BAB 4: DIALOG TANPA SUARA
Kami berdiri di sana—satu manusia, satu entitas non-materi—terjebak dalam kebekuan waktu. Hujan di luar masih menderu, tapi bunyinya terdengar jauh sekali, seolah kami berada di dalam gelembung kedap suara.
Ketakutanku perlahan mulai surut, digantikan oleh kebingungan dan rasa ingin tahu yang aneh. Jika dia berniat jahat, aku pasti sudah mati atau setidaknya terlempar ke dinding seperti di film-film horor murahan. Tapi dia tidak melakukan apa-apa selain berdiri di sana dengan aura melankolis yang kental.
Perlahan, aku menurunkan tanganku. Kuberanikan diri menatap matanya lagi. Kali ini, kegelapan di matanya tidak lagi terasa mengancam, melainkan seperti kolam air yang tenang dan dalam.
"Kau... tidak akan menyakitiku?" tanyaku, kali ini lebih tenang meski masih waspada.
Sosok itu menggeleng pelan. Gerakannya sangat halus, rambutnya ikut berayun lembut seolah ditiup angin yang tak kurasakan.
Dia kembali menunjuk ke buku di lantai. Kali ini, dia membuat gerakan mengambil. Dia ingin aku mengambil buku itu.
"Kau... terikat dengan buku ini?" tanyaku lagi, mencoba menerapkan logika pada situasi yang tidak logis. Dalam banyak literatur fiksi dan legenda urban, roh sering kali terikat pada objek fisik. Sebuah jangkar.
Dia mengangguk. Kali ini ada sedikit binar harapan di mata hitamnya.
Aku menelan ludah. Kakiku gemetar saat aku melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Hawa dingin di dekatnya sangat intens, membuat kulitku merinding hebat. Aku berjongkok, tanganku gemetar saat meraih buku kulit itu.
Saat jari-jariku menyentuh sampul buku, sosok perempuan itu berkedip, tubuhnya menjadi sedikit lebih transparan sejenak, lalu kembali memadat. Ada koneksi. Pasti ada koneksi.
Aku mengangkat buku itu dan berdiri. Sekarang aku memegangnya di depan dada, seolah buku itu adalah perisai.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
Dia tidak bisa menjawab. Dia menatapku, lalu menatap sekeliling perpustakaan. Tatapannya menerawang, menyapu rak-rak buku dengan kerinduan yang mendalam. Seolah dia sudah berada di sini sangat lama, terperangkap dalam kegelapan, menunggu seseorang menemukannya.
Tiba-tiba, dia melayang ke sampingku. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan "medan listrik" statis dari tubuhnya menggelitik lengan kiriku. Dia menunjuk halaman buku yang masih terbuka di tanganku. Gambar sketsa wajahnya masih di sana, tapi anehnya, tetesan air mata yang tadi kulihat sudah kering, meninggalkan noda samar di kertas.
Dia meletakkan telapak tangannya di atas halaman buku itu—tembus pandang. Tangannya menembus kertas, tapi aku merasakan sensasi dingin di telapak tanganku yang menopang buku dari bawah.
Kemudian, sebuah gambaran melintas di kepalaku. Bukan kata-kata, tapi image.
Gambar seseorang sedang membaca. Gambar seseorang sedang duduk menemani. Gambar kehangatan.
"Kau... ingin ditemani?" tebakku, merasa konyol tapi entah kenapa yakin itu jawabannya.
Dia tersenyum.
Itu adalah senyum pertamanya. Sangat tipis, sangat samar, tapi cukup untuk mengubah wajahnya yang menyeramkan menjadi sesuatu yang... indah. Cantik, tapi tragis.
Dia mengangguk antusias, seperti anak kecil yang baru saja ditawari permen.
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggungku ke rak buku. Kakiku lemas, jadi aku merosot duduk di lantai. Ini gila. Aku, si juara olimpiade sains tingkat sekolah, sedang berkomunikasi dengan hantu di pojok perpustakaan saat badai.
"Baiklah," bisikku, menyerah pada nasib. "Namaku... aku belum akan menyebutkan namaku dulu. Tapi, karena kau tidak bisa bicara, aku harus memanggilmu sesuatu."
Aku menatap sketsa di buku itu, lalu menatap wajahnya. Ada aura misterius yang menyelimutinya, sesuatu yang purba namun lembut.
"Rea," ucapku tiba-tiba. Nama itu melintas begitu saja di kepalaku. Singkat. Sederhana. Artinya 'mengalir' dalam bahasa Yunani kuno—seperti air, seperti waktu, seperti eksistensinya yang cair. "Boleh aku memanggilmu Rea?"
Hantu perempuan itu memiringkan kepalanya, seolah menimbang bunyi nama itu. Lalu, dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. Matanya menyipit membentuk bulan sabit terbalik. Dia menyukainya.
Rea.
Saat itu, aku belum sadar. Dengan memberikan nama, aku telah memperkuat ikatannya dengan dunia ini. Dan dengan menerimanya, aku telah menandatangani kontrak tak tertulis yang akan mengubah hidupku selamanya.
Namun, momen kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki berat mendekat.
"Halo? Siapa di sana? Lampu arsip kok menyala?"
Itu suara Pak Darmo.
Rea tersentak. Wajahnya berubah panik. Dia menatapku, lalu menatap arah datangnya suara. Tubuhnya mulai berkedip-kedip tidak stabil, seperti lampu neon yang rusak.
