BAB 1

BAB 1

SELEPAS TRAUMA

BAB 1

๐Ÿ—“ 07 Jun 2025 ๐Ÿ‘ 831 Views
BAB 1
JEJAK DI TEPI KOLAM

Sore itu matahari tergelincir malas di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang memantul malu-malu di permukaan air. Aku duduk bersila di tepi kolam ikan samping rumah, sebuah kebiasaan lama yang entah bagaimana selalu berhasil menjadi obat penenang bagiku. Di hadapanku, ikan-ikan koi dengan corak merah, putih, dan hitam berenang meliuk-liuk, seolah menarikan tarian kebebasan yang tak pernah kusut oleh benang kusut kehidupan manusia. Gerakan ekor mereka menciptakan riak-riak kecil, memecah bayangan wajahku yang terpantul di sana. Wajah Chairin, gadis remaja kelas sembilan yang seharusnya sedang sibuk memikirkan rumus Fisika atau menghafal tanggal-tanggal bersejarah, namun justru terjebak dalam labirin ingatan.

Ponsel di tanganku bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar yang menyala terang, kontras dengan senja yang mulai meremang. Jempolku bergerak refleks, mengusap layar, dan seketika itu pula darahku seakan berhenti mengalir. Jantungku, yang tadi berdetak tenang seirama dengan gemericik air kolam, tiba-tiba memalu dada dengan keras.

Sebuah nama akun muncul di sana. Mengikuti profilku.

Melody.

Nama itu. Enam huruf yang tersusun rapi itu seharusnya hanyalah sebuah kata yang indah, sebuah alunan nada yang menyenangkan. Namun bagiku, nama itu adalah mantra pemanggil badai. Napasku tercekat. Ingatan itu, yang selama ini berusaha kubenamkan ke dasar samudra pikiran yang paling dalam, tiba-tiba mengapung kembali ke permukaan seperti bangkai kapal yang menolak dilupakan sejarah.

Aku meletakkan ponsel itu di atas rerumputan jepang yang tumbuh rapi, seolah benda itu baru saja menyengatku. Mataku kembali menatap kolam, tapi kali ini aku tak lagi melihat ikan-ikan yang riang. Aku melihat masa lalu. Aku melihat diriku yang kecil, rapuh, dan ketakutan.

Namaku Chairin. Orang-orang di sekolah Tsanawiyah favorit di Kota Padang ini mengenalku sebagai gadis yang aktif. Mereka melihatku tertawa lebar di kantin bersama Zuhra, berdiskusi seru dengan Cinta, atau berlarian mengejar bola voli bersama Alexsya dan Aulia. Di mata mereka, Chairin adalah definisi dari masa remaja yang normal dan bahagia. Tapi mereka tidak tahu, di balik tawa yang kutebar itu, ada retakan-retakan halus di jiwaku yang belum sepenuhnya sembuh. Retakan yang ditinggalkan oleh trauma masa lalu, sebuah kisah kelam yang bermula dari perpindahan demi perpindahan.

Lamunanku melayang jauh, menembus batas waktu, kembali ke masa ketika aku baru berusia lima tahun. Saat itu, duniaku masih sesederhana permen gulali dan boneka beruang. Ayahku, seorang pegawai negeri yang berdedikasi tinggi, mendapat surat tugas baru. Mutasi adalah kata yang sering kudengar di meja makan, sebuah kata yang berarti petualangan bagiku saat itu, namun menjadi awal dari segalanya.

Papaku dipindahtugaskan ke Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya ke sebuah kota kecil bernama Baturaja. Aku ingat betul hari itu. Koper-koper besar berbaris di ruang tamu seperti prajurit yang siap berperang. Mama sibuk membungkus perabot pecah belah dengan koran bekas, sementara aku berlarian mengelilingi tumpukan kardus dengan riang gembira.

Airin, ayo pakai sepatunya, Papa memanggil dengan suara baritonnya yang lembut.

Aku, dengan seragam Taman Kanak-Kanak yang sedikit kebesaran, berlari memeluk kakinya. Kita mau naik mobil jauh ya, Pa? tanyaku polos.

Papa tersenyum, mengusap kepalaku. Iya, Sayang. Kita akan pergi ke tempat yang indah. Di sana banyak sungai, banyak teman baru.

Meninggalkan Kota Padang saat itu tidak terasa berat bagiku. Di usia lima tahun, konsep perpisahan belum benar-benar kutahami. Bagiku, selama ada Papa dan Mama, dunia akan baik-baik saja. Aku tidak tahu bahwa roda nasib sedang berputar, membawaku menuju serangkaian peristiwa yang akan membentuk siapa aku hari ini.

Mobil kami melaju meninggalkan pekarangan rumah, meninggalkan kota kelahiran yang hangat. Sepanjang perjalanan melintasi punggung Pulau Sumatera, aku menempelkan wajah di kaca jendela, menatap deretan pohon sawit dan bukit barisan yang sambung-menyambung. Baturaja menyambut kami dengan udaranya yang berbeda, dengan dialek bahasa yang asing di telingaku, namun terasa ramah.

Di kota inilah, babak pertama masa kecilku dimulai. Sebuah babak yang penuh warna, penuh piala, dan penuh tawa, sebelum akhirnya takdir membawaku ke tempat di mana mimpi buruk itu bernama Melody. Di tepi kolam ikan sore ini, bayangan wajah Melody di layar ponsel seolah menertawakanku, menyeretku paksa untuk membuka kembali lembaran buku harian yang sudah lama ingin kubakar.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G