar setiap kata, setiap tawa, dan setiap nada antusiasme yang keluar dari mulut Syabilla. Tapi dia tidak bisa masuk.

Nayma tidak tahu siapa artis yang mereka bicarakan. Nayma tidak punya uang saku lebih untuk membeli photocard mahal atau barang-barang couple yang lucu. Hidup Nayma sederhana. Hiburannya adalah menggambar di buku sketsa murah atau membaca komik bekas. Dia tidak mengerti dunia glamour yang dibawa Anara.

Pernah sekali, Nayma mencoba ikut nimbrung. Saat itu mereka sedang membicarakan film horor yang baru rilis.

Itu... filmnya seram nggak? tanya Nayma ragu-ragu, mencoba menyisipkan suaranya di antara dominasi suara Anara.

Syabilla menoleh sebentar, hanya sebentar. Serem banget, Nay! Tapi seru. Kamu pasti takut deh kalau nonton, soalnya jumpscare-nya banyak.

Iya, Nayma. Kemarin aku nonton di bioskop yang kursi premier itu, suaranya menggelegar banget. Kamu harus coba kapan-kapan, timpal Anara.

Nayma terdiam. Bioskop premier? Harga tiketnya saja mungkin setara dengan uang jajannya selama seminggu. Kalimat itu, meski tidak bermaksud jahat, menegaskan jurang perbedaan di antara mereka. Anara dengan gaya hidup kotanya, dan Nayma dengan kesederhanaannya. Syabilla, yang sebenarnya juga dari keluarga biasa, sepertinya sangat menikmati terseret ke dalam gaya hidup Anara yang berkilauan itu.

Ah, gitu ya... gumam Nayma pelan, lalu kembali menarik diri.

Percakapan kembali berlanjut antara Syabilla dan Anara, seolah interupsi Nayma barusan hanyalah iklan lewat yang bisa di-skip.

Saat jam istirahat, pemandangan menyedihkan itu terulang lagi. Syabilla dan Anara duduk berdua di kantin, berbagi minuman, tertawa sambil melihat layar ponsel Anara. Sementara Nayma, dia makan bekalnya sendiri di dalam kelas.

Beberapa teman sekelas mulai menyadari perubahan itu. Tatapan mereka kadang mengarah pada Nayma dengan rasa kasihan. Tapi tidak ada yang berani bertanya.

Setiap Nayma mencoba mengajak Syabilla bermain—sekadar main tebak-tebakan atau cerita konyol seperti dulu—selalu ada Anara di sana. Anara akan datang dengan topik baru yang lebih menarik, dan perhatian Syabilla akan teralihkan. Perlahan, Nayma merasa seperti pajangan tua yang sudah berdebu. Masih ada di sana, tapi tidak lagi dilihat. Tidak lagi dibutuhkan.

Syabilla selalu bermain bersama Anara... Apa aku sudah tidak dianggap sahabat lagi?

Pertanyaan itu berdengung di kepala Nayma setiap malam sebelum tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Dulu, dia bisa mengirim pesan pada Syabilla jam segini, curhat tentang hal-hal nggak penting. Tapi sekarang, dia takut pesannya hanya akan mengganggu Syabilla yang mungkin sedang video call atau chatting seru dengan Anara.

Rasa kehilangan itu nyata. Bukan kehilangan karena kematian, tapi kehilangan seseorang yang masih hidup dan berdiri tepat di depan matamu, namun hatinya sudah berada di tempat lain. Dan itu, bagi Nayma, jauh lebih menyakitkan daripada perpisahan manapun.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G