BAB 1

BAB 1: DEBU KOTA DAN JEJAK YANG TERTINGGAL

SEMERU

BAB 1: DEBU KOTA DAN JEJAK YANG TERTINGGAL

πŸ—“ 26 Sep 2025 πŸ‘ 605 Views
BAB 1: DEBU KOTA DAN JEJAK YANG TERTINGGAL

Semarang bukan sekadar kota bagi Akil; ia adalah labirin ingatan yang panas dan lembap. Sejak kakinya pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini pada usia tiga tahun, aroma aspal yang terpanggang matahari seolah telah menyatu dengan napasnya. Pindahan dari Jakarta hampir dua dekade lalu itu seharusnya menjadi awal baru bagi keluarganya, sebuah transisi yang dipicu oleh tuntutan pekerjaan ayahnya. Namun, bagi Akil yang kini berada di semester empat perkuliahan, Semarang adalah tempat di mana waktu seolah membeku di balik pintu rumah mereka yang tenang.

Setiap pagi, Akil terbangun oleh suara hiruk pikuk kendaraan yang melintas di depan rumah mereka yang terletak di salah satu sudut padat kota. Ia akan menatap langit-langit kamar, membayangkan garis cakrawala yang berbedaβ€”bukan deretan gedung atau kabel listrik yang semrawut, melainkan siluet gunung yang gagah menantang langit. Di rumah itu, ia hanya tinggal bersama ibu dan adik perempuannya yang masih duduk di kelas 10 SMA. Ayahnya tidak lagi ada di sana untuk membagi kopi di pagi hari atau sekadar menepuk bahunya dengan bangga.

Kehadiran sosok ayah dalam rumah itu kini hanya berupa residu. Meskipun ayahnya sudah tidak bekerja dan tidak lagi mendiami ruang yang sama dengan mereka, bayang-bayangnya terasa lebih nyata daripada perabotan yang ada. Akil sering kali merasa beban untuk menjadi tulang punggung keluarga ada di pundaknya yang masih muda. Itulah alasan tunggal mengapa ia memacu dirinya di bangku kuliah; ia ingin segera mendapatkan pekerjaan yang layak demi meringankan beban ibunya dalam menanggung biaya hidup mereka bertiga.

Namun, di sela-sela tumpukan buku diktat dan tugas kuliah yang membosankan, ada satu api yang tidak pernah padam. Sebuah impian yang tumbuh sejak kecil, terawat dalam diam, dan tersembunyi di balik senyum sopannya kepada sang ibu: mendaki gunung. Baginya, mendaki bukan sekadar hobi, melainkan sebuah cara untuk mengenali sosok pria yang fotonya tersimpan rapi di laci meja rias ibunya.

Setiap kali Akil menyinggung tentang aroma pinus atau keindahan puncak, udara di rumah itu mendadak menjadi dingin. Ibunya memiliki ketakutan yang berakar sangat dalam, sebuah trauma yang telah mengeras menjadi tembok perizinan yang mustahil ditembus. Ibunya selalu takut jika sesuatu yang buruk menimpa Akil, persis seperti apa yang telah merenggut kebahagiaan mereka di masa lalu. Baginya, Akil dan adiknya adalah sisa-sisa dunianya yang harus dijaga dengan proteksi yang menyesakkan.

Sore itu, saat matahari Semarang mulai meredup dan menyisakan semburat jingga yang kusam, Akil duduk di teras rumah. Ia memandangi sepatunya yang usang, membayangkan jika sepatu itu suatu saat akan menginjak tanah vulkanik yang kasar. Ia tahu, tinggal menunggu waktu sebelum keinginan ini meledak kembali, meski ia menyadari risiko bahwa kejujurannya mungkin akan melukai hati ibunya sekali lagi.

Akil menarik napas panjang, namun aroma debu jalanan yang masuk ke paru-parunya terasa begitu menyesakkan, seolah memperingatkannya bahwa impiannya mungkin akan terkubur di bawah beton kota ini selamanya.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
Kembali ke Depan

Diskusi 0

G