Kami berdiri di sana—satu manusia, satu entitas non-materi—terjebak dalam kebekuan waktu. Hujan di luar masih menderu, tapi bunyinya terdengar jauh sekali, seolah kami berada di dalam gelembung kedap suara.
Ketakutanku perlahan mulai surut, digantikan oleh kebingungan dan rasa ingin tahu yang aneh. Jika dia berniat jahat, aku pasti sudah mati atau setidaknya terlempar ke dinding seperti di film-film horor murahan. Tapi dia tidak melakukan apa-apa selain berdiri di sana dengan aura melankolis yang kental.
Perlahan, aku menurunkan tanganku. Kuberanikan diri menatap matanya lagi. Kali ini, kegelapan di matanya tidak lagi terasa mengancam, melainkan seperti kolam air yang tenang dan dalam.
"Kau... tidak akan menyakitiku?" tanyaku, kali ini lebih tenang meski masih waspada.
Sosok itu menggeleng pelan. Gerakannya sangat halus, rambutnya ikut berayun lembut seolah ditiup angin yang tak kurasakan.
Dia kembali menunjuk ke buku di lantai. Kali ini, dia membuat gerakan mengambil. Dia ingin aku mengambil buku itu.
"Kau... terikat dengan buku ini?" tanyaku lagi, mencoba menerapkan logika pada situasi yang tidak logis. Dalam banyak literatur fiksi dan legenda urban, roh sering kali terikat pada objek fisik. Sebuah jangkar.
Dia mengangguk. Kali ini ada sedikit binar harapan di mata hitamnya.
Aku menelan ludah. Kakiku gemetar saat aku melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Hawa dingin di dekatnya sangat intens, membuat kulitku merinding hebat. Aku berjongkok, tanganku gemetar saat meraih buku kulit itu.
Saat jari-jariku menyentuh sampul buku, sosok perempuan itu berkedip, tubuhnya menjadi sedikit lebih transparan sejenak, lalu kembali memadat. Ada koneksi. Pasti ada koneksi.
Aku mengangkat buku itu dan berdiri. Sekarang aku memegangnya di depan dada, seolah buku itu adalah perisai.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
Dia tidak bisa menjawab. Dia menatapku, lalu menatap sekeliling perpustakaan. Tatapannya menerawang, menyapu rak-rak buku dengan kerinduan yang mendalam. Seolah dia sudah berada di sini sangat lama, terperangkap dalam kegelapan, menunggu seseorang menemukannya.
Tiba-tiba, dia melayang ke sampingku. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan "medan listrik" statis dari tubuhnya menggelitik lengan kiriku. Dia menunjuk halaman buku yang masih terbuka di tanganku. Gambar sketsa wajahnya masih di sana, tapi anehnya, tetesan air mata yang tadi kulihat sudah kering, meninggalkan noda samar di kertas.
Dia meletakkan telapak tangannya di atas halaman buku itu—tembus pandang. Tangannya menembus kertas, tapi aku merasakan sensasi dingin di telapak tanganku yang menopang buku dari bawah.
Kemudian, sebuah gambaran melintas di kepalaku. Bukan kata-kata, tapi image.
Gambar seseorang sedang membaca. Gambar seseorang sedang duduk menemani. Gambar kehangatan.
"Kau... ingin ditemani?" tebakku, merasa konyol tapi entah kenapa yakin itu jawabannya.
Dia tersenyum.
Itu adalah senyum pertamanya. Sangat tipis, sangat samar, tapi cukup untuk mengubah wajahnya yang menyeramkan menjadi sesuatu yang... indah. Cantik, tapi tragis.
Dia mengangguk antusias, seperti anak kecil yang baru saja ditawari permen.
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggungku ke rak buku. Kakiku lemas, jadi aku merosot duduk di lantai. Ini gila. Aku, si juara olimpiade sains tingkat sekolah, sedang berkomunikasi dengan hantu di pojok perpustakaan saat badai.
"Baiklah," bisikku, menyerah pada nasib. "Namaku... aku belum akan menyebutkan namaku dulu. Tapi, karena kau tidak bisa bicara, aku harus memanggilmu sesuatu."
Aku menatap sketsa di buku itu, lalu menatap wajahnya. Ada aura misterius yang menyelimutinya, sesuatu yang purba namun lembut.
"Rea," ucapku tiba-tiba. Nama itu melintas begitu saja di kepalaku. Singkat. Sederhana. Artinya 'mengalir' dalam bahasa Yunani kuno—seperti air, seperti waktu, seperti eksistensinya yang cair. "Boleh aku memanggilmu Rea?"
Hantu perempuan itu memiringkan kepalanya, seolah menimbang bunyi nama itu. Lalu, dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. Matanya menyipit membentuk bulan sabit terbalik. Dia menyukainya.
Rea.
Saat itu, aku belum sadar. Dengan memberikan nama, aku telah memperkuat ikatannya dengan dunia ini. Dan dengan menerimanya, aku telah menandatangani kontrak tak tertulis yang akan mengubah hidupku selamanya.
Namun, momen kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki berat mendekat.
"Halo? Siapa di sana? Lampu arsip kok menyala?"
Itu suara Pak Darmo.
Rea tersentak. Wajahnya berubah panik. Dia menatapku, lalu menatap arah datangnya suara. Tubuhnya mulai berkedip-kedip tidak stabil, seperti lampu neon yang rusak.