BAB 5
UNDANGAN YANG TERABAIKAN
Sabtu sudah di depan mata. Bagi anak sekolah, akhir pekan adalah oase. Waktu untuk melepas penat dan melakukan hal-hal yang disukai. Bagi Nayma, akhir pekan ini adalah kesempatan. Sebuah peluang terakhir yang ingin ia perjuangkan untuk merekatkan kembali retakan yang semakin lebar di antara dirinya dan Syabilla.
Sudah beberapa hari ini Nayma merencanakan sesuatu. Ibunya berjanji akan membuat kue bolu pandan keju—varian baru, bukan bolu susu seperti biasa—pada hari Minggu. Nayma berpikir, ini momen yang tepat. Dulu, Syabilla tidak pernah menolak ajakan makan kue buatan ibunya. Makanan selalu bisa menyatukan mereka. Mungkin, dengan duduk berdua di teras rumah sambil makan kue, suasana canggung ini bisa mencair. Mereka bisa tertawa lagi seperti dulu.
Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan susah payah, Nayma menghampiri meja Syabilla saat jam pulang sekolah. Kelas sudah mulai sepi. Anara sedang di depan kelas, memakai sepatunya. Syabilla masih sibuk memasukkan buku ke tas.
Tangan Nayma sedikit gemetar dan dingin. Dia meremas ujung roknya.
Bill... panggil Nayma pelan.
Syabilla menoleh. Oh, hai Nay. Kenapa? Belum pulang?
Belum. Anu... Nayma menarik napas panjang. Besok kan hari Minggu. Mau main ke rumahku nggak? Bunda katanya mau bikin kue bolu pandan keju. Resep baru loh. Kamu pasti suka.
Mata Nayma menatap Syabilla penuh harap. Ada binar kerinduan yang tersirat di sana. Kerinduan akan sahabatnya yang hilang ditelan kesibukan baru.
Syabilla terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memegang kotak pensil berhenti bergerak. Wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir, lalu berubah menjadi rasa bersalah yang tipis.
Eh... aduh, gimana ya, Nay, ucap Syabilla ragu.
Kenapa? Kamu sibuk? tanya Nayma, harapannya mulai retak.
Besok itu... aku sama Anara udah janjian mau pergi ke mall. Mau nonton film yang baru rilis itu, terus cari bahan buat tugas kerajinan tangan sekalian, jawab Syabilla. Kapan-kapan aja deh ya, Nay?
Jantung Nayma mencelos. Rasanya seperti jatuh dari ketinggian tanpa pengaman. Mall lagi. Anara lagi.
Anara yang mendengar percakapan itu menoleh dan ikut nimbrung. Iya, Nayma. Kami mau belanja keperluan buat bikin kerajinan tangan dari kain flanel itu loh. Sekalian mau nyoba ramen yang lagi hits di foodcourt. Maaf ya.
Seketika dada Nayma sesak seperti ditusuk duri. Rasa sakitnya fisik, nyeri di ulu hati. Penolakan itu halus, tapi dampaknya brutal. Syabilla lebih memilih pergi ke mall dengan teman barunya daripada menghabiskan waktu bersamanya seperti tradisi lama mereka.
Oh, gitu ya... suara Nayma terdengar parau. Dia memaksakan senyum, tapi bibirnya bergetar. Gapapa deh. Lain kali aja.
Maaf ya, Nay. Nanti deh aku kabarin kalau kosong, kata Syabilla, lalu kembali sibuk dengan tasnya. Ayo, An, nanti keburu sore!
Syabilla bergegas menghampiri Anara. Mereka berdua berjalan keluar kelas sambil membicarakan outfit apa yang akan mereka pakai besok ke mall. Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke belakang untuk melihat Nayma.
Nayma berdiri terpaku di samping meja kosong itu. Ruang kelas yang sepi seolah menertawakannya. Dia merasa bodoh. Bodoh karena berharap. Bodoh karena mengira sepotong kue bolu bisa mengalahkan kilauan mall dan keseruan nonton bioskop.
Dia berjalan pulang dengan langkah gontai. Langit sore yang jingga terlihat kelabu di matanya. Sepanjang jalan, dia menahan air mata agar tidak tumpah. Dia tidak ingin menangis di jalanan.
Keesokan harinya, hari Minggu yang seharusnya cerah. Nayma sedang berbaring di kamarnya, bermain ponsel dengan malas. Ibunya sedang memanggang kue di dapur, wanginya tercium sampai ke kamar, tapi selera makan Nayma sudah hilang entah kemana.
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Instagram. Postingan baru dari Syabilla.
Jari Nayma gemetar saat membuka aplikasi itu. Dan di sana, di layar ponselnya yang retak sedikit di ujungnya, terpampang sebuah foto.
Foto Syabilla dan Anara. Mereka berada di depan cermin toilet mall yang estetik, memegang minuman boba, tersenyum lebar sambil membuat tanda peace dengan jari. Keduanya terlihat cantik, modis, dan bahagia.
Tapi yang membuat dada Nayma benar-benar hancur bukanlah fotonya, melainkan caption yang ditulis Syabilla di bawahnya.
Sunday funday! Hari yang menyenangkan bersama sahabat terbaikku @anara_cantik. Next time lagi ya!
Sahabat terbaikku.
Dua kata itu menghantam Nayma lebih keras daripada tamparan fisik. Sahabat terbaik? Secepat inikah gelar itu berpindah? Tiga tahun kebersamaan mereka, tawa dan tangis yang mereka bagi, janji di bawah pohon mangga itu... apakah semua itu tidak ada artinya dibandingkan beberapa minggu pertemanan dengan Anara yang seru dan kekinian?
Oh, jadi sekarang Anara sahabat terbaiknya? Lalu aku ini apa...? gumam Nayma.
Pertahanan dirinya runtuh. Air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah ruah. Membasahi bantal, membasahi layar ponsel. Nayma menangis dalam diam, merasakan betapa perihnya digantikan. Dia merasa kecil, tidak berharga, dan yang paling menyakitkan: dia merasa sendirian di dunia ini.
Kue bolu di dapur sudah matang, tapi persahabatan Nayma dan Syabilla sepertinya sudah hangus terbakar ego dan waktu.
UNDANGAN YANG TERABAIKAN
Sabtu sudah di depan mata. Bagi anak sekolah, akhir pekan adalah oase. Waktu untuk melepas penat dan melakukan hal-hal yang disukai. Bagi Nayma, akhir pekan ini adalah kesempatan. Sebuah peluang terakhir yang ingin ia perjuangkan untuk merekatkan kembali retakan yang semakin lebar di antara dirinya dan Syabilla.
Sudah beberapa hari ini Nayma merencanakan sesuatu. Ibunya berjanji akan membuat kue bolu pandan keju—varian baru, bukan bolu susu seperti biasa—pada hari Minggu. Nayma berpikir, ini momen yang tepat. Dulu, Syabilla tidak pernah menolak ajakan makan kue buatan ibunya. Makanan selalu bisa menyatukan mereka. Mungkin, dengan duduk berdua di teras rumah sambil makan kue, suasana canggung ini bisa mencair. Mereka bisa tertawa lagi seperti dulu.
Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan susah payah, Nayma menghampiri meja Syabilla saat jam pulang sekolah. Kelas sudah mulai sepi. Anara sedang di depan kelas, memakai sepatunya. Syabilla masih sibuk memasukkan buku ke tas.
Tangan Nayma sedikit gemetar dan dingin. Dia meremas ujung roknya.
Bill... panggil Nayma pelan.
Syabilla menoleh. Oh, hai Nay. Kenapa? Belum pulang?
Belum. Anu... Nayma menarik napas panjang. Besok kan hari Minggu. Mau main ke rumahku nggak? Bunda katanya mau bikin kue bolu pandan keju. Resep baru loh. Kamu pasti suka.
Mata Nayma menatap Syabilla penuh harap. Ada binar kerinduan yang tersirat di sana. Kerinduan akan sahabatnya yang hilang ditelan kesibukan baru.
Syabilla terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memegang kotak pensil berhenti bergerak. Wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir, lalu berubah menjadi rasa bersalah yang tipis.
Eh... aduh, gimana ya, Nay, ucap Syabilla ragu.
Kenapa? Kamu sibuk? tanya Nayma, harapannya mulai retak.
Besok itu... aku sama Anara udah janjian mau pergi ke mall. Mau nonton film yang baru rilis itu, terus cari bahan buat tugas kerajinan tangan sekalian, jawab Syabilla. Kapan-kapan aja deh ya, Nay?
Jantung Nayma mencelos. Rasanya seperti jatuh dari ketinggian tanpa pengaman. Mall lagi. Anara lagi.
Anara yang mendengar percakapan itu menoleh dan ikut nimbrung. Iya, Nayma. Kami mau belanja keperluan buat bikin kerajinan tangan dari kain flanel itu loh. Sekalian mau nyoba ramen yang lagi hits di foodcourt. Maaf ya.
Seketika dada Nayma sesak seperti ditusuk duri. Rasa sakitnya fisik, nyeri di ulu hati. Penolakan itu halus, tapi dampaknya brutal. Syabilla lebih memilih pergi ke mall dengan teman barunya daripada menghabiskan waktu bersamanya seperti tradisi lama mereka.
Oh, gitu ya... suara Nayma terdengar parau. Dia memaksakan senyum, tapi bibirnya bergetar. Gapapa deh. Lain kali aja.
Maaf ya, Nay. Nanti deh aku kabarin kalau kosong, kata Syabilla, lalu kembali sibuk dengan tasnya. Ayo, An, nanti keburu sore!
Syabilla bergegas menghampiri Anara. Mereka berdua berjalan keluar kelas sambil membicarakan outfit apa yang akan mereka pakai besok ke mall. Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke belakang untuk melihat Nayma.
Nayma berdiri terpaku di samping meja kosong itu. Ruang kelas yang sepi seolah menertawakannya. Dia merasa bodoh. Bodoh karena berharap. Bodoh karena mengira sepotong kue bolu bisa mengalahkan kilauan mall dan keseruan nonton bioskop.
Dia berjalan pulang dengan langkah gontai. Langit sore yang jingga terlihat kelabu di matanya. Sepanjang jalan, dia menahan air mata agar tidak tumpah. Dia tidak ingin menangis di jalanan.
Keesokan harinya, hari Minggu yang seharusnya cerah. Nayma sedang berbaring di kamarnya, bermain ponsel dengan malas. Ibunya sedang memanggang kue di dapur, wanginya tercium sampai ke kamar, tapi selera makan Nayma sudah hilang entah kemana.
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Instagram. Postingan baru dari Syabilla.
Jari Nayma gemetar saat membuka aplikasi itu. Dan di sana, di layar ponselnya yang retak sedikit di ujungnya, terpampang sebuah foto.
Foto Syabilla dan Anara. Mereka berada di depan cermin toilet mall yang estetik, memegang minuman boba, tersenyum lebar sambil membuat tanda peace dengan jari. Keduanya terlihat cantik, modis, dan bahagia.
Tapi yang membuat dada Nayma benar-benar hancur bukanlah fotonya, melainkan caption yang ditulis Syabilla di bawahnya.
Sunday funday! Hari yang menyenangkan bersama sahabat terbaikku @anara_cantik. Next time lagi ya!
Sahabat terbaikku.
Dua kata itu menghantam Nayma lebih keras daripada tamparan fisik. Sahabat terbaik? Secepat inikah gelar itu berpindah? Tiga tahun kebersamaan mereka, tawa dan tangis yang mereka bagi, janji di bawah pohon mangga itu... apakah semua itu tidak ada artinya dibandingkan beberapa minggu pertemanan dengan Anara yang seru dan kekinian?
Oh, jadi sekarang Anara sahabat terbaiknya? Lalu aku ini apa...? gumam Nayma.
Pertahanan dirinya runtuh. Air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah ruah. Membasahi bantal, membasahi layar ponsel. Nayma menangis dalam diam, merasakan betapa perihnya digantikan. Dia merasa kecil, tidak berharga, dan yang paling menyakitkan: dia merasa sendirian di dunia ini.
Kue bolu di dapur sudah matang, tapi persahabatan Nayma dan Syabilla sepertinya sudah hangus terbakar ego dan waktu